///Gagal dalam persahabatan = gagal dalam pernikahan?

Gagal dalam persahabatan = gagal dalam pernikahan?

Dunia tidak mengenal akan persahabatan sejati, karena persahabatan yang sejati hanya dapat terjadi jika didasari oleh kasih Tuhan. Namun syukurlah, bagi anak-anak Allah yang telah menerima Yesus di dalam hatinya sebagai Tuhan, persahabatan yang sejati menjadi suatu hal yang sangat mungkin untuk dialami, karena kasih Tuhan ada di dalam hatinya. Hanya saja, proses pembaharuan akal budi (Roma 12:2) tetap harus terus dialami oleh setiap anak Tuhan yang ingin membangun persahabatan yang sejati. Inilah salah satu sebabnya juga mengapa pernikahan perlu dijalin di antara sesama anak Tuhan, bukan dengan dia yang belum memiliki Tuhan di dalam hatinya.

Selanjutnya, kasih Tuhan bukanlah kasih yang egois atau berpusatkan pada diri sendiri. Itulah sebabnya, kunci untuk dapat membangun pesahabatan yang sejati adalah belajar memusatkan perhatian kepada orang lain, lebih daripada kepada diri sendiri. Belajar dari Yesus untuk membangun persahabatan sejati adalah keputusan yang tepat. Karena Yesus selalu memakai metode kasih ini untuk membangun hubungan-hubungan selama ia melayani sebagai manusia. Memusatkan perhatian kepada orang lain adalah salah satu prinsip yang teguh dari persahabatan. Jangan pernah berbicara panjang-lebar tentang diri anda; tunggu sampai orang lain bertanya. Sebaliknya, berusahalah supaya orang lain itu memberitahukan kepada Anda tentang dirinya sendiri. Ajukanlah banyak-banyak pertanyaan dan dengarkanlah jawabannya.

Salah satu cara terbaik untuk mulai membangun persahabatan adalah dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berfokus pada kepentingan-kepentingan orang lain. Sebagian besar orang suka untuk membicarakan diri mereka sendiri, dan ini adalah jalan yang baik untuk membantu mereka merasa nyaman dan mendapatkan kepercayaan mereka. Namun, jangan bertanya secara tidak tepat juga. Menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang tepat adalah hal yang sangat penting. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dikelompokkan menjadi empat bidang topik sesuai dengan tingkat kedekatan hubungan persahabatan, yaitu keluarga, pendidikan, minat dan hal-hal rohani.

Tingkat pertama dalam membangun persahabatan adalah bertanya tentang keluarga mereka. Mengapa keluarga? Karena umumnya, tidak ada manusia lain yang lebih disayangi oleh setiap orang selain keluarganya. Pertanyaan seperti: “Siapa nama orang tua Anda?” dan sejenisnya dapat menjadi pertanyaan yang tepat. Tujuannya adalah membuat orang lain berbicara dan bercerita (karena itu, gunakan pertanyaan “terbuka”, bukan pertanyaan “tertutup” yang dapat dijawab hanya dengan kata “ya” atau “tidak”), namun hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang terlalu pribadi dan menyelidiki yang dapat membuat sahabat baru ini merasa terusik.

Tingkat kedua adalah percakapan tentang pendidikan. Karena hampir setiap orang mempunyai latar belakang pendidikan pada tingkat tertentu, setiap orang tentu juga mempunyai suatu bahan pembicaraan di topik ini. Bahkan orang yang tidak menyelesaikan sekolahnya dapat berbicara tentang gagalnya sistem pendidikan. Contoh pertanyaan seperti: “Sampai kelas berapa Anda bersekolah ?” dan sejenisnya. Namun, hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat sahabat baru ini merasa malu karena rendahnya tingkat pendidikannya.

Pada tingkat ketiga, pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat mereka berbicara tentang minat mereka adalah suatu cara yang sangat bagus untuk mengetahui apakah Anda mempunyai kesamaan dengan mereka. “Apakah Anda suka berolahraga? Olahraga apa yang Anda tekuni?” dan sejenisnya. Biasanya, asalkan kita tidak terlalu bersikap mendesak, setiap orang suka berbicara tentang hal-hal yang diminatinya.

Pada tingkat terdalam, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah rohani. Kerinduan untuk mengetahui pertumbuhan rohani dari sahabat yang sedang dibangun adalah hal yang sangat penting. Mengapa demikian? Karena, dengan demikian Tuhan dapat memberikan beban di dalam hati kita untuk mendukungnya dalam doa, agar pengenalannya akan Tuhan terus bertumbuh.  Fokus terhadap hal-hal rohani dari sahabat akan membawa kita ke dalam pergaulan yang sehat dan menjauhkan diri kita terhadap keinginan-keinginan untuk membangun hubungan yang terlalu jauh yang melebihi dari sebuah makna persahabatan.

Inilah pentingnya persahabatan, dan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membangun persahabatan. Persahabatan yang kuat akan menjadi dasar dari pernikahan yang kuat pula, namun persahabatan yang gagal, jika diteruskan sampai ke jenjang pernikahan, biasanya akan berujung pada pernikahan yang rapuh dan rentan gagal pula, karena pernikahan pada dasarnya adalah bentuk hubungan persahabatan yang paling dalam dan paling perlu dipertahankan untuk seumur hidup.
(disadur dari buku “Waiting and Dating”, karya Myles Munroe

2015-05-28T04:48:49+07:00