Garam Palsu

Pernahkah Anda mencicipi sepiring makanan dan makanan tersebut terasa hambar? Jika hal seperti itu terjadi, biasanya tentu yang terbersit dalam pikiran kita yang mencicipi adalah makanan itu “kurang garam”. Tidak pernah kita berkata tentang makanan itu, “Garamnya tawar”. Garam identik dengan rasa asin, dan keberadaan garam pasti meniadakan hambar. Karena itu, jika kita berkata “kurang garam”, orang lain akan mengerti bahwa makanan tersebut kurang asin. Sifat dari garam adalah memberi rasa asin; jika garam tersebut tidak asin, tentu itu bukanlah garam, alias garam palsu.

 

Garam palsu? Memangnya ada garam palsu? Bagaimana bentuk dan wujudnya? Apa rasanya?

 

Kita yang hidup pada zaman sekarang tidak pernah menemukan atau bahkan tidak dapat membayangkan rasa maupun wujud dari garam palsu atau garam yang tidak memiliki rasa asin. Namun pada zaman kehidupan Yesus dahulu, di Galilea (wilayah pelayanan dan keseharian Yesus bersama murid-murid-Nya) kadang ditemukan garam yang tidak murni. Garam yang dipanen pada waktu itu tercampur dengan bahan-bahan lain, seperti butiran tanah, bebatuan, atau pasir yang kristalnya kelihatan mirip garam. Jika terkena udara yang lembab atau pengaruh-pengaruh lain, semua unsur garam asli dalam campuran itu bisa habis merembes keluar dari campuran. Yang tertinggal lalu hanyalah butiran-butiran pasir dan bebatuan, dan campuran itu tidak lagi mengandung rasa asin. Inilah yang dimaksud garam yang menjadi tawar. Garam palsu. Campuran itulah yang disebut dalam Alkitab sebagai sudah tidak berguna, selain untuk dibuang di jalan dan pada akhirnya diinjak-injak orang, menurut perkataan Yesus di Matius 5:13, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

 

Dalam Matius 5:13-16, Yesus berbicara tentang terang dan garam. Kita, murid-murid Yesus, adalah terang dan garam bagi dunia ini. Namun, jika kita sebagai murid Yesus tidak menerangi atau menggarami dunia ini, kita adalah unsur-unsur lain dalam campuran garam tadi, yaitu garam palsu alias murid palsu. Yesus dengan tegas memperingatkan kita melalui perkataan-Nya, bahwa garam yang demikian itu “tidak ada lagi gunanya”.

 

Apa contoh keberadaan garam palsu?

 

Pada zaman rasul-rasul, ada seorang wanita bernama Safira, yang merupakan anggota jemaat mula-mula di Yerusalem. Safira dan suaminya, Ananias, diceritakan mati seketika di hadapan rasul-rasul setelah suaminya membawa sebagian uang dari hasil penjualan tanahnya di hadapan rasul-rasul dan dia mendukung perbuatan suaminya itu dengan mengatakan kebohongan (Kis. 5:1-11).

 

Kala itu, jemaat mula-mula sangat erat dipersatukan oleh kasih Kristus. Mereka menganggap segala sesuatu yang mereka punyai sebagai kepunyaan bersama, dengan saling berbagi menurut kebutuhan satu sama lain. Bahkan, mereka biasa menjual apa yang mereka punya untuk dibagikan agar jemaat tidak berkekurangan. Safira dan Ananias pun berusaha mengikuti cara hidup demikian. Namun, rupanya maksud hati keduanya tidak murni. Mereka menjual sebidang tanah miliknya dan hasil dari penjualan itu hendak dipersembahkan kepada jemaat dengan dibawa ke hadapan para rasul. Safira dan Ananias mempunyai maksud lain dari urusan itu, yaitu agar orang-orang dan para rasul melihat perbuatan baik mereka. Tujuan Safira dan Ananias menjual tanah mereka bukanlah menuruti kasih dan kerelaan hati mereka untuk menolong jemaat, tetapi karena mereka tidak mau ketinggalan dari “tren” memberi saat itu dan dipandang sama baiknya dengan orang-orang yang telah memberi.

 

Mereka menyangka bahwa dengan memberi, orang-orang lain akan lebih menghargai mereka. Karena itu, mereka menahan sebagian uang hasil penjualan tanah, tetapi Safira dan suaminya berkata kepada Rasul Petrus bahwa uang yang mereka serahkan itu adalah seluruh hasil penjualan tersebut. Dengan perkataan itu, mereka bukan hanya mendustai Rasul Petrus melainkan juga telah mendustai Roh Kudus. Sayangnya, Safira sebagai istri dari Ananias bersepakat dan mendukung kesalahan konyol itu. Mereka berpikir tentu tidak ada orang yang akan tahu kebenarannya. Jadilah, pasangan suami istri itu berdosa bersama dalam kesepakatan yang bulat.

 

Seorang istri memang perlu membangun kesepakatan, perlu sehati dan sepikir dengan suami, tetapi tidak dalam hal dosa. Jika suami merencanakan dosa, hendaklah istri menegur dan menolong suami untuk berpegang pada kebenaran Firman Tuhan, bukan malah bersepakat dan mendukung suami dalam melakukan dosa dan mengikuti kedagingan. Safira dan Ananias bersepakat dalam dosa karena akar kedagingan dalam hati mereka, yaitu cinta akan uang dan keinginan untuk menikmati pujian dari orang. Itulah sebagian ciri murid palsu.

 

Seorang murid palsu hidup dengan lebih mengikuti keinginan daging, bukan mengikuti ajaran Sang Guru. Seorang murid palsu tidak mempunyai kesadaran untuk mengakui dosanya. Seorang murid palsu tidak mungkin dapat menjadi terang dan memberi rasa asin bagi dunia di sekelilingnya, bagaikan garam palsu. Tidak ada lagi rasa asin itu, karena habis tergerus oleh dosa. Sebagai murid palsu, Safira akhirnya mati menyusul suaminya karena kebohongannya di hadapan Rasul Petrus. Fungsi garam yang mempunyai kuasa untuk memberi rasa, menghancurkan kuasa kegelapan, dan mengubah unsur lain yang disentuh telah hilang dari dalam diri Safira dan Ananias. Keduanya terjebak oleh kedagingan yang akhirnya membawa kepada kebinasaan. Garam itu telah menjadi tawar, tidak dapat diasinkan kembali, sehingga pada akhirnya dibuang dan diinjak orang.

 

Bagaimana dengan kita masing-masing? Apakah tanpa sadar kita telah membiarkan berbagai unsur dosa menghilangkan unsur garam murni kita?

 

Marilah kita belajar dari kejadian yang menimpa Safira dan Ananias. Jagalah diri kita agar tetap menjadi murid sejati Tuhan Yesus dengan terus setia berjalan bersama Kristus, belajar dari Kristus, dan bertumbuh menjadi serupa Kristus, sehingga kita menjadi garam sejati yang berfungsi bagi dunia ini.

 

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yoh. 2:15-17)

2024-05-29T12:16:17+07:00