///Gereja di Era dan Musim yang Baru

Gereja di Era dan Musim yang Baru

Pandemi Covid-19 tampaknya mulai mereda pada bulan-bulan terakhir ini, setidaknya di Indonesia, dan kita mulai memasuki era atau musim kehidupan yang baru. Dari riset beberapa lembaga dan ahli di bidang yang terkait, diperkirakan bahwa Gereja secara keseluruhan akan mengalami perubahan yang sangat besar dalam cara beribadah, pelayanan, serta penjangkauannya. Kita sebagai Gereja di era dan musim baru ini harus siap mengantisipasi hal-hal di atas agar jangan tertinggal dan mengalami kemunduran.

 

Bulan lalu, saya melakukan perjalanan pelayanan ke Brasil. Di sana, gereja-gereja lokal telah diperbolehkan bertemu dengan jumlah orang 100% kapasitas ruang ibadah. Dalam perbincangan dengan gembala-gembala jemaat di beberapa kota di negara itu, saya menemukan bahwa rata-rata gereja yang tidak mempraktikkan komunitas sel mengalami mayoritas jemaatnya (70-80%) mundur dari persekutuan. Gereja-gereja yang mempraktikkan kelompok kecil (punya dan menjalankan program kelompok sel) mengalami rata-rata 50% dari jemaat masih bertahan dalam persekutuan. Namun, gereja-gereja sel murni, yaitu yang kehidupan dan pelayanannya bertumpu pada kelompok sel, justru tumbuh secara luar biasa selama pandemi ini. Pastor Paolo, Jr. dari sebuah gereja sel di kota Belo Horizonte (“Family Church”) melayani 600 orang anggota jemaat. Dia bercerita bahwa gereja mereka justru bertambah dengan 200 jiwa baru sepanjang masa pandemi. Pastor Abe Huber (“Igreja da Paz”) dengan perintisan gereja sel baru di kota Sao Paulo, mengalami pertumbuhan yang luar biasa pula di masa pandemi, dengan pelipatgandaan jumlah anggota jemaat dari 1.000 orang menjadi 2.000 orang.

 

Fenomena ini membawa saya mengamati secara khusus serta mengkaji hal-hal yang Tuhan kerjakan di tengah-tengah Gereja, khususnya dalam jaringan gereja-gereja lokal kita sendiri. Selama masa pandemi ini, ternyata ada beberapa kesimpulan penting dalam hal kehidupan Gereja di era dan musim yang baru setelah meredanya pandemi ini. Saya percaya bahwa kita dapat dan perlu menjadi gereja yang tumbuh serta berlipat ganda di era dan musim yang baru ini, dengan bermodalkan beberapa kriteria berikut:

 

  1. Bergaya Hidup Tubuh Kristus

Tuhan mengguncang Gereja melalui pandemi ini supaya Gereja dimurnikan dan berfokus pada hal-hal yang esensial. Sebelum pandemi, kita sebagai Gereja kebanyakan tidak mempraktikkan gaya hidup komunitas Tubuh Kristus. Kita lebih berfokus pada gedung, acara, program, daripada hidup berkomunitas sebagai satu tubuh. Karena itulah, Gereja masa kini akan dibawa Tuhan untuk kembali mempraktikkan pola Gereja mula-mula seperti di dalam kitab Kisah Para Rasul. Gereja mula-mula bertemu dalam persekutuan di rumah-rumah setiap hari; bukan sekadar mengadakan acara pertemuan seminggu sekali atau menjalankan program-program secara berkala, tetapi bergaya hidup sehari-hari satu tubuh dan bersama/saling. Apakah esensi dari gaya hidup Tubuh Kristus ini? Perhatikan unsur-unsur intinya menurut Kolose 2:19:

  1. Hubungan yang konstan dengan Kristus sebagai Sang Kepala;
  2. Hubungan dengan sesama anggota tubuh lewat hubungan “urat dan sendi”, yaitu hubungan kasih sehari-hari.

Gereja mula-mula bertemu setiap hari karena kota Yerusalem hanya berpenduduk kira-kira tidak lebih dari 150.000 orang (angka ini pun hanya terkumpul dan tercatat pada puncaknya, yaitu pada masa hari raya Yahudi). Dalam kondisi demikian, jemaat Gereja mula-mula dapat saling mengunjungi dari rumah ke rumah dan bertemu dalam ibadah setiap hari. Inilah yang sedang Tuhan latih pada kita agar menjadi gaya hidup sehari-hari. Bagaimana caranya? Melalui teknologi informasi: tetaplah terkoneksi melalui aplikasi komunikasi bersama, percakapan video, dan lain-lain, setiap hari. Jadi setelah pandemi mereda untuk mempraktikkan gaya hidup tubuh Kristus, gereja walaupun akan kembali bertemu secara onsite tetapi dapat didukung juga oleh pertemuan online.

 

  1. Bertemu secara hybrid, yaitu baik pertemuan langsung secara fisik (on-site) maupun virtual (online)

Pandemi menyadarkan kita semua bahwa banyak hal dapat, bahkan menjadi lebih efisien dan efektif, untuk dilakukan secara online, yaitu melalui jaringan internet. Di sisi lain, tentu banyak hal juga tetap efektif jika dilakukan secara langsung dalam pertemuan fisik. Maka setelah pandemi mereda, tren ke depan bagi Gereja ialah pertemuan yang berformat hybrid, yaitu perpaduan pertemuan langsung/fisik (on-site, di lokasi pertemuan) serta secara online. Lewat perpaduan ini, Gereja dapat mengadakan pertemuan sekaligus melayani dengan lebih maksimal dari sebelumnya, termasuk dalam bersekutu dan menjangkau jiwa secara lebih efektif daripada sebelumnya. Sistim hybrid ini akan membantu terutama gereja-gereja lokal kota besar untuk mengatasi tantangan kesibukan, kemacetan lalu lintas, atau keterbatasan karena situasi, untuk tetap dapat mempraktikkan bergereja sebagai gaya hidup sehari-hari. Beribadah, bersekutu, saling melayani, menjangkau jiwa, dan memuridkan orang kini dapat dilakukan melintasi batas-batas geografis atau situasi. Hal ini tentu akan mempercepat selesainya Amanat Agung di seluruh dunia, seperti yang dirindukan oleh Paulus, “Akhirnya, Saudara sekalian yang saya kasihi, menjelang akhir surat ini, saya mohon supaya Saudara berdoa untuk kami. Pertama-tama berdoalah supaya Firman Tuhan menyebar dengan cepat dan mendapat kemenangan di mana-mana, menyelamatkan orang di segala tempat, seperti halnya Saudara diselamatkan pada waktu Firman itu datang kepada Saudara,” (2 Tes. 3:1, FAYH).

 

  1. Beribadah sejati setiap hari

Salah satu kebenaran penting dan alkitabiah yang Tuhan kembalikan kepada Gereja melalui situasi pandemi ialah kebenaran tentang ibadah sejati dalam Roma 12:1-8. Ibadah sejati dijelaskan di ayat-ayat itu sebagai mempersembahkan tubuh secara korporat sebagai sebuah korban yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan setiap hari. Kata “ibadah” (“lateria“) yang digunakan merujuk pada tindakan para imam orang Israel yang “mempersembahkan” korban harian (Kel. 29:38-39), maka ibadah sejati itu bersifat sehari-hari. Mempersembahkan korban yang hidup berarti mempersembahkan diri kita bersama-sama dengan komunitas kita untuk menjadi sebuah korban yang hidup (seperti tubuh Kristus) untuk dipakai oleh Tuhan. Itulah Roma 12:1-8. Hal ini telah saya alami sendiri bersama komunitas. Ketika semasa pandemi ini kami mempraktikkan ibadah sejati tiap hari, kami mengalami lawatan Roh Kudus yang begitu luar biasa dan mengubah kehidupan kami masing-masing, terutama karena Roh Kudus memampukan kami untuk hidup di hadirat-Nya (coram Deo) sepanjang hari dan mengalami transformasi hati sepanjang hari. Roh Kudus juga bekerja memberi kehidupan dan menggerakkan anggota-anggota Tubuh Kristus untuk membangun Tubuh Kristus, menjangkau jiwa-jiwa, dan memuridkan jiwa-jiwa baru yang terjangkau itu. Inilah alasan mengapa setelah pandemi mereda Gereja harus tetap mempraktikkan ibadah sejati setiap hari lewat pertemuan online.

 

Ketiga kondisi ini adalah sangat penting untuk dipraktikkan oleh Gereja sesudah pandemi mereda. Inilah esensi kehidupan bergereja. Mari beradaptasi dan manfaatkan teknologi untuk mengerjakan misi Bapa pada zaman akhir ini. Kita sedang hidup di era dan musim yang baru. Teruslah peka mengenali zaman dan menemukan arah langkah Tuhan menuntun Gereja-Nya.

2021-11-26T13:05:48+07:00