///Gereja di  Era New Normal: Kembali ke Pola yang Mula-mula

Gereja di  Era New Normal: Kembali ke Pola yang Mula-mula

Pandemi Covid-19 ini kelihatannya diizinkan Tuhan untuk membawa Gereja agar merenungkan kembali pola gereja yang dipraktikkan pada masa kini. Secara teologi, kita sudah banyak mengalami perubahan sejak zaman reformasi Gereja. Namun secara eklesiologi, kita masih perlu berpikir: apakah pola bergereja yang kita terapkan sudah sesuai dengan pola gereja mula-mula di Kisah Para Rasul? Inilah saat yang paling tepat untuk mengamati apakah pola yang kita terapkan adalah pola manusia saja atau pola yang Alkitabiah.

 

Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan tampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. – 1 Korintus 3:12-13, TB

 

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak terguncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan. – Ibrani 12:28-29, TB

 

Pola yang kita terapkan akan terbukti sebagai pola manusia (kayu, rumput kering, jerami) jika terguncangkan karena tidak tahan uji. Api Tuhan akan segera menghanguskannya. Namun jika pola yang kita terapkan adalah dari Allah, pola itu akan bertahan, bahkan akan semakin berkembang. Gereja yang dibangun dengan pola yang dari Tuhan akan tahan guncangan, bahkan akan semakin berkembang di zaman akhir ini dan menuju kesempurnaan.

 

Kualitas Gereja Mula-mula

 Dalam Kisah Para Rasul 2:41-47, kita akan melihat ciri dan kualitas gereja mula-mula yang amat berbeda dari ciri dan kualitas gereja masa kini.

 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. – Kisah Para Rasul 2:43-47, TB

Apa saja ciri dan kualitasnya?

  1. Mereka semua takut akan Tuhan (ayat 43);
  2. Ada banyak mukjizat dan tanda (ayat 43);
  3. Mereka tetap bersatu (ayat 44);
  4. Harta adalah kepunyaan bersama – mereka saling berbagi harta (ayat 44-45);
  5. Gereja adalah gaya hidup sehari-hari (ayat 46);
  6. Praktik perjamuan kasih/kudus di rumah setiap hari (ayat 46);
  7. Pujian dan penyembahan sebagai gaya hidup (ayat 47);
  8. Disukai semua orang (ayat 47);
  9. Ditambahkan jiwa-jiwa setiap hari (ayat 47).

 

Amati kesembilan ciri di atas dan bandingkan dengan ciri gereja masa kini. Tentu kita akan mudah melihat bahwa gereja masa kini hampir tidak menunjukkan satu pun dari sembilan ciri gereja mula-mula tersebut. Kualitas gereja mula-mula jauh di atas kualitas gereja masa kini.

 

Pertanyaannya, mengapa gereja masa kini begitu merosot jauh dari kualitas gereja mula-mula tersebut? Lalu, mengapa pula gereja mula-mula begitu luar biasa? Marilah kita perhatikan, ayat 43 dimulai dengan kata “maka”, yang berarti kesembilan ciri tersebut merupakan dampak/hasil/buah dari suatu penyebab yang dipraktikkan sebelumnya. Penyebab ini terdapat di ayat 24.

 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. – Kisah Para Rasul 2:42, TB

 

Ternyata, gereja mula-mula bertekun dalam empat hal: pengajaran rasul-rasul, persekutuan, memecah roti, dan berdoa. Keempat hal inilah lima pekerjaan pelayanan untuk membangun tubuh Kristus (Efesus 4:11-12): pengajaran rasul-rasul (visi dan dasar apostolik); pengajaran rasul-rasul (pengajaran tentang kerajaan Allah); persekutuan dan perjamuan kasih/kudus (penggembalaan); doa sepakat yang profetik (profetik); doa sepakat yang misioner (penginjilan). Karena hal-hal mendasar inilah gereja mula-mula menghidupi gaya hidup tubuh Kristus yang sehat dan berfungsi, sehingga menghasilkan kesembilan ciri kualitas tersebut.

 

Dua Jenis Pertemuan yang Vital

Telah kita pahami bahwa gereja mula-mula mempraktikkan dua macam pertemuan yang sangat penting yang tidak bisa ditawar. Mereka bertemu di rumah-rumah dan di bait Allah.

Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, Kisah Para Rasul 2:46, TB

Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. – Kisah Para Rasul 5:42, TB

 

Dari kedua pertemuan yang dilakukan gereja mula-mula (dapat ditemukan di sepanjang Kisah Para Rasul), kita dapat melihat pola gereja mula-mula yang berbeda dengan kebanyakan gereja masa kini, yaitu praktik dua jenis pertemuan yang vital.

 

1. Unit terkecil dalam Gereja adalah komunitas di rumah-rumah yang membangun tubuh Kristus dan menghidupi gaya hidup tubuh Kristus.   
Inilah esensi dari Gereja yang Alkitabiah. Gereja bukanlah gedung, denominasi, atau acara hari Minggu saja. Gereja adalah komunitas yang mempraktikkan gaya hidup “saling”. Kebanyakan gereja lokal di masa kini hanya memiliki acara ibadah hari Minggu yang tidak mempraktikkan gaya hidup komunitas “saling”. Kalaupun mereka memiliki kelompok kecil, itu hanya kelompok kecil yang merupakan program-program pilihan yang bukan gaya hidup komunitas tubuh Kristus yang “saling”. Paulus menuliskan bagaimana gereja mula-mula yang adalah tubuh Kristus beribadah:

 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. – Kolose 3:15-16, TB

Ibadah gereja mula-mula dilakukan di rumah-rumah sebagai komunitas tubuh Kristus yang mempraktikkan gaya hidup “saling”. Mereka saling menyanyikan mazmur, kidung pujian, nyanyian baru. Mereka juga saling mengajar dan saling menasihati. Jika sebuah gereja hanya mempunyai ibadah minggu yang besar, jemaat di dalamny tidak mungkin dapat mempraktikkan gaya hidup komunitas tubuh Kristus yang “saling”.

 

2. Gereja mula-mula bertemu di Bait Allah (Serambi Salomo) untuk mendengar pengajaran rasul-rasul (diperlengkapi) untuk membangun tubuh Kristus.

Jemaat gereja mula-mula yang berkumpul di Bait Allah bukanlah melakukan ibadah rutin satu arah seperti yang dilakukan gereja masa kini dalam pertemuan besar dalam acara ibadah ritual hari Minggu. Acara ibadah raya yang demikian tentu boleh dan baik untuk dilakukan, tetapi tujuan pertemuan bersama seperti ini seharusnya ialah untuk memperlengkapi jemaat, seperti yang dilakukan oleh para rasul di Serambi Salomo.

Serambi Salomo adalah sebuah selasar panjang di luar Bait Allah yang merupakan tempat interaksi orang Yahudi dengan orang non-Yahudi, dan juga sekaligus tempat para ahli Taurat/Rabi mengajarkan ajaran mereka kepada umat yang mau belajar. Yesus pada saat mengunjungi Serambi Salomo (Yoh. 10:23) juga mengajar dan bertanya jawab dengan orang Yahudi. Jelas sekali, pertemuan gereja mula-mula di Serambi Salomo bukanlah pertemuan besar satu arah seperti ibadah raya hari Minggu gereja masa kini, tetapi pertemuan kelompok-kelompok kecil tempat rasul-rasul menurunkan pengajaran Yesus untuk diajarkan kepada seluruh jemaat dan dipraktikkan di pertemuan pada komunitas yang di rumah-rumah. Inilah pertemuan “equipping” atau pelatihan (Efesus 4:11-12), tempat para rasul memperlengkapi dan melatih semua orang kudus untuk dapat membangun tubuh Kristus di rumah-rumah. Perhatikan bahwa setelah Kisah Para Rasul pasal 8, gereja mula-mula dianiaya dan tidak diperkenankan berkumpul di Serambi Salomo lagi. Setelah itulah bentuk equipping gereja mula-mula pun berubah bentuk.

 

Saya yakin, apa pun metodenya, Gereja harus memiliki dua jenis pertemuan yang sangat vital ini, yaitu pertemuan ibadah gereja di rumah-rumah (di suatu tempat) sebagai komunitas kecil dan pertemuan ibadah equipping atau pelatihan (apa pun bentuknya). Melalui pandemi Covid-19 dan memasuki era new normal ini, kelihatannya Tuhan sedang membawa Gereja-Nya di masa kini untuk kembali ke pola Gereja yang mula-mula, sehingga kita dapat bergerak dan bertumbuh menjadi Gereja di akhir zaman yang siap menantikan kedatangan Tuhan kembali. Mari menghidupinya bersama-sama.

2020-07-25T09:27:33+00:00