///Gereja yang Membangun : Membangun Murid Sejati

Gereja yang Membangun : Membangun Murid Sejati

Pada akhir zaman ini, kita dapat melihat bahwa Tuhan sedang memurnikan Gereja-Nya, agar Gereja kembali ke pola mula-mula, yang ternyata sangat berbeda dengan gereja-gereja kebanyakan pada masa kini. Apa perbedaan keduanya? Gereja masa kini lebih banyak terdiri dari orang-orang yang belum tentu adalah murid sejati, yang mayoritas hadir di berbagai kegiatan gereja sebagai penonton-penonton yang menikmati “hiburan rohani”, tanpa sungguh-sungguh hidup sebagai murid-murid Kristus. Oleh perenungan Firman-Nya, saya percaya Tuhan akan terus memurnikan Gereja-Nya agar berhenti terseret dalam arus konsumerisme, lalu bangkit menjadi Gereja yang membangun dan menghasilkan murid-murid sejati. Inilah fokus kita yang seharusnya sebagai Gereja; kita perlu berfokus pada menjadi Gereja yang membangun murid-murid sejati. Bagaimanakah caranya? Dalam edisi bulan ini, kita akan belajar memahami lebih dalam tentang pemuridan, yaitu proses membangun dan menghasilkan murid Kristus sejati.

 

 

Arti Murid dan Pemuridan yang Sesungguhnya

Kita tidak dapat menjadi orang Kristen atau orang percaya tanpa menjadi murid Kristus. Murid Kristus adalah konsep yang identik, sama persis, dengan orang Kristen atau orang percaya. Kita memang sering mendengar di berbagai khotbah atau ajaran bahwa menjadi orang Kristen atau orang percaya adalah tahap awal dari menjadi murid Kristus. Seolah-olah, menjadi orang Kristen atau orang percaya adalah tingkat pertama atau tingkat dasar dalam perjalanan iman, kemudian tingkat berikutnya barulah menjadi murid Kristus. Ini adalah pemahaman yang salah. Akibatnya, ada orang-orang yang percaya bahwa kita cukup menjadi orang Kristen atau orang percaya, karena ini berarti sudah diselamatkan dan bisa masuk surga kelak, sedangkan menjadi murid Kristus adalah suatu pilihan atau alternatif bagi orang-orang tertentu yang terlalu serius atau fanatik saja. Sekali lagi, ini salah! Tanpa menjadi murid Kristus, siapa pun bukanlah Kristen sejati, meski beragama Kristen dan mengikuti kegiatan-kegiatan gereja. Lalu, apakah artinya menjadi murid sejati itu?

 

“Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, ‘Lihatlah Anak Domba Allah!’ Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.– Yohanes 1:35-37, TB2

 

Inilah pertama kalinya kata “murid” digunakan dalam Injil Yohanes. Kata “murid” dalam bahasa Yunani, yaitu bahasa asli penulisan injil, adalah “mathetes”, yang mempunyai arti “pengikut” atau “pemagang”. Dalam konteksnya, seorang murid pada zaman Yesus di bumi adalah seseorang yang mengikut seorang rabi (guru) sebagai pemagang, yang belajar dari rabi/gurunya itu sampai menjadi dewasa dan setara dengan sang rabi/guru.

Dalam konteks praktis kehidupan iman kita, saat menjadi percaya/Kristen kita bukan menjadi murid seorang rabi manusia, melainkan menjadi murid Kristus sendiri. Memang diperlukan seseorang yang telah lebih dahulu menjadi murid Kristus untuk membimbing kita dalam perjalanan kita mengikut Kristus sebagai murid-Nya (Matius 28:20), yaitu pemuridan, tetapi kita masing-masing harus menjalani proses sebagai murid-Nya. Sampai kapan? Sampai kita menjadi dewasa sepenuhnya dan serupa dengan Kristus.

 

 

Berjalan, Belajar, Berubah

 Bagaimana proses pertumbuhan kita sebagai murid Kristus berjalan sampai kita menjadi serupa dengan Guru kita itu?

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” – Matius 11:28-30, TB

 

Memikul “kuk” (dalam Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2 disebut dengan lebih jelas, “gandar”) adalah berjalan mengikuti arah/kendali pihak yang lebih senior dalam proses mengerjakan sesuatu. Biasanya, sebuah kuk atau gandar dipakaikan pada lembu yang senior dan lembu yang lebih muda, satu kuk/gandar untuk kedua lembu sekaligus, lalu keduanya membajak tanah ladang pertanian. Dalam konteks pemahaman Yahudi mengenai kehidupan manusia, kuk/gandar adalah otoritas pengajaran, terutama sistem penafsiran seorang rabi terhadap hukum Taurat. Setiap murid/pemagang harus berjalan mengikuti otoritas pengajaran rabinya dalam setiap langkah kehidupan. Dalam konteks perjalanan kekristenan kita, istilah ini berarti kita berada di bawah otoritas pengajaran dari Kristus sebagai Rabi dan Guru kita.

Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus di bumi berada di bawah pengajaran rabi-rabi Yahudi yang kebanyakan adalah orang Farisi, yaitu kuk/gandar yang berbeban amat berat, karena menurut pengertian manusia mana pun tuntutan hukum Taurat terlalu mustahil untuk dipenuhi dengan sempurna. Tidak seorang pun dapat menjadi benar dan kudus karena berhasil dengan sempurna mengikuti tuntutan hukum Taurat. Kepada orang-orang Yahudi yang berbeban berat itulah saat itu Yesus menyampaikan kabar baik: bahwa diri-Nya bukan rabi yang menimpakan beban berat itu kepada mereka, dan jika mereka mengikut Dia, kuk-Nya enak dan bebannya ringan. Artinya, jika orang-orang itu datang pada Yesus dan menjadi murid-Nya (memikul kuk-Nya, menanggung beban dari-Nya, belajar dari-Nya), mereka akan mendapatkan kelegaan. Puji Tuhan!

Mengikut Kristus dan menjadi murid Kristus berarti mendapatkan cara hidup baru, yang tidak lagi dibebani oleh tuntutan hukum-hukum agama tetapi dituntun dalam proses pembelajaran yang enak dan ringan oleh Dia sendiri, terus-menerus hingga kita diubahkan menjadi makin serupa dengan Dia. Yohanes 1:35-37 dan Matius 11:28-30 menunjukkan kepada kita proses bertumbuh sebagai murid Kristus, yaitu kita berjalan bersama Kristus, belajar dari Kristus, dan berubah menjadi serupa Kristus.

 

 

Berjalan Bersama Kristus

Seorang murid adalah seorang pribadi yang mengikuti rabinya ke mana pun dia pergi. Kita adalah murid-murid Kristus, dan sekarang Rabi Kristus yang kita ikuti sudah hidup menyatu dengan kita (tinggal/berada di dalam kita). Maka, langkah pertama kita mengikut Kristus adalah menyadari kehadiran-Nya terus-menerus dan senantiasa berkomunikasi dengan Kristus. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Bergantunglah pada Roh Kudus, yaitu Roh Kristus yang ada di dalam diri kita sejak kita menjadi orang percaya, karena tanpa Roh Kudus kita tidak dapat mengikut Kristus setiap saat. Roh Kudus itulah yang akan senantiasa mengingatkan kita untuk tetap mengikuti tuntunan Kristus dalam seluruh kehidupan kita.

 

Belajar dari Kristus

Seorang murid adalah seorang pemagang yang belajar dari gurunya di lapangan atau secara langsung, dalam kehidupan nyata setiap hari, bukan hanya teori. Setiap murid Kristus harus belajar hidup sama seperti Sang Rabi, sampai akhirnya kelak memiliki karakter sama seperti Rabi Kristus. Ini berarti, murid Kristus dimuridkan oleh Kristus selama 24 jam sehari, setiap hari. Sayangnya, prinsip ini sering terlupakan dalam sistem pemuridan di banyak gereja pada masa kini. Kita lebih sering menerapkan pemuridan yang tidak berfokus kepada Kristus sebagai Rabi, tetapi justru menetapkan figur-figur manusia sebagai pengajar dan otoritas mutlak. Memang diperlukan manusia sebagai pemurid perantara untuk mendampingi dan membimbing seseorang dalam proses perjalanan sebagai murid Kristus, tetapi pengajar dan otoritas utama yang mutlak tetaplah Yesus Kristus. Dialah Sang Rabi sejati. Pemurid manusia hanyalah seseorang yang menjadi contoh bagaimana mengikut Kristus karena dia telah memulai perjalanan itu lebih dahulu.

 

Berubah Menjadi Serupa Kristus

Hanya orang-orang yang terus berjalan bersama Kristus dan belajar dari Kristuslah yang dapat berubah menjadi serupa Kristus. Bagaimanakah terjadinya perubahan itu? Perubahan terjadi apabila ada pertukaran. Segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita sebagai manusia, yaitu ego dan kebiasaan-kebiasaan lama kita sejak sebelum menjadi murid Kristus, harus satu per satu ditukarkan dengan sifat-sifat dan kehendak Kristus. Siapa pun yang hidup dengan berfokus pada mempertahankan “ego” atau “keakuan” tidak mungkin berubah menjadi serupa Kristus. Contohnya, ego manusia cenderung sombong, dan ini perlu ditukarkan dengan sifat Kristus yang rendah hati; demikian pula, ego manusia cenderung garang, pemarah, dan pendendam, dan ini perlu ditukarkan dengan sifat Kristus yang lemah lembut. Ego manusiawi kita harus terus-menerus ditundukkan kepada Kristus sehingga “mati”, lalu ditukarkan dengan sifat-sifat Kristus sesuai yang dinyatakan-Nya dalam tuntunannya atas kita. Ketika ego manusiawi kita makin habis, sifat dan kehidupan Kristus pun menjadi makin nyata di dalam diri kita. Karena itulah Tuhan membawa kita setiap hari untuk diserahkan kepada kematian ego, agar kehidupan Kristus menjadi makin nyata di dalam kita (2 Kor. 4:10-11). Demikianlah terjadinya perubahan hidup seorang murid Kristus sampai menjadi serupa dengan Kristus.

 

Mari kita renungkan dan tangkap pemahaman ini. Kita seharusnya terus bertumbuh sebagai Gereja, dan inilah saatnya kita berfokus membangun setiap anggota jemaat untuk menjadi murid-murid Kristus sejati yang berjalan bersama Kristus, belajar dari Kristus, dan bertumbuh menjadi serupa Kristus. Mari melakukannya dengan sungguh-sungguh tahun ini.

2024-01-31T11:51:27+07:00