///Gereja yang Rela Dimurnikan

Gereja yang Rela Dimurnikan

Dalam edisi bulan ini, kita akan mengamati ciri terakhir pada gereja akhir zaman yang sehat: rela mengalami pemurnian dari Tuhan, sehingga Gereja menjadi makin murni dan kudus.

 

Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? – 1 Petrus 4:17-18, TB

 

Melalui berbagai peristiwa akhir zaman, termasuk pandemi Covid-19 ini, Tuhan memurnikan Gereja-Nya agar kembali kepada pola mula-mula yang sehat, yaitu kehidupan komunitas. Perhatikan kehidupan Gereja mula-mula. Awalnya, Gereja adalah sebuah komunitas, tetapi lama kelamaan Gereja telah berubah menjadi institusi (lembaga/organisasi), menjadi tradisi (ritual dan peraturan wajib), dan akhirnya menjadi korporasi (bisnis yang mengutamakan keuntungan material). Gereja telah kehilangan esensinya, yaitu kehidupan komunitas.

 

Apakah sebenarnya komunitas itu? Kata “komunitas” berasal dari kata bahasa Latin: “communitatem” atau “communitas“, dari kata dasar “communis“. Kata bahasa Latin ini terbentuk dari dua unsur, yaitu awalan “con-” yang berarti “bersama-sama, saling” dan kata dasar “munus” yang berarti “melayani, memberi”. Makna utuh “komunitas” ialah kelompok kecil yang anggotanya bersama-sama saling melayani atau memberi. Menurut makna ini, di dalam sebuah komunitas, semua anggotanya aktif berpartipasi dan tidak satu pun duduk diam menjadi penonton saja.

 

Sayangnya, pada masa sekarang kita melihat lebih banyak gereja mengutamakan penyelenggaraan acara-acara yang sekadar bersifat tontonan (show), sehingga lambat laun Gereja lebih mirip pusat hiburan Kristen daripada komunitas. Hal ini digambarkan oleh Firman Tuhan dalam 1 Korintus sebagai membangun dengan bahan-bahan yang tidak tahan api.

 

 

Bahan yang Tahan Api dan yang Tidak Tahan Api

Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. – 1 Korintus 3:11-13, TB

 

Kita dapat melihat api pengujian itu sudah dimulai, dan akan menjadi makin besar sampai puncaknya pada “hari Tuhan”. Pandemi Covid-19 adalah salah satu api pengujian yang memurnikan Gereja Tuhan. Belum pernah kita mengalami peristiwa wabah yang seluas ini, separah ini, dan sepanjang ini, secara bersamaan di seluruh dunia. Gereja seperti dipaksa untuk kembali ke kehidupan dalam kelompok-kelompok kecil. Itulah komunitas. Selama ini kita telanjur mengadopsi pola bergereja yang telah kehilangan esensinya karena kita mengutamakan tontonan, citra, dan materi. Kita telanjur membangun Gereja menggunakan bahan-bahan yang tidak tahan api: kayu, rumput kering, dan jerami; lalu ketika api pengujian datang, bahan-bahan itu terbakar habis. Terbukti, tontonan, citra, dan materi tak dapat dipertahankan di tengah-tengah amukan pandemi. Namun, kita patut bersyukur bahwa ujian sudah dimulai sekarang, sehingga kita masih dapat kesempatan memperbaikinya. Api pengujian membakar habis segalanya yang bukan berasal dari Tuhan, sehingga kita dapat kembali ke esensi yang berasal dari Tuhan, yaitu kehidupan komunitas. Inilah bahan yang tahan uji, yang digambarkan seperti emas, perak, dan batu permata.

 

Sebelum kedatangan Yesus, sebelum Tuhan menyempurnakan Gereja-Nya, Gereja itu harus kembali ke pola mula-mula yang benar. Inilah sebabnya, Gereja harus rela dimurnikan pada akhir zaman ini. Hanya ketika kita kembali ke pola bergereja mula-mula yang benar, barulah kita dapat mencapai standar Gereja akhir zaman yang dewasa dan tidak bercacat cela.

 

 

Komunitas yang Menjadi Terang dan Garam

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. – Matius 5:13-14, TB

 

Pandemi Covid-19 merupakan salah satu alat Tuhan untuk membawa Gereja kembali ke visi Kerajaan-Nya. Tuhan ingin menjadikan Gereja-Nya komunitas terang dan garam di tengah-tengah dunia ini. Inilah bentuk dan peran komunitas yang benar, yang didasarkan pada prinsip Kerajaan Allah. Bagaimana cara kerjanya?

 

  1. Komunitas yang hidup di dalam terang

Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa. – 1 Yohanes 1:7, TB

Komunitas terang adalah komunitas yang hidup di dalam terang, yang berarti hidup dalam kebenaran (keterbukaan/kejujuran), sehingga para anggotanya memiliki hubungan saling yang erat. Komunitas yang hidup di dalam terang adalah komunitas yang memiliki terang hidup.

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ”Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup. – Yohanes 8:12, TB

 

Terang hidup adalah terang yang menyala untuk menyatakan cara hidup yang benar. Yesuslah terang hidup di dalam komunitas yang hidup di dalam-Nya. Pada akhir zaman, sebagaimana dikatakan oleh Firman Tuhan, dunia akan menjadi makin gelap, tetapi terang Tuhan akan terbit atas Gereja-Nya dan bangsa-bangsa akan datang untuk mencari terang yang terbit atas Gereja-Nya itu (Yes. 60:1-4). Ini berarti jika Gereja menjadi komunitas terang, Gereja menjadi pusat solusi bagi kehidupan dunia ini.

 

  1. Komunitas yang memberi dampak baik bagi lingkungannya

Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar! – Lukas 14:34-35, TB

 

Garam pada zaman kehidupan Yesus di bumi adalah garam yang tidak murni, yang diambil dari Laut Mati dan telah bercampur dengan unsur-unsur lain yang kelihatannya seperti garam tetapi tidak asin. Kalau unsur-unsur lain itu terkena air tawar atau hujan, rasa asinnya hilang, karena rasa asin yang ada sebelumnya itu sebenarnya bersumber dari garam yang asli di dalam campuran itu. Garam yang tidak asin yang dimaksud di sini ialah campuran itu, tepatnya unsur-unsur non-garam. Kita dapat menyebutnya garam palsu. Inilah gambaran murid palsu dalam konteks kehidupan bersama dengan murid sejati. Dalam kehidupan bercampur itu, kelihatannya mereka semua adalah murid Kristus, tetapi murid palsu tidak akan mampu terasa asin. Artinya, murid palsu tidak akan memberi dampak yang baik di tengah-tengah lingkungannya.

 

Di sisi lain, garam asli dengan segala kandungan dan kemampuannya berguna dalam banyak hal. Selain manfaat rasa asinnya, garam asli punya banyak fungsi lain. Garam digunakan di ladang pertanian, untuk mencegah kekeringan dan mengubah kotoran binatang menjadi pupuk penyubur tanah. Garam pada zaman dahulu juga digunakan sebagai alat peperangan; kerajaan yang menang menaburkan garam sebagai tanda kutuk di atas tanah musuhnya (Hak. 9:45), yang menghancurkan produktivitas ladang musuhnya. Kita dapat memahami makna rohaninya, bahwa Gereja sebagai komunitas garam membawa dampak baik dengan mengubah “sampah masyarakat” menjadi “pupuk masyarakat” sehingga “ladang kehidupan masyarakat” itu menjadi produktif dan penuh keberhasilan. Gereja sebagai komunitas garam juga adalah alat peperangan yang diutus oleh Tuhan untuk menghancurkan kuasa gelap, sehingga kemenangan Kerajaan Allah dapat dinyatakan di dunia ini.

 

 

Gereja Tuhan sedang dimurnikan pada akhir zaman ini. Jangan menghindar atau bersembunyi dari pemurnian, tetapi turutlah dalam proses pemurnian itu. Melaluinya, Tuhan menjadikan kita komunitas terang dan garam, yang menjadi pusat solusi sekaligus memberi dampak baik untuk mengubah masyarakat.

2021-07-26T22:54:37+07:00