///Gereja yang sepi

Gereja yang sepi

Kulitku sangat cantik dan mulus dengan wall paper halus bermotif elegan. Begitu melewati pintu, kaki orang-orang itu seketika akan merasakan begitu halusnya aku ini, berkat permadani lembut dan tebal yang membungkus permukaan perutku. Ketika mereka mendongakkan kepala, mereka akan melihat banyak perhiasan indah yang gemerlapan menggantung di tubuhku: lampu-lampu mahal dengan beberapa warna, tetapi paling menonjol dengan warna mawar emas. Katanya, supaya aku menimbulkan kesan bangsawan dan kerajaan. Semua orang yang mengunjungiku hampir semuanya datang dengan pakaian yang terbaik. Pantas saja aku kemudian menjadi sangat berkelas!

Di dekat telinga kanan dan kiriku ada layar-layar besar dengan resolusi gambar berkualitas tinggi. Barang-barang itu tidak murah. Layar besarku itu tingginya jauh melebihi orang dewasa, dan lebarnya seperti kuda-kuda poni yang sedang dijejer menyamping. Belum lagi kusebut layar-layar kecil lainnya yang tersebar di sana sini ke segala arah dekat lambung, jantung dan pinggangku. Mewahnya aku ini! Ditambah pula lampu sorot warna-warni untuk panggung yang menghiasi leherku yang berjenjang. Waktu semuanya dinyalakan, kemegahan akan terpancar sampai ke setiap sudut.

Kenyataan bahwa aku adalah bangunan yang berkelas, membuatku kemudian menghabiskan biaya khusus untuk perawatan, mulai dari biaya listrik, kebersihan, dan bermacam-macam tetek bengek lainnya. Ada yang bilang, karena aku rumah suci, aku layak mendapat perlakuan khusus macam demikian. Betulkah aku sesuci itu? Sejujurnya, sama sekali aku tidak pernah merasa demikian. Kalau kupikir-pikir, entah sebenarnya hal apa yang membedakan aku dengan bangunan lainnya. Aku juga bingung, siapakah sebenarnya pemilik diriku ini? Pernah ada sejumlah orang yang merasa berkuasa atas aku, lalu kulihat muncul lagi yang lainnya yang merasa bahwa merekalah yang lebih berkuasa untuk menentukan bagaimana jadinya aku. Siapa sesungguhnya tuan atas aku? Mungkin karena aku begitu berharganya sehingga perihal aku ini tak pelak menjadi bahan kekisruhan yang tak kunjung berhenti. Ada-ada saja ragam perdebatan yang bisa kutemukan di antara mereka.

Aku sebenarnya iri dengan rumah kediaman yang berada di tempat pemukiman. Kulihat, mereka itu tak pernah kosong karena selalu dihangatkan oleh orang-orang yang mereka sebut dengan keluarga. Itu pasti menyenangkan, karena anggota-anggota keluarga, bahkan kadang ditambah dengan tamu-tamunya, dapat dengan bebas bercengkarama, berbincang-bincang, dan bergurau. Rumah di pemukiman pun pasti tidak kesepian, karena berdiri berdekatan dengan rumah-rumah lainnya yang menempel di kanan dan kiri. Sedangkan aku? Aku di sini berdiri sendiri sebagai bangunan sakral, dan begitu orang pergi satu per satu, aku menjadi tak lebih dari sebuah bangunan kosong yang gelap, sepi dan kedinginan. Yang setiap hari rutin menemaniku biasanya adalah petugas cleaning service atau security.

Dulu aku begitu bahagia, ketika paku-paku ditancapkan di tubuhku, ketika cat memulas tubuhku, ketika wall paper itu dilekatkan ke kulitku, ketika permadani hangat itu pertama kali digelar di atas perutku. Aku begitu bangga akan penciptaku yang berkata bahwa aku akan dijadikan “rumah Tuhan”. Waktu itu, rasanya tidak sabar menunggu kaki-kaki kecil mengisi kehidupanku. Aku membayangkan padaku terkumpul orang-orang yang akan membawa perubahan. Sebab kudengar, di luar sana ada banyak masalah yang membutuhkan jawaban dari orang-orang Kristen ini. Namun seiring waktu berjalan, rupanya aku mulai menemukan hal yang berbeda.

Sejumlah orang tampak sibuk membangun kerajaannya sendiri. Ada yang terlalu sibuk mengejar ambisinya, ada yang sibuk bersenang-senang, ada juga yang berkutat dengan masalah pribadi yang terus saja masih sama ceritanya dari hari ke hari. Sekelompok orang yang terlihat kompak dan selalu bercengkerama bersama, rupanya setelah keluar melewati pintu utamaku hanya melakukan aktivitas kebersamaan yang kulihat juga tak ada faedahnya sama sekali. Katanya untuk kebersamaan, tetapi apakah artinya kebersamaan tanpa membawa manfaat bagi mereka di luar sana yang masih hidup dalam kegelapan. Kupikir setelah meninggalkanku di hari Minggu, mereka akan melakukan sesuatu yang berarti bagi sesama. Kupikir mereka memiliki mimpi, mau bergandengan tangan untuk sesuatu yang lebih besar ketimbang sekedar berkumpul dan bercerita.

Aku sempat kecewa dan memendam marah, menyesali betapa harapan awalku berbeda dengan kenyataan. Namun suatu hari, burung gereja datang dan membisikkan bahwa aku bukanlah satu-satunya yang mengalami hal demikian. Barulah aku tersadar. Sejumlah bangunan gereja lainnya juga tengah bergumul dengan gelap, sepi, dan kedinginan.

Saat ini aku masih menunggu, sambil mataku menerawang kepada sekelompok kecil orang-orang. Kulihat, mereka yang jumlahnya tak banyak ini masih setia belajar dari Tuhan dan rajin memberi arti bagi sesama. Kuharap, api semangat mereka ini bertambah besar dan pelan-pelan membakar orang-orang lain yang semangatnya mulai redup. Aku tak sabar melihat bangkitnya Ekklesia. Dulu, dulu sekali, kudengar orang-orang yang biasa berkumpul di bangunan sepertiku ini adalah ekklesia yang hebat dan berdampak. Aku menantikan saatnya terang yang ajaib itu menembus keluar, meruntuhkan tembok-tembok yang selama ini membuat gereja terasa gelap dan kesepian, lalu menerangi seisi kota, bahkan sampai kepada bangsa-bangsa lainnya!

2016-07-28T06:06:58+07:00