//Give, and You will Receive

Give, and You will Receive

Adakah di antara teman-teman pembaca yang pernah mengalami kelelahan emosi, fisik, dan mental luar biasa yang berkepanjangan? Akhir-akhir ini, aku merasakannya. Sejak pagi saat matahari mulai menyapa hari, hingga malam kelam saat aku menutup mata, aku lelah. Setiap hariku seakan penuh dengan kelelahan: aku harus berhadapan dengan tumpukan pekerjaan yang tak kunjung habis, mengikuti arahan atasan yang tidak jelas, dan meladeni permintaan klien yang makin lama makin tak masuk akal. Bagaimana dengan malam hari selepas jam kerja? Atau akhir pekan? Sama sekali bukan waktunya untuk melepas lelah. Saat malam tiba, aku harus meluangkan waktu untuk kegiatan komunitas sel dan membereskan rumah. Saat akhir pekan datang, aku pun biasanya justru harus menyiapkan energi ekstra untuk berbagai kegiatan pelayanan di gereja. Pendeknya, lelah.

Teman-teman pembaca sendiri, apakah lelah juga membaca paragraf keluhanku soal kelelahan? Kalau ya, wajar…

Mungkin di antara teman-teman pembaca pun ada yang pernah mengalami langsung hal yang aku alami. Kelelahan emosi, fisik, dan mental yang berlebihan dan berkepanjangan itu dalam bahasa Inggris disebut “burnout”. Sangat tidak nyaman dan sangat membuat frustrasi. Untuk keluar dari cengkeramannya, kita perlu mengerti sebenarnya mengapa burnout bisa terjadi. Burnout bukan semata-mata merupakan konsekuensi pasti dari banyaknya tanggung jawab, karena ada saja kok orang-orang yang memegang banyak tanggung jawab besar dan penting yang tidak terkena burnout. Lagipula, bukankah pada dasarnya tanggung jawab itu baik?

Di dalam Alkitab, ada satu ayat tentang topik “memberi” yang membuka mataku tentang bagaimana seharusnya aku memandang dan merespons segala tanggung jawab yang aku miliki. “Memberi” yang dimaksud ini bukanlah sekadar dalam konteks barang atau pertolongan terhadap orang lain. Ini juga bisa berarti memberikan energi, waktu, uang, bahkan emosi kita dalam upaya kita melakukan tanggung jawab.

Lukas 6:38 di dalam Alkitab bahasa Inggris versi New Living Translation menyebutkan prinsip yang menarik, Give, and you will receive. Your gift will return to you in full—pressed down, shaken together to make room for more, running over, and poured into your lap. The amount you give will determine the amount you get back.

Versi bahasa Indonesianya di dalam Alkitab Terjemahan Baru berbunyi seperti ini, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Sering kali, aku mendengar anak-anak Tuhan memegang prinsip bahwa kita harus memberikan yang terbaik. Extra mile, sebutan populernya. Ringkasnya, kita harus rela berkorban dan siap berfokus untuk memberi, tanpa berhitung-hitung. Jangan mengharapkan imbal balik atau balasan apa pun. Salahkah prinsip ini? Tidak juga; tetapi bukan itulah keseluruhan konteksnya. Di sisi lain, kenyataannya setelah melakukan extra mile, banyak orang jadi merasa burnout, tidak bertumbuh, dan tidak mendapatkan apa-apa, habis; meski mereka terus-menerus memberi. Lalu, sebenarnya apa yang salah? Mengapa fenomena ini terjadi? Bukankah Firman Tuhan sendiri yang memerintahkan kita untuk memberi?

Firman Tuhan dengan jelas memerintahkan kita untuk memberi. Artinya, memberi itu memanglah baik. Namun, Firman Tuhan juga memberikaan janji bahwa saat kita memberi, kita juga pasti akan menerima. Yuk, kita baca sekali lagi ayat yang sebelumnya dikutip tadi, tentang perintah untuk kita memberi dan janji bahwa kita akan diberi.

Saat kita terus memberi, memberi, dan memberi sampai burnout, ini sebenarnya bukan prinsip yang diperintahkan Firman Tuhan. Firman Tuhan menjamin bahwa orang yang memberi akan menerima/diberi. Burnout terjadi bukan karena kita tidak menerima, tetapi karena kita tidak membuka ruang untuk menyadari apa yang kita sudah terima selama ini.

Saat kita melakukan banyak tugas hingga lembur berhari-hari demi melaksanakan tuntutan atasan di kantor atau dosen di kampus, atas nama extra mile, kita mungkin tidak sadar bahwa Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk menambah skill di bidang yang lain, seperti mengatur waktu dan prioritas dengan lebih baik, bersikap lebih tegas dan berkata “tidak”, atau yang lainnya. Mungkin skill tambahan itulah pemberian yang kita terima dari Tuhan.

Saat hari-hari kita sedang penuh dengan jadwal dan rutinitas pelayanan di gereja, dan kita mau tak mau terus melakukannya tanpa berhitung-hitung, kita mungkin tidak sadar bahwa Tuhan sedang mengingatkan kita untuk kembali pada esensi pelayanan itu sendiri. Mungkin Tuhan sedang memberi kita pengertian yang lebih dalam tentang hati-Nya yang penuh belas kasihan untuk anak-anak-Nya.

Saat kita sedang pusing karena kondisi keluarga di rumah yang bertengkar setiap hari, sambil tiap malam berdoa hingga air mata mengering dengan sendirinya, kita mungkin tidak sadar bahwa Tuhan sedang memberikan kekuatan ekstra dan kapasitas hati ekstra bagi kita, demi membentuk kita untuk menjadi teladan di rumah. Mungkin Tuhan sedang melatih kita untuk bukannya kabur dan tenggelam dalam kesibukan kita sendiri, tetapi justru kuat untuk menjadi pembawa damai bagi keluarga.

Semua area kehidupan kita yang terasa melelahkan karena kita terus-menerus memberi sebenarnya memberikan sesuatu yang berharga dari Tuhan. Kita memang memberi, tetapi pada saat bersamaan kita juga menerima. Sayangnya, kita kerap tidak menyadari dinamika ini. Bagaimana kita sadar bahwa sebenarnya kita menerima begitu banyak pemberian berharga dari Tuhan kalau setiap saat pikiran kita hanya dibanjiri dengan complain dan keluh kesah yang temanya satu saja: malangnya dan lelahnya diriku? Kalau sudah begini, setiap hari kita hanya merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak diberikan permen oleh orang tuanya, tanpa bisa merasakan berharganya pemberian-pemberian Tuhan itu.

Burnout sangat terkait dengan kesadaran dan sudut pandang pribadi akan kehidupan. Kalau kita tidak sadar akan keseluruhan konteks masalah dan kalau kita memandang ke arah yang salah, kita akan berpikir bahwa kita hanya lelah, habis, dan tidak menerima apa-apa. Padahal, kita telah menerima pertumbuhan yang luar biasa,

Give, and you will receive. Yang kita terima bisa jadi bukanlah semata-mata bentuk apresiasi dari orang lain, kenaikan gaji/posisi, atau hal lainnya yang bersifat material maupun sementara. Namun yang pasti, kita menerima pemberian khusus dari Tuhan, saat Dia meng-upgrade kita untuk menjadi makin serupa dengan Kristus. Kita yang sebelumnya sibuk mengeluh dan merengek-rengek seperti anak kecil, jadi tumbuh kuat dan siap menghadapi segala tantangan. Kita jadi makin dewasa.

Orang dewasa tahu titik lemahnya sendiri dan mau bertumbuh. Orang dewasa siap untuk memberikan yang terbaik dari apa yang ada pada dirinya. Dan, yang paling utama, orang dewasa juga sadar akan pertumbuhannya yang terus-menerus, yang menjadikannya makin serupa Kristus.

Yuk, ganti sudut pandang kita dan mulai sadari prinsip memberi dan menerima ini. Dengan kesadaran ini, ketika kita memberi, kita tidak akan lagi merasa burnout. Kita jadi tahu bahwa dengan memberi, kita pun sedang menerima pertumbuhan. Fokusnya bukan terletak pada “menerima”; fokusnya tetap ada pada “memberi”. Namun, kita bisa tenang karena kita tahu janji Tuhan tentang “menerima” ini pasti.

Give, and you will receive.

2022-09-27T10:10:09+07:00