//GIVE RESPECT GET RESPECT

GIVE RESPECT GET RESPECT

Bukan hanya pada waktu upacara bendera saja, tetapi dalam proses kehidupan sehari-hari, sebagai warga Negara Indonesia kita juga berkewajiban menghormati pemerintahan Indonesia, jikalau kita tidak melakukan tindakan ini, maka akan ada akibat atau sangsi yang akan kita terima. Sikap menghormati adalah bagian yang wajar di dalam setiap kehidupan bermasyarakat atau berkomunitas.

 

 

Jikalau di dalam perintahan jasmani, kita harus memiliki sikap menghormati demikian juga dalam pemerintah rohani atau Kerajaan Allah. Hanya sayangnya manusia kadang lebih takut menghormati pemerintahan jasmani dibandingkan pemerintahan Kerajaan Allah, mungkin karena kita tidak merasakan konsekuensi akibat ketidakhormatan terhadap pemerintah Kerajaan Allah secara langsung. Jelas sekali Alkitab memerintahkan kita untuk menghormati Allah dan sesama manusia (Keluaran 20). Ada beberapa hal yang penting ketika kita melakukan tindakan ini: kepada siapa saya hormat? Bagaimana wujud hormat saya? Apa berkatnya jika saya menghormati?

 

 

a.Kepada siapa saya hormat?
Tentunya segala rasa hormat kita harus diberikan kepada Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Tuhan dan Juruselamat kita satu-satunya. Permasalahan menjadi rumit karena rasa hormat kepada Tuhan diukur dengan sangat subjektif. Semua orang bisa mengatakan saya menghormati Tuhan dan hanya Tuhan yang menjadi hakim. Dalam proses ini kita membutuhkan ‘komunitas’ sebagai bukti rasa hormat kita kepada Tuhan, paling tidak ada tiga intitusi. Pertama, Intitusi Keluarga yaitu ayah dan ibu atau wakil mereka atas kita, menghormati mereka adalah menghormati Tuhan, terlepas mereka orang percaya atau tidak. Efesus 6:2 berkata,”Hormatilah ayahmu dan ibumu”. Kedua, Intitusi Gereja yaitu pribadi yang bertanggung jawab atas kehidupan rohani kita, seperti penatua, pemurid, atau pemimpin komunitas sel, Firman Allah di kitab Ibrani 13 mengingatkan kita, mereka itu patuh diberi hormat. Ketiga, Intitusi lainnya seperti pemimpin/pemilik di perusahaan kita bekerja, dosen di kampus atau guru di sekolah, hal ini dapat dilihat di dalam kitab Efesus.

b.Bagaimana Wujud Hormat Saya?
Saya percaya rasa hormat bukanlah sesuatu yang abstrak atau tidak bisa dirasakan oleh hati kita, tetapi sesuatu yang nyata dan dirasakan oleh setiap kita, bahkan kadang bisa diukur. Dalam mengekspresikan hormat ada dua bentuk yaitu attitude (sikap) dan behave (tindakan). Mengapa rasa hormat terlihat menjadi ‘abstrak’ atau tidak dapat dirasakan karena hanya menjadi sikap saja, artinya hanya di hati. Memang Tuhan tahu hati kita, tetapi hati manusia siapa yang tahu, maka perlu suatu tindakkan yang nyata. Ada banyak alat pengukur untuk mengkaitkan rasa hormat terhadap Tuhan dan manusia, saya hanya ingin membahas tiga saja.

Pertama: Perkataan, kitab Amsal mengatakan perkataan bisa mendatangkan kebahagian, persahabatan dan berkat atau kesengsaraan, perselisihan dan kutuk. Seberapa banyak kita mengatakan perkataan berkat akan sebanding dengan rasa hormat yang kita berikan kepada seseorang. Seberapa banyak perkataan kita membuat seseorang bahagia sebanding dengan rasa hormat yang kita berikan kepadanya.

Kedua: Waktu, banyak orang tidak menyadari bahwa waktu adalah ekspresi yang sangat nyata bagaimana sikap dan tindakan hormat kita kepada Tuhan atau manusia. Bayangkan kalau Pak Presiden akan mengundang makan malam di istana negara. Saya pastikan kita akan diwajibkan hadir paling tidak satu jam sebelum Pak Presiden hadir. Ini adalah peraturan atau tata cara bertamu di istana negara. Kalau kita datang terlambat berarti kita akan batal makan malam dengan presiden, kita kehilangan kesempatan bertemu orang terpenting di negara ini. Andai saja, kehadiran kita di ibadah Minggu seperti kita menghadiri acara makan malam bersama Pak Presiden, tentu suasana di ibadah Minggu akan berubah. Apakah kita selalu tepat waktu ketika ingin bertemu seseorang? Jika kita tidak tepat waktu berarti kita tidak menghormati orang itu. Hal ini bisa terjadi dimanapun juga baik di kantor, kampus, sekolah atau rumah.

Ketiga: Pemberian, apa yang kita berikan menggambarkan rasa hormat kepada seseorang. Ketika tiga orang Majus bertemu Yesus di kandang domba, bukan tempat yang selayaknya bagi bayi Yesus, tetapi ketiga orang Majus itu memberikan barang-barang yang sangat berharga pada waktu itu yaitu emas, kemenyan dan mur. Hal ini bukanlah berarti memberi yang terbaik selalu diidentikkan dengan memberikan barang yang mahal atau sesuatu yang diluar jangkauan kita memberi. Pemberian yang terbaik adalah pemberian yang memberikan rasa sakit di hidup kita. Tuhan Yesus memuji janda yang memberi dua peser uang pada persembahan bait Allah, tidak banyak yang janda itu berikan tetapi merupakan terbaik dari yang ia punya (Markus 12:41-44). Memberi yang terbaik merupakan bentuk penghormatan kita kepada seseorang.

c.Apa berkatnya jika saya menghormati?
‘Barang siapa menabur pasti Ia akan menuai’, inilah janji firman Allah. Kalau kita menabur ‘kasih’ maka kita akan menerima ‘kasih’, kalau kita menabur ‘hormat’, kita akan menerima ‘hormat’. Jika kita menghormati Tuhan pasti kita akan menerima hormat dari Allah sendiri. Di Alkitab, tokoh-tokoh seperti Daud, Ayub, dan Paulus adalah contoh pribadi-pribadi yang mendapat hormat dari Tuhan. Daud disebut orang yang berkenan di hadapan Allah. Ayub disebut orang yang saleh dan jujur serta takut akan Tuhan. Paulus disebut alat pilihan Allah bagi bangsa-bangsa. Rasa hormat dari Tuhan adalah buah dari sikap dan tindakan mereka kepada Allah. Hal yang sama jika kita menghormati orang lain maka kita akan menerima rasa hormat dari orang lain juga.

Jadi apa yang dapat kita disimpulkan dengan apa yang telah kita pelajari. Penghormatan adalah proses sikap hati dan tindakan yang nyata dan membutuhkan pribadi yang lain menerima penghormatan kita. Pribadi itu adalah Allah, keluarga, guru, dosen atau lainnya. Selain itu harus ada tindakan nyata kita melalui perkataan yang diucapkan, kedispilan waktu dan bagaimana cara kita memberi terhadap pribadi yang kita hormati.
Selamat mencoba!

2019-09-29T11:37:58+00:00