///Hal “tabu” yang dilakukan orang tua

Hal “tabu” yang dilakukan orang tua

2. Terlalu sibuk dan tidak punya waktu
Segala aktivitas kita sebagai orang tua membuat kita kadang ‘lelah’ di dalam menemani atau sekedar mengobrol dengan anak. Orang tua seringkali membutuhkan “me time” (waktu untuk diri sendiri) atau justru terus-menerus bekerja tanpa “diganggu” oleh anak-anak. Sikap kita yang merasa terganggu dan tidak mau diganggu ini seringkali diterjemahkan anak sebagai, “Papa dan Mama tidak peduli dengan aku”, “Papa dan Mama tidak sayang aku”, “Aku tidak penting bagi Papa dan Mama”, dll. Mari ingat-ingat kembali sikap kita akhir-akhir ini kepada anak-anak kita. Apakah kita sering “mengusir” atau “tidak mempedulikan” anak dengan sikap marah dan terganggu saat anak meminta waktu bersama dengan kita?

3. Tidak mau mengerti perasaan anak
Kapankah terakhir kali kita sebagai orang tua sungguh-sungguh meluangkan waktu dan berusaha memahami apa yang anak kita rasakan? Bukankah seringkali kita hanya memaksakan apa yang menjadi keinginan kita kepada anak? Jika apa yang dilakukan anak tidak sesuai dengan harapan orang tua, anak langsung dimarahi, bahkan jika “perlu” dengan kata-kata kasar dan makian atau pukulan, sehingga hati anak terluka. Ketika anak mengeluarkan pertanyaan atau isi hatinya, orang tua tidak mau mendengar dan justru menanggapinya dengan amarah. Setiap kali kita melakukan hal seperti ini, kita sedang menambah goresan luka di hati anak, dan goresan itulah, jika tidak disembuhkan dengan tuntas, yang akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

4. Mengkritik lingkungannya dengan cara tidak benar
Terutama bagi anak remaja, teman dan lingkungan terdekat sehari-hari menjadi begitu penting. Itu sebabnya, kecenderungannya adalah mereka tidak suka saat teman atau orang terdekatnya dikritik. Lalu bagaimana jika kita sebagai orang tua melihat anak kita bergaul dengan orang yang pengaruhnya kurang baik? Hendaknya orang tua berhikmat dalam mengkritik lingkungan si anak. Memberikan pengarahan dengan nada bersahabat tentang teman-teman yang berpengaruh baik akan jauh lebih berdampak daripada mengkritik temannya secara tajam dan penuh kecurigaan yang tidak benar.

5. Berbicara dengan tidak hati-hati
Kata-kata apa yang biasa kita ucapkan kepada anak? Ini sangat perlu diperhatikan, terutama saat kita mengkritik anak kita. Sekalipun tujuannya untuk membangun, anak tidak akan bisa menangkap isi dari kritik kita jika disampaikan dengan salah. Yang anak tangkap dari kritik yang kasar adalah rasa marah dan bahwa orang tua tidak mengasihinya. Berbicara tanpa memikirkan dampaknya akan melukai hati anak. Ketika hati anak sudah terluka, hubungan antara orang tua dan anak menjadi terhalang. Anak akan menutup diri dan menutup hatinya terhadap orang tua, karena ia tidak mau terluka lagi oleh perkataan orang tuanya. Akibatnya, orang tua sulit berkomunikasi dengan anak dan apapun yang orang tua katakan tidak dipedulikan/didengar oleh anak.

6. Tidak pernah mengekspresikan kasih
Ada kultur-kultur tertentu di mana orang tua sulit/tidak dapat mengngkapkan ekspresi kasih, sehingga memang ini perlu dilatih dan dijadikan kebiasaan. Pada dasarnya, secara umum semua orang tua pastilah mengasihi anaknya. Nah, orang tua perlu mengekspresikan kasih kepada anak lewat perkataan dan tindakan, karena anak tidak bisa tahu begitu saja bahwa orang tua mengasihinya tanpa ekspresi kasih ini. Tiap anak mempunyai kecenderungan cara/saluran ekspresi kasih yang berbeda-beda. Inilah 5 bahasa kasih menurut Gary Chapman: kata-kata positif, waktu-waktu berkualitas, hadiah/pemberian, pelayanan dan sentuhan fisik. Kenali bahasa kasih anak Anda! Anak yang bahasa kasihnya kata-kata akan sangat merasa dikasihi saat menerima kata-kata positif dari orang tua, namun akan sangat merasa terluka saat menerima kata-kata negatif dari orang tua. Anak yang bahasa kasihnya waktu-waktu berkualitas akan sangat merasa dikasihi saat orang tua memberi waktu kebersamaan tanpa gangguan pekerjaan/urusan lain apapun, namun akan sangat merasa ditinggalkan saat orang tua lebih memprioritaskan sibuk dengan gadgetnya saat ia ingin ditemani. Anak yang bahasa kasihnya sentuhan fisik akan sangat merasa dikasihi saat orang tua memeluknya saat ia sedang kecewa, namun akan sangat merasa tidak dianggap saat orang tua bersikap dingin menanggapi “curhat”-nya.

7. Pelit pujian dan penghargaan
Orang tua yang memiliki latar belakang sedikit pujian cenderung akan mengalami kesulitan dalam memuji anak-anaknya. Orang tua seperti ini harus belajar menghargai dan memberikan pujian yang tulus untuk anak-anaknya. Berikan pujian di area di mana anak kita memang layak diberikan pujian. Jika ia belum mencapai hasil yang ideal padahal ia sudah berusaha sekuat-kuatnya, hargai dan pujilah jerih payahnya. Jangan hanya berfokus pada apa yang belum dicapai anak, karena ini akan membuat kita terjebak untuk senantiasa mengkritik dan menuntut anak. Anak membutuhkan pujian dan penghargaan dari orang tuanya untuk membangun rasa percaya diri seumur hidup.

Sebagai orang tua, kita harus memperhatikan hal-hal di atas, sebab hal-hal ini jika terus-menerus dilakukan akan membentuk anak kita menjadi pribadi yang “bermasalah” itu tadi. Akan dibutuhkan waktu yang sangat lebih lama lagi hingga anak bisa menjadikan orang tua sebagai orang yang dapat dipercaya, tempat “curhat”, sahabat terdekat, orang yang dapat diandalkan, ketika mereka mengalami masalah maupun ketika mereka senang.

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,” (Efesus 3:15)

Jane Norman Sept 2014 (editorial hy)

2019-10-17T17:37:43+07:00