///Hal yang Utama sebagai Prioritas Pertama

Hal yang Utama sebagai Prioritas Pertama

Suatu kali Rasul Paulus dan bebarapa orang yang ikut serta di dalam perjalanan pelayanannya ke Makedonia menyusuri tepi sungai di kota Filipi. Ketika itu, mereka menemukan sebuah sinagoge (rumah ibadah orang Yahudi) lalu mampir ke tempat itu. Kebetulan, hari itu adalah hari Sabat, hari ketika orang-orang Yahudi biasanya datang ke sinagoge untuk bersembahyang. Di sinagoge itu, Rasul Paulus dan kelompok perjalanannya bertemu dengan sekumpulan perempuan yang sedang bersembahyang. Sambil duduk di kursi, Paulus menunggu mereka menyelesaikan doa-doa mereka, kemudian membuka percakapan dengan mereka. Paulus memanfaatkan kesempatan percakapan itu untuk menceritakan bahwa Yesus adalah Tuhan kepada perempuan-perempuan itu.

Di antara kumpulan perempuan itu, salah satunya bernama Lidia. Dia turut mendengarkan pesan yang Paulus sampaikan dengan ketertarikan yang amat besar, hingga dia menyimak pesan Paulus dengan penuh konsentrasi. Rupanya, Tuhan telah membuka hati Lidia dan mengaruniakan benih iman untuk Lidia. Firman kebenaran di dalam pesan Paulus menjadi benih iman yang jatuh di tanah yang gembur dan benih itu pun tumbuh. Lidia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Dia bersedia dibaptis oleh Paulus.

Siapakah Lidia, perempuan yang dipilih Allah dari perempuan-perempuan lainnya di sinagoge itu untuk melayani-Nya?

 

Lidia adalah seorang pedagang kain ungu, yang berasal dari kota Tiatira dan tinggal di Filipi. Tiatira adalah kota di provinsi Romawi wilayah Asia, di sebelah barat wilayah negara Turki sekarang. Tiatira merupakan kota pusat industri yang penting di berbagai bidang, di antaranya pewarnaan kain, produksi pakaian, kerajinan tanah liat, dan kerajinan kuningan. Pada zaman itu kain ungu merupakan kain mahal dan langka karena bahan pewarnanya yang tidak mudah didapat. Kain ungu biasanya digunakan dalam pembuatan pakaian penanda status elite untuk kaum bangsawan atau keluarga kerajaan. Lidia adalah pedagang kain ungu, maka kemungkinan dia adalah seorang pengusaha kaya. Di sisi lain, hati Lidia haus untuk mengenal dan menyembah Tuhan. Di tengah-tengah kesibukannya berbisnis, rupanya Lidia tetap rutin beribadah di sinagoge, berdoa, dan mencari pengenalan akan Allah. Saat di sinagoge pada suatu hari Sabat itulah Lidia berada di kumpulan perempuan yang kemudian bercakap-cakap dengan rombongan Rasul Paulus.

 

Jika kita renungkan, cara hidup dan cara pandang Lidia ini membawanya mengenal Kristus. Bagi Lidia, datang dan menyembah kepada Tuhan adalah hal utama yang harus ia lakukan, meski dia sibuk berbisnis. Lidia tidak mengikatkan dirinya pada pekerjaannya atau pada apa pun yang membuat dirinya terus-menerus sibuk. Dia tetap memandang penting waktu ibadahnya kepada Tuhan dan setia melakukannya. Pada hari Sabat, dia tahu bahwa hari tersebut adalah saatnya dia datang kepada Sang Sumber yang memberi berkat kepadanya.

 

Selain itu, kita dapat melihat bahwa Lidia juga memiliki hati yang mau mendengarkan. Ketika Paulus mulai bercerita tentang Tuhan Yesus, Lidia begitu haus mendengarkan. Kerinduannya untuk mengenal Tuhan dan ketanggapan hatinya diganjar dengan indah oleh Tuhan. Tuhan memberikan kasih karunia yang besar kepada Lidia. Tuhan membuka hati Lidia dan dia menanggapinya dengan respons kesediaan untuk dipakai Tuhan sebagai bejana-Nya. Segera saja, Lidia membawa seluruh keluarganya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pula.

Buah dari pertobatan iman Lidia tidak hanya sampai di situ. Dia membuka rumahnya untuk dipakai bersekutu bersama saudara-saudara seiman lainnya; rumahnya ini kemudian menjadi gereja mula-mula di Filipi. Bahkan selanjutnya, ketika Paulus dan Silas dipenjara lalu akhirnya keluar dari penjara, mereka pergi ke rumah Lidia, menemui dan melayani jemaat di sana. Inilah buah dari respons hati Lidia yang haus dan tanggap.

 

Kualitas hati seperti yang dimiliki Lidia mungkin sudah jarang kita temui di era kini. Kesibukan dunia telah mengikis hati kebanyakan orang hingga tidak lagi haus untuk datang kepada Tuhan. Sekarang, orang lebih sibuk mencari berkat daripada mencari Sang Sumber berkat, hingga merasa “tidak punya waktu” untuk datang kepada Tuhan. Mari bercermin pada Lidia. Lidia juga perempuan pekerja yang punya kesibukan padat, menafkahi keluarganya dari bisnisnya, menjaga jejaring bisnisnya yang sarat dengan orang-orang dari golongan elite, tetapi dia tetap mengutamakan Tuhan di dalam hidupnya. Perjumpaan pribadi dan hubungan pribadinya dengan Tuhan tidak hilang tenggelam ditelan kesibukannya sehari-hari. Demikian pula, kesibukan kita hendaknya tidak menghilangkan keintiman kita dengan Tuhan, karena keintiman dengan Tuhan ini seharusnya menjadi yang utama dalam hidup kita. Yang perlu menempati prioritas pertama di hati kita.

 

Yesus sendiri juga menunjukkan teladan yang sama. Dia biasa bangun pagi-pagi untuk mengawali hari-Nya bersama dengan Bapa (Mrk. 1:35). Duduk di dekat kaki Tuhan, menyembah Tuhan, dan membangun hubungan yang erat dengan Tuhan harus menjadi prioritas utama kita, karena Tuhanlah sumber kehidupan kita. Biarlah hati kita belajar memprioritaskan Tuhan di atas segalanya, agar kita juga dapat berkata seperti si pemazmur, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik,” (Mzm. 84:10).

 

Refleksi Pribadi:

  1. Apakah setiap hari Anda memiliki waktu untuk menyembah Tuhan dan merenungkan Firman-nya?
  2. Adakah halangan/kendala untuk Anda datang bersekutu dengan Tuhan?
  3. Milikilah komitmen untuk selalu memprioritaskan Tuhan sebagai yang utama di atas segalanya.
2022-04-27T13:39:27+07:00