///Hati Nurani (Conscience)

Hati Nurani (Conscience)

Hati nurani adalah suatu proses kognitif otak yang menghasilkan perasaan dan pengaitan rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang terhadap perilakunya. Tuhan menciptakan proses kerja hati nurani manusia pada bagian anterior cingulate cortex (ACC), yang bekerja sama dengan bagian orbital frontal cortex dan amygdala di otak. Fungsi orbital frontal cortex adalah sebagai pengontrol dorongan emosi manusia, fungsi anterior cingulate cortex adalah memberi respon dari impuls atau dorongan yang masuk, sedangkan fungsi amygdala adalah menentukan respon negatif atau positif terhadap impuls/dorongan.

 

Hati nurani berbeda dengan pikiran yang muncul akibat persepsi indrawi (emosi) atau refleks fisik secara langsung (respons sistem saraf simpatik). Hati nurani merupakan kompas atau acuan moral dalam diri manusia, yang dengannya manusia memutuskan mana yang benar/baik serta mana yang salah/buruk, dan menentukan mana yang sesuai atau bertentangan dengan tindakannta. Hati nurani berperan terutama saat kita mau mengambil sebuah keputusan dalam situasi yang konkret. Tuhan secara khusus memberi perhatian penting terhadap kondisi hati nurani manusia. Dia ingin hati nurani kita murni, karena secara rohani, hati nuranilah tempat Roh-Nya berdiam dan Firman-Nya tertanam.

 

Firman Tuhan sebagai standar moral tertinggi dimaksudkan Tuhan untuk menjaga hati nurani kita agar tetap benar, bersih, dan teguh. Namun, sangat mungkin bagi manusia untuk berbuat salah, karena hati nuraninya yang tidak diterangi bisa menyesatkan. Paulus memberikan sebuah ilustrasi dalam Kisah Para Rasul 26:9, “Aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret.” Wahyu yang turun kepadanya dalam perjalanan menuju Damsyik mengubah penilaian dan keputusan hati nuraninya itu, sehingga memberinya sebuah prinsip baru yang dengannya dia bertindak. Paulus yang tadinya seorang penganiaya jemaat Tuhan, akhirnya menjadi seorang pengikut dan pelayan Tuhan yang radikal. Hari nuraninya kini mengerti lebih jelas tentang mana yang benar dan mana yang salah.

 

Agar hati nurani kita sendiri juga terjaga tetap benar, bersih, dan teguh, kita perlu memahami beberapa prinsip kebenaran tentangnya. Dengan berpegang pada prinsip-prinsip yang berdasarkan Firman Tuhan ini, kita mempersembahkan hati nurani yang murni di hadapan Tuhan.

  1. Hati Nurani Bisa Dipakai Tuhan

“Aku memuji TUHAN, yang telah memberi  nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku,” (Mzm. 16:7).

Hati nurani kita sering dipakai oleh Tuhan guna menasihati dan mengajar kita.
Yeremia 31:33a berkata, “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka”. Setialah merenungkan Firman Tuhan, lalu perhatikan setiap peringatan dan teguran yang muncul di hati nurani Anda, karena Firman ini merupakan dasar yang kuat bahwa suara hati nurani kita merupakan suara Tuhan. Firman-Nya sendiri, yang adalah kebenaran, tertulis di setiap hati kita sesuai janji-Nya.

  1. Hati Nurani Harus Dijaga dan Diajar Terus-menerus

Setiap manusia terikat untuk menaati hati nuraninya, dan itulah sebabnya kita harus menjaga agar hati nurani itu dipandu oleh prinsip-prinsip yang benar, yang bersifat mengajar, dan tidak mengandung prasangka atau dibengkokkan oleh cara berpikir yang menyesatkan atau motivasi-motivasi yang tidak murni.

“Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia,” tegas Paulus dalam Kisah Para Rasul 24:16. Mengusahakan terus-menerus adalah proses menjaga hati nurani agar tetap murni dan berkenan di hadapan Allah.

 

  1. Hati Nurani Bisa Lemah dan Ternoda Terus-Menerus

Kita harus waspada. Hati nurani bisa lemah dan ternoda oleh nilai-nilai dunia dan kepalsuan duniawi. Jika kita lebih banyak/sering memberi asupan yang duniawi kepada hati nurani kita, kondisinya pun perlahan-lahan akan menjadi makin kotor dan lemah. “Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya,” kata 1 Korintus 8:7. Hasilnya akan tampak pada penilaian kita, dalam berbagai perilaku salah/buruk yang makin tidak terdeteksi.

 

  1. Hati Nurani Bisa Menjadi Kotor/Jahat

“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni,” tegas Ibrani 10:22. Ini berarti kita perlu berhati-hati, sekaligus punya harapan, karena kekotoran hati nurani dapat dan perlu senantiasa dibersihkan dengan Firman Tuhan.

 

  1. Hati Nurani Bisa Disucikan oleh Darah Kristus

Selain kita bertanggung jawab memberikan hati nurani kita dibersihkan oleh Firman terus-menerus, Allah pun telah menyediakan jaminan pasti bagi kita agar kita memiliki hati nurani yang suci. “Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan  hati nurani kita dari perbuatanperbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup,” seperti yang tertulis di Ibrani 9:14.

 

  1. Kerendahan Hati adalah Perisai bagi Hati Nurani

“Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk,’” Yesaya 57:15 menjelaskan. Selama kita rendah hati, Tuhan bisa dan akan selalu bekerja atas hati nurani kita agar makin bersih, makin benar, dan makin berkenan di hadapan-Nya.

 

Marilah kita terus berpegang pada prinsip-prinsip ini. Dengan prinsip-prinsip ini, kita melekat dengan Tuhan senantiasa dan menjaga hati nurani kita tetap murni.

2021-11-02T09:10:06+07:00