///Pribadi yang berbelas kasihan

Pribadi yang berbelas kasihan

Belas kasihan merupakan realitas kehidupan yang tidak bisa diabaikan, dan merupakan sikap yang diteladankan langsung oleh Kristus. Belas kasihan mengawali tindakan kasih yang nyata dan mujizat. Kita telah mengetahui bahwa belas kasihan Yesus sudah membawa dampak dan pemulihan yang luar biasa, namun sayangnya sikap belas kasihan kita justru semakin gersang dan luntur. Mengapa demikian?

Ada sebuah cerita yang sangat terkenal tentang belas kasihan, mengenai orang Samaria yang menolong seorang Ibrani yang telah dirampok dan sedang terluka. Dalam kisah ini, Yesus menggambarkan bahwa belas kasihan tidak dibatasi oleh perbedaan ras, tradisi atau status sosial. Belas kasihan bebas dari rasa pamrih dan kepentingan pribadi. Selanjutnya, kisah ini juga menunjukkan bahwa jika kita melakukan sesuatu berdasarkan belas kasihan, ada kuasa yang bekerja di dalam dan melalui diri kita. Belas kasihan bukanlah sekedar rasa prihatin atau bersikap simpati. Belas kasihan murni dan lahir dari kasih yang tulus.

Karakter belas kasihan adalah bagaikan sumber mata air yang tak pernah kering, namun bisa digerogoti oleh sikap pamrih atau dimanfaatkan secara manipulatif. Itulah yang membuat kita akhirnya enggan mengembangkan sikap berbelas kasihan kepada sesama. Tidak heran jika Alkitab berkata bahwa di akhir zaman ini kasih semakin tawar. Lalu, apa solusinya?

Bagaimana mengembangkan hati yang berbelas kasihan?

1. Melatih diri untuk melihat dan membedakan kebutuhan yang mendalam dan mendesak

Belas kasihan lahir dari hati nurani yang tersentuh oleh kebutuhan dan penderitaan orang lain. Karenanya, belas kasihan merupakan respons atas permintaan tolong dan permohonan yang sungguh-sungguh, bukan yang bersifat manipulatif. Kasih yang melahirkan belas kasihan itu tidak sekedar berkurban atau menolong, tetapi juga membangun dan mendidik.

2. Berfokus pada kasih karunia Tuhan yang diberikan kepada kita

Belas kasihan membuka pintu surga dan menjadikan kita perwakilan Tuhan di dunia untuk menyatakan kemurahan dan karuniaNya. Belas kasihan selalu bekerja melalui apa yang ada pada kita, bukan yang tidak ada pada kita. Kebajikan yang ditaburkan pasti akan berbuah kebajikan. Saluran yang lancar pasti menerima aliran yang lebih besar lagi dari Sang Sumber.

3. Memberi ruang untuk memiliki belas kasihan kepada orang lain

Kesibukan dan masalah pribadi seringkali begitu memenuhi hati dan pikiran kita, sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan orang lain. Ciptakan ruang untuk orang lain, agar kita tidak menjadi egois dan hidup hanya untuk diri sendiri.

4. Mencari kesempatan untuk berbuat kebajikan

Melakukan kebajikan merupakan amanat yang harus dilaksanakan. Keselamatan memang merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, tetapi perbuatan baik adalah amal dan ibadah yang kelak diganjar dengan pahala.

Bagi Bapak/Ibu/ Saudara yang membutuhkan konsultasi, silakan kirimkan email ke alamat [email protected]

2019-10-17T15:15:09+07:00