///Hati yang Siap Menuai

Hati yang Siap Menuai

Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” – Yohanes 4:35

 

Ucapan Yesus pada ayat yang mungkin sudah sering kita baca ini terjadi tepat ketika para murid mendatangi-Nya setelah peristiwa Dia melayani dan menyatakan diri sebagai Mesias kepada perempuan Samaria di sumur Yakub di Sikhar (Yoh. 4:1-42). “Empat bulan lagi musim panen” merupakan peribahasa Yahudi yang maksudnya bahwa panen tak dapat dipercepat, sudah ada ukuran waktunya. Murid-murid Yesus mengatakan peribahasa ini dengan pemikiran untuk bersantai sejenak sebelum tiba waktunya untuk bekerja keras. Di sisi lain, pemikiran ini Yesus koreksi dengan mengalihkan fokus para murid-Nya dari ladang tuaian jasmani ke ladang tuaian rohani, yang telah siap dituai (bukan “nanti saja” atau “tunggu musim menuai”). Yesus sedang mengajarkan suatu pelajaran rohani. Dia menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa di hadapan mereka ada sebuah pekerjaan besar untuk mengumpulkan hasil panen rohani itu, dan mereka harus mengerjakannya dengan segera serta giat.

 

Bagaimana dengan kita sendiri dalam memandang ladang tuaian rohani kita?

Sebagai perempuan yang telah ditebus menjadi milik Allah, kita masing-masing telah diberi ladang tuaian. Ladang itu berisi jiwa-jiwa yang Tuhan telah tetapkan untuk menerima kehidupan baru dari-Nya, melalui kehidupan kita. Jika Anda seorang ibu rumah tangga, rumah adalah ladang itu dan orang-orang yang berada di dalamnya adalah tuaiannya. Jika Anda seorang pekerja, lingkungan pekerjaan Anda menjadi ladang itu dan rekan-rekan kerja di sekitar Anda adalah tuaiannya. Jika Anda seorang mahasiswi, lingkungan studi Anda adalah ladang itu dan teman-teman kuliah serta orang-orang di kampus Anda adalah tuaiannya. Kita semua memiliki tugas yang mendesak dan penting untuk menuai dari ladang kita masing-masing. Masalahnya, kadang kita tak menyadari betapa mendesaknya dan pentingnya tugas ini.

Untuk menuai jiwa-jiwa di ladang rohani, kita membutuhkan sikap hati yang tepat. Inilah sikap hati seperti yang Yesus miliki terhadap perempuan Samaria itu; hati yang senantiasa peka dan siap untuk menuai. Tanpa sikap hati yang siap menuai, kita tidak akan cukup peka untuk mampu melihat tuaian rohani di hadapan kita. Kesibukan dan rutinitas sehari-hari masa kini akan mengaburkan pandangan kita dari fokus utama pada tugas yang Tuhan ingin kita kerjakan itu, sehingga kita jadi berfokus pada kebutuhan diri sendiri saja.

Alkitab mencatat perempuan-perempuan yang menjadi teladan yang sangat kuat tentang fokus pada tugas penuaian ini, di tengah-tengah kesibukan yang padat sehari-hari atau pergumulan hidup pribadi.

 

Salah satu dari perempuan itu bernama Lidia; dia pengusaha dan pedagang kain ungu dari kota Tiatira, dan dia dikenal taat beribadah kepada Allah (Kis. 16:4). Hubungan Lidia secara pribadi dengan Allah menjadikannya dampak dan kesaksian nyata bagi keluarga, kerabat, teman, dan orang-orang di sekitarnya. Sebagai pemilik dan pengelola usaha perdagangan kain ungu, tentu Lidia sangat sibuk. Namun, Lidia peka melihat kebutuhan orang-orang di sekelilingnya untuk mengenal Allah dan dia mampu membawa mereka untuk percaya kepada Kristus, hingga memberi diri untuk dibaptis. Selanjutnya, Lidia bahkan memiliki kerinduan yang besar untuk melayani Tuhan bagi orang-orang percaya lain di luar lingkup kehidupannya sehari-hari. Dia membuka pintu rumahnya untuk dijadikan tempat berkumpul bagi orang-orang percaya lainnya. Lidia pun melayani Rasul Paulus dengan mengundang serta menjamu rasul itu untuk tinggal di rumahnya selama melayani di kotanya. Lidia bukan hanya berdoa bagi tuaian; dia juga mengerahkan usaha dan mengorbankan materinya untuk melayani jiwa-jiwa. Lewat hatinya yang selalu siap menuai, Lidia turut serta dalam penuaian di masa itu.

Selain Lidia, ada juga seorang perempuan lain yang patut kita teladani. Namanya Rut, dia menantu dari seorang janda bernama Naomi. Saat Naomi ingin kembali ke kampung halamannya setelah keluarga mereka mengalami penderitaan berat yang bertubi-tubi, Rut juga memutuskan untuk turut serta bersama Naomi. Padahal, Rut sesungguhnya berasal dari latar belakang bukan umat Allah. Rut punya kesempatan untuk mengejar cita-citanya sendiri atau membangun kehidupan yang baru setelah seluruh penderitaan itu, tanpa dibebani oleh Naomi, tetapi dia memilih untuk ikut Naomi dan hidup percaya sebagai umat Allah. Dia memilih untuk memandang ke depan saja serta berserah pada rancangan-Nya. Meski dengan demikian kemungkinan besar dia akan menjadi janda seumur hidupnya, dia tetap menguburkan kehidupan lamanya dan mantap menetapkan diri untuk melayani ibu mertuanya diatas kepentingan dirinya sendiri. Alhasil, melalui arahan Naomi justru Tuhan mengangkat kehidupan Rut kembali. Rut bertemu dengan Boas dan menjadi istri Boas. Kehidupan Rut yang baru membangkitkan kehidupan baru bagi banyak orang pula, serta  lewat keturunan Rut banyak jiwa yang dituai.

 

Hati yang siap menuai adalah hati yang melayani. Inilah dandanan terindah bagi seorang perempuan, melebihi segala jenis perhiasan yang dapat kita kenakan secara fisik. Hari ini, Tuhan berkata kepada kita pula, murid-murid perempuan-Nya di masa kini, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning, yang sudah siap dituai.” Ladang itu ada di dekat kita, tuaiannya pun sudah matang. Berikan hati kita kepada Tuhan untuk kita melayani kepentingan-Nya. Izinkan Tuhan meletakkan di dalam hati kita beban untuk jiwa-jiwa yang terhilang di sekeliling kita, dan  jawablah kerinduan hati Tuhan itu dengan kesiapan kita mengerjakan tugas penuaian dari-Nya. Sekarang dan setiap saat di dalam kehidupan kita.

 

Pertanyaan Refleksi:

  1. Bagaimanakah isi hati Anda saat ini terhadap orang-orang di sekitar Anda sehari-hari? Apakah Anda cenderung mudah atau sulit melihat kebutuhan mereka terhadap Tuhan?
  2. Menurut Anda, bagaimanakah isi hati Tuhan terhadap orang-orang di sekitar Anda itu? Apakah isi hati Anda sudah selaras dengan isi hati Tuhan?
  3. Bagaimanakah Anda bisa mulai menjangkau dan melayani orang-orang di sekitar Anda? Hal-hal apa yang akan Anda lakukan mulai saat ini juga?
2022-03-26T09:09:36+07:00