///Hidup Berjalan Bersama Kristus

Hidup Berjalan Bersama Kristus

Naaman seorang panglima terpandang yang bekerja memimpin pasukan tantara raja Aram. Dalam tugasnya sebagai panglima, Naaman telah membawa kemenangan bagi bangsa Aram ketika melawan bangsa Israel, maka dia sangat disayangi dan kepentingannya dibela oleh raja Aram. Namun, suatu ketika Naaman menderita penyakit kusta yang parah. Berkali-kali Naaman berusaha berobat tetapi dia tidak kunjung sembuh dari penyakitnya itu. Tentu ini adalah krisis, karena Naaman harus sembuh untuk dapat melayani raja Aram kembali. Pada akhirnya memang Naaman sembuh sempurna, melalui cara yang tidak sesuai ekspektasi dan tokoh penting yang tidak disangka-sangka. Pasal 5 dalam kitab 2 Raja-Raja menceritakan kisahnya.

 

Kita tahu bahwa kisah-kisah lain dalam Perjanjian Lama menceritakan peristiwa-peristiwa tentang orang-orang dan pemimpin-pemimpin Israel, tetapi peristiwa fenomenal kesembuhan Naaman tercatat dalam Alkitab Perjanjian Lama, padahal Naaman bukanlah seorang berkebangsaan Israel. Kesembuhan Naaman menunjukkan kasih dan kuasa Tuhan atas segala bangsa dan semua orang, serta bahwa Tuhan menunjukkan penyertaan-Nya kepada orang-orang yang setia.

Naaman sembuh melalui pelayanan Nabi Elisa di Israel. Dari mana dia mengenal Nabi Elisa? Jawabannya adalah melalui budak perempuan yang tinggal di rumahnya. Naaman menemui Nabi Elisa setelah mendapat rekomendasi tentang sang nabi oleh seorang anak perempuan yang merupakan budak istrinya. Awalnya, budak perempuan yang masih belia itu memberi saran dengan begitu meyakinkan kepada istri Naaman, bahwa Naaman pasti sembuh jika menemui sang nabi, yang saat itu tinggal di kota Samaria. Menariknya, istri Naaman maupun Naaman, pasangan yang terpandang itu, mendengarkan dan percaya akan saran si budak perempuan. Karena mereka percaya, Naaman lalu meminta izin dan surat pengantar kepada raja Aram untuk dia menemui Nabi Elisa meminta kesembuhan. Dan, raja Aram mengabulkan permintaan Naaman.

Pertanyaannya, siapakah budak perempuan itu sehingga kata-katanya begitu efektif dan berkuasa, bahkan di hadapan orang-orang yang “derajatnya” lebih tinggi daripada dirinya?

 

Ketika bangsa Aram berperang melawan bangsa Israel, Tuhan memberikan kemenangan kepada orang Aram. Setelah peperangan itu, banyak orang Israel ditangkap sebagai tawanan perang dan dibawa ke negeri Aram; salah satunya adalah anak perempuan yang lalu dijadikan budak untuk melayani istri sang panglima, Naaman. Sebagai orang Israel, anak perempuan itu tentu menganut iman kepercayaan selayaknya orang Israel lainnya. Tidak disebutkan dalam kisah di 2 Raja-Raja 5 itu apakah ketika anak perempuan ini ditawan dan dijadikan budak dia bersama orang tuanya atau tidak, tetapi jelas dia telah dididik dalam iman percaya kepada Allah Israel dan dibekali pengajaran karakter yang baik oleh orang tuanya. Ini terbukti dari catatan bahwa dia menginginkan yang baik bagi tuannya (dia ingin Naaman sembuh) serta dia menjadi budak atau pelayan yang dipercaya oleh istri Naaman, meski usianya masih sangat muda (ingat, Alkitab menyebutnya “anak perempuan”, bukan “perempuan muda” atau “wanita”).

Dalam keyakinannya atas kuasa Allah Israel melalui pelayanan nabi-Nya, budak perempuan itu tidak ragu-ragu untuk menyarankan agar Naaman menemui Nabi Elisa di Samaria, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya,” (2 Raj. 5:3). Kata-kata yang lahir dari keyakinan imannya itu menjadi nubuatan yang tidak sembarangan. Dia mengenal siapa itu Allah Israel dan dia tahu Allah sanggup menyembuhkan tuannya. Kita melihat imannya kepada Allah melalui apa yang dia lakukan bagi tuannya.

Apa yang terjadi kemudian? Singkatnya, Naaman sembuh dan menjadi percaya kepada Tuhan, Allah Israel. Memang sempat terjadi sedikit “drama” karena Naaman (yang pada awalnya belum mengenal Allah Israel) tidak bersedia mengikuti perintah Nabi Elisa untuk mandi membenamkan diri tujuh kali di Sungai Yordan berhubung dia merasa jijik dengan air sungai tersebut yang dianggapnya kotor, tetapi pada akhirnya dia taat dan mengalami kesembuhan. Bahkan, karena kesembuhan itu, Naaman menjadi percaya dan mengakui kebesaran Tuhan, Allah Israel, atas segala ilah dan dewa lainnya. Sebagai orang penting, Naaman pulang ke negeri Aram membawa bukti nyata kesembuhannya, di hadapan raja Aram dan seluruh pasukan Aram. Seluruh dampak yang hebat ini terjadi dengan diawali dari iman si budak perempuan belia di rumahnya.

 

Bagaimana dengan kita sendiri dalam kehidupan kita saat ini? Bagaimana agar kita bisa membangun iman yang sedemikian kuat seperti iman budak perempuan itu?

Kita hanya dapat membangun iman melalui keintiman pribadi dengan Allah. Caranya? Dengan senantiasa mendekat kepada-Nya. Artinya, kita membiasakan diri untuk berjalan bersama Kristus setiap hari dan mengikuti pimpinan-Nya. Dari kebiasaan inilah kita akan terus-menerus makin mengenal dan menyadari kehadiran Allah setiap saat di dalam hidup kita. Anak perempuan dari Israel itu hidup sebagai tawanan perang yang dijadikan budak di rumah Naaman, tetapi dia tetap menyadari keberadaan dan pimpinan Allah atas hidupnya, sehingga imannya kepada Allah tetap kuat dan dia mampu berdampak dari imannya itu. Pengenalan akan Allah yang benar membuat dia bertahan dan makin kuat dalam iman kepada Allah. Alhasil, dia sanggup hidup seturut pimpinan Allah. Oleh kesaksian imannya, budak perempuan belia itu memperkenal Allah Israel kepada bangsa Aram, yaitu Tuhan yang penuh kasih dan penuh kuasa, yang peduli atas segala bangsa dan sanggup menyembuhkan segala penyakit. Alkitab tidak melanjutkan kisah hidup si budak perempuan, tetapi kesaksian iman Naaman sendiri ketika menjadi percaya kepada Allah menyimpulkan dampaknya, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel,” (2 Raj. 5:15).

Hidup dalam iman kepada Allah dan seturut kehendak Allah adalah hidup yang dekat dengan Dia setiap saat. Inilah hidup yang senantiasa berjalan bersama Kristus, belajar dari Kristus, dan berubah menjadi serupa Kristus. Hidup yang demikian akan membawa kemuliaan Allah di mana pun dan di tengah-tengah siapa pun.

 

Pertanyaan refleksi:

  1. Apakah saya selalu membangun hubungan yang intim dengan Kristus setiap saat?
  2. Hal apa yang saat ini sedang saya pelajari dari Kristus supaya saya menjadi makin serupa dengan-Nya? Apakah saya sudah atau sedang mengalami perubahan dalam hal yang saya pelajari tersebut?
  3. Apakah saya telah hidup seturut kehendak Allah dengan membawa dampak terang Kristus bagi orang-orang di sekitar saya?
2024-01-31T11:53:42+07:00