//Hidup itu lebih penting dari makanan

Hidup itu lebih penting dari makanan

“Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan?” “Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat. 6:24-25)

Ini adalah perkataan Yesus yang tegas kepada banyak orang termasuk murid-muridnya, supaya mereka tidak khawatir dalam hidup ini. Kita tahu bahwa kita bisa hidup tanpa memiliki rumah. Tanpa ponsel. Tanpa ranjang. Tanpa liburan. Tetapi, kita tidak bisa hidup tanpa makanan. Kita harus makan agar hidup. Kalau tidak makan selama sehari atau dua hari, badan kita lemas dan kita bisa jatuh sakit. Kalau tidak makan sebulan atau lebih, kita bahkan bisa mati. Makanan begitu penting sehingga kita makan secara teratur tiga kali sehari. Ke mana saja kita pergi, termasuk ke luar negeri atau ke luar kota, hal utama yang kita perhatikan adalah makanan. Makanan enak adalah sesuatu yang dikejar. Setiap hari di otak kita selalu ada pertanyaan “mau makan apa” atau “mau makan di mana”. Tetapi, Yesus justru berkata bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan. Mengapa demikian?

Makanan adalah gambaran kebutuhan hidup yang sangat pokok. Yang dimaksud di sini sebenarnya tidak hanya mencakup makanan, namun juga uang, bisnis, karier, calon pasangan, atau apa pun yang menurut kita penting dan pokok. Di ayat sebelumnya, Yesus berkata bahwa harta di dunia ini tidak ada nilainya dibandingkan dengan harta di surga, yaitu agar kita tidak bergantung pada harta atau Mamon tetapi bergantung dan mengabdi pada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai yang terutama (Mat. 6:19-23). Jika kita merenungkannya, sesungguhnya apa pun yang kita anggap bernilai di dunia ini adalah termasuk dalam pengertian harta dalam peringatan Yesus ini, dan semua itu tidak ada lagi nilainya bagi kita ketika kita kembali ke surga kelak.

Setelah Yesus berkata, “Bukankah hidup ini lebih penting dari pada makanan?” Ia melanjutkan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6:31-35). Mencari Kerajaan Allah tujuannya adalah supaya kita menemukan kehendak dan rencana Allah dalam hidup kita. Perlu kita sadari bahwa kita lahir di dunia ini bukanlah kebetulan. Demikian pula, kita ada dalam sebuah keluarga maupun dalam sebuah negara bukanlah kebetulan. Kita diselamatkan Tuhan dan ada dalam sebuah jemaat lokal tertentu juga bukanlah kebetulan. Setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita adalah bagian dari maksud Tuhan.

Suatu hari, saya mengunjungi seorang sahabat yang sudah percaya pada Tuhan di sebuah rumah sakit. Usianya 50 tahun lebih. Saya ingat, beberapa bulan lalu ia berkata kepada saya, “Doakan ya, saya mau beli sebuah ruko untuk mengembangkan usaha restoran saya.” Orang yang beberapa bulan lalu begitu bersemangat mengembangkan bisnis untuk masa depan yang lebih baik sekarang terbaring di samping saya dalam kondisi koma di ruang ICU. Menyadari hal itu, sebuah ayat muncul di hati saya: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu,” (Yes. 55:8). Tiga hari kemudian, sahabat saya itu meninggal.

Masa hidup tidak dapat kita tentukan sendiri. Kita tidak pernah tahu Tuhan merencanakan usia kita hingga berapa tahun. Tanpa mencari kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu, kita hanya akan terfokus pada hal-hal yang kelihatan di dunia ini. Firman Tuhan berkata bahwa hal-hal yang kelihatan ini sifatnya sementara. Sebaliknya, kita harus berfokus pada hal-hal yang tidak kelihatan, yaitu kemuliaan kekal yang disediakan bagi masing-masing dari kita (2 Kor. 4:17-18). Fokus yang salah, yang bukan pada tujuan dan rencana Allah yang tidak kelihatan itu, akan membawa kita pada cara hidup yang salah. Orang percaya yang tidak mengerti tujuan dan rencana Allah akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Prioritas waktunya banyak dipakai untuk kenikmatan diri sendiri: menonton, main game, bersenang-senang, liburan, jalan-jalan, mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting, hang out untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Akibatnya, masa hidup dihabiskan untuk gaya hidup yang makin duniawi dan mengikuti tren dunia, orang itu tidak semakin rohani serta tidak semakin mengenal Allah yang sudah menyelamatkan dirinya dari kebinasaan. Selanjutnya, orang semacam ini semakin sibuk mengurus harta dunia dan lalai untuk mengurus harta surgawi yang dipercayakan Tuhan pada dirinya, yaitu jiwa-jiwa.

Tujuan hidup kita bukanlah sekadar membangun hidup yang lebih baik.  Kita yang sudah mengenal Allah harus memiliki cara hidup dan tujuan hidup yang berbeda dengan orang yang belum mengenal Tuhan. “Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”

Apa artinya “carilah dahulu Kerajaan Allah”? Sebuah kerajaan setidaknya terdiri atas tiga hal: raja, rakyat, dan hukum-hukum atau peraturan. “Carilah dahulu Kerajaan Allah” memiliki makna bahwa kita harus mencari Yesus sebagai Raja kita, Tuhan kita, terlebih dahulu atau terlebih utama daripada kita mengupayakan hal-hal lain apa pun. Sebelum memulai segala sesuatu, ambillah waktu untuk mencari Dia setiap hari. Apakah hari ini, kita sudah memberi waktu untuk mencari Firmannya? Apakah hari ini kita mendengar suaraNya? Ketika kita lahir baru, secara otomatis kita menjadi rakyatNya atau umatNya, sebab kita sudah berpindah dari kerajaan gelap kepada kerajaan Anaknya yang terang (Kol. 1:13). Setiap kerajaan dan setiap suku atau kelompok masyarakat memiliki cara hidup maupun budayanya sendiri. Budaya di suatu kelompok masyarakat bisa berbeda dengan di kelompok yang lain. Demikian juga, dalam Kerajaan Allah ada cara hidup/budaya baru yang perlu kita hidupi. Kata “kebenarannya” atau “righteousness” (dalam terjemahan bahasa Inggris) dapat diartikan sebagai cara hidup yang benar. Bahasa Yunaninya adalah “dikaisone”, yaitu sebuah kata yang sama yang dipakai Yesus dalam Matius 5:20 dan diterjemahkan sebagai “hidup keagamaan” dalam Alkitab bahasa Indonesia. “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu (dikaisone) tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan (dikaisone) ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Alkitab berisi hukum-hukum atau perintah-perintah Allah. Ketika kita taat melakukan perintah Allah, cara hidup kita berubah. Bahkan, tujuan hidup kita juga berubah. Tujuan hidup kita bukanlah lagi sekadar hidup yang lebih baik, karier yang lebih baik, bisnis yang lebih baik, sekolah yang lebih baik, pernikahan yang lebih baik, keluarga yang lebih baik, pelayanan yang lebih baik, dan hal-hal lainnya yang lebih baik di dunia ini. Semuanya ini memang penting, tetapi ada prioritas utama yang lebih penting, yaitu melakukan kehendak Allah atau menggenapi panggilanNya dalam hidup kita. Apakah sekarang kita yakin bahwa kita sedang mengerjakan apa yang Tuhan mau? Atau justru apa yang kita mau sendiri? Apakah kita sedang melakukan apa yang menjadi rencana Allah atau apa yang menjadi rencana kita sendiri? Jika visi hidup kita tidak membangun Kerajaan Allah, pasti kita sedang membangun kerajaan kita sendiri dan melakukan rencana kita sendiri. Sering kali, kita berjuang untuk hidup yang sementara di dunia ini, tetapi tidak berjuang untuk hidup kita di kekekalan kelak. Kita tidak berjuang supaya rencana Allah digenapi dalam hidup kita. Sebenarnya, apakah rencana Allah? Alkitab berkata “…supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua orang berbalik dan bertobat” (1 Ptr. 3:9). Melalui hidup kita, apakah orang-orang mengalami kasih Kristus, mendengar Injil, menerima keselamatan, dan hidup mereka berubah? Apa pun cara dan medianya, inilah rencana Allah bagi hidup kita orang-orang yang telah diselamatkanNya!

Ketika Paulus mengerti panggilan Tuhan dalam hidupnya. soal hal-hal pokok dalam hidup di dunia (“makan”) sudah tidak lagi penting bagi dia. Ada kalanya cukup, ada kalanya kurang, dan semuanya itu baik-baik saja, sejauh dia tetap melakukan rencana Tuhan (“mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya”). “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” (Fil. 4:12-13). Tujuan hidup Paulus adalah ‘bekerja memberi buah’, dan ini menunjukkan bahwa Paulus hidup dalam prioritas yang benar, yaitu melakukan kehendak Tuhan sebagai yang terutama.

Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2016, apakah tujuan hidup Anda? Ingat, hidup lebih penting daripada makanan, dan Anda lahir dengan rencana Allah yang besar. Jangan biarkan rencana itu tidak terjadi hanya karena kekhawatiran Anda atau berbagai masalah yang Anda sedang hadapi. Mari kita mengalaminya bersama, bahwa selalu ada kasih karunia untuk kita menemukan dan menggenapi kehendakNya.

2019-10-17T12:32:41+07:00