Bagaimana kita bisa mengetahui apakah jalan yang sedang kita lalui adalah jalan Tuhan atau bukan merupakan pertanyaan yang sering disampaikan oleh banyak anak Tuhan. Mungkin, ini pertanyaan kita sendiri pula. Pertanyaan ini menunjukkan perlunya kita semua belajar memahami jalan Tuhan.
Pada dasarnya, cara berpikir kita sebagai manusia berbeda dengan cara berpikir Tuhan. Akibatnya, kita tidak dapat melihat apa yang bakal terjadi menurut cara berpikir Tuhan. Selain itu, pola dan cara pandang dunia tempat kita hidup ini pun berbeda dengan pola dan cara Tuhan, seperti kata Firman-Nya:
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan, seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu,” (Yes. 55:8-9).
Lalu, bagaimana kita dapat mengenali bahwa sesuatu adalah pola, cara, dan jalan Tuhan? Mari kita belajar sepuluh tanda atau ciri jalan Tuhan.
- Jalan Tuhan tidak instan, tetapi perlu proses
“Dan walaupun Tuhan memberikanmu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,’ entah kamu menganan atau mengiri,” (Yes. 30:20-21).
- Jalan Tuhan tidak langsung lancar terbuka seluruhnya, tetapi selangkah demi selangkah
“Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan, mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung,” (Ams. 4:18-19).
- Jalan Tuhan bukan jalan yang lebar, melainkan jalan yang sempit
“Masuklah melalui pintu sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya: karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya,” (Mat. 7:13-14).
- Jalan Tuhan bukan memuaskan keinginan, melainkan menjawab kebutuhan
“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena dia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, dia melahirkan dosa: dan apabila dosa itu sudah matang, dia melahirkan maut. Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang:pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran,” (Yak. 1:14-17).
- Jalan Tuhan bukan kepalsuan, melainkan kebenaran yang solid
“Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ketengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah,” (Kis. 20:29-31).
- Jalan Tuhan bukan menuju kehancuran, melainkan menuju kehidupan
“Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ, Kata Tomas kepada-Nya: ‘Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?’ Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’” (Yoh. 14:4-6).
- Jalan Tuhan dilalui bukan dengan kesombongan, melainkan dengan keadilan dan kerendahan hati
“Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak,” (Dan. 4:37)
- Jalan Tuhan tidak menuntut balas, tetapi menyerahkan hak kepada Tuhan
“Ketika Dia dicaci maki, Dia tidak membalas dengan mencaci maki: ketika Dia menderita, Dia tidak mengancam, tetapi Dia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil,” (1 Ptr. 2:23).
- Jalan Tuhan tidak mementingkan yang sementara, tetapi mengutamakan kekekalan
“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal,” (2 Kor. 4:18).
- Jalan Tuhan bukan hawa nafsu yang menyesatkan, melainkan penderitaan karena kebenaran
“Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran daripada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka,” (2 Ptr. 2:2, 21).
Mari cermat mengamati kehidupan kita menurut tanda-tanda jalan Tuhan ini, dan berhati-hati menjaga hidup kita supaya tetap ada di jalan Tuhan.