///Hukum Kemustahilan (Impossibility)

Hukum Kemustahilan (Impossibility)

Saya tidak setuju dengan prinsip ini. Bagi saya, alasannya sangat sederhana, yaitu bahwa manusia bukanlah Tuhan yang Mahasempurna. Dalam kehidupan ini, akan tetap ada hal-hal yang tidak mungkin saya lakukan (atau saya capai/dapatkan). Inilah hukum kemustahilan. Jika Bapak/Ibu/Saudara pernah bertemu saya secara langsung, Bapak/Ibu/Saudara tentu tahu bahwa tidak mungkin bagi saya untuk menjadi seorang atlet gymnastics profesional. Tubuh saya terlalu berlemak untuk itu. Demikian pula, tidak mungkin bagi saya untuk menjadi seorang seniman lukis. Saya terlalu tidak sabar untuk itu.

Di sisi lain, ada pula hal yang saya pelajari mengenai hukum kemustahilan. Hukum kemustahilan tidak pernah membuat saya putus asa. Sebaliknya, hukum kemustahilan justru membantu saya menemukan apa yang mungkin saya lakukan (atau saya capai/dapatkan). Secara sederhana, hukum kemustahilan berkata, "You will not understand your possibility before you understand your impossibility." Dalam bahasa Indonesia, "Anda tidak akan dapat mengerti hal-hal apa yang benar-benar mungkin bagi Anda sebelum Anda memahami hal-hal apa saja yang mustahil bagi Anda."

Tiga Titik Kritis Hukum Kemustahilan

Kesalahan banyak orang adalah terlalu memfokuskan perhatian, energi, dan waktu pada apa yang dianggap sebagai kemustahilan. Orang-orang yang terlalu memfokuskan hidupnya pada kemustahilan cenderung merasa hidup mereka gagal, tidak dapat melakukan dan mencapai apa-apa, lalu putus asa.

Namun, kesalahan banyak orang lainnya adalah terlalu cepat memutuskan suatu hal sebagai sesuatu yang mustahil. Banyak orang kurang berfokus, kurang tekun, kurang ulet, dan kurang kreatif dalam berusaha mencapai apa yang telah mereka rencanakan. Mereka berhenti di tengah jalan dan menamai kegagalan mereka sebagai "kemustahilan".

Keduanya adalah dua titik kritis umum dalam hukum kemustahilan. Hati-hati, masih ada titik kritis yang ketiga. Kesalahan banyak orang yang terakhir adalah tidak menghiraukan kemustahilan. Orang-orang seperti ini menganggap bahwa kemustahilan sebenarnya tidak ada atau tidak nyata. Segalanya diyakini mungkin-mungkin saja, asalkan mereka sungguh-sungguh berkehendak.

Lalu, bagaimana hidup dalam hukum kemustahilan yang benar? Kuncinya adalah membangun batas-batas kemustahilan yang sehat.

1. Pahamilah dengan baik apa yang mungkin dapat kita lakukan/capai.
Tuhan menciptakan setiap orang dengan bakat-bakat yang cukup dan memadai, karena memang Dia merancangkan agar hidup kita berhasil dan maksimal. Kita bahkan tidak akan pernah mempunyai waktu yang cukup untuk menajamkan semua bakat kita sepanjang hidup kita. Karena itu, fokuskan energi dan waktu kita untuk mengenali titik-titik kekuatan atau bakat-bakat kita.

2. Latihlah titik-titik kekuatan terbaik kita.
Tidak ada suatu hal pun yang sempurna atau tidak mempunyai cacat di dunia ini. Software terbaik pun tetap memiliki keterbatasan. Gadget terbaik pun tetap memiliki kelemahannya masing-masing. Teori-teori terbaik pun tetap memiliki batas waktu efektifnya. Karena itu, daripada memfokuskan perhatian pada hal-hal yang mustahil kita lakukan, fokuskan diri kita untuk menajamkan hal-hal yang memang mampu kita lakukan.

3. Terimalah kemustahilan tersebut sebagai bagian dari diri kita.
Orang-orang yang dapat menerima keterbatasan pribadi sebagai bagian dari dirinya dan memfokuskan perhatian pada hal-hal yang dapat dilakukan akan terus melangkah maju di jalan yang telah direncanakan Tuhan. Orang-orang yang menerima keterbatasan pribadi akan menghargai bantuan, ide, dan pengajaran orang lain. Orang-orang seperti inilah yang akan senantiasa membuka diri dan hasilnya akan terus bertumbuh menjadi lebih baik sealigus tetap rendah hati.

Aplikasi Praktis:
Ketika kita memfokuskan diri kita pada apa yang mungkin kita lakukan, apa yang mustahil tidak lagi membatasi diri kita.

2019-10-12T11:00:21+07:00