Hukum Mimpi

Ketika penghujung dan awal tahun, berkali-kali saya menemukan banyak orang yang membuat resolusi tahunan. Tidak jarang pula saya membantu orang-orang menetapkan mimpinya dalam wujud resolusi tahunan. Sayang, dalam pengalaman saya membantu mereka semua, saya menjumpai fakta bahwa banyaknya orang yang menyusun mimpi-mimpi dalam wujud resolusi tahunan jauh melebihi banyaknya orang yang menuai hasil di tahun berikutnya.

Pemimpi dan Pengkhayal

Berbicara mengenai resolusi tahunan, janji, atau tekad, kita bisa menemukan dua jenis orang: pemimpi dan pengkhayal. Seorang pemimpi adalah seseorang yang mampu melihat ke depan. Seorang pemimpi mampu melihat apa yang belum terlihat oleh kebanyakan orang. Seorang pemimpi tidak puas dengan situasi yang ada sekarang dan dia mengharapkan dengan sungguh-sungguh masa depan yang lebih baik, dan kemudian melakukan suatu tindakan nyata untuk mewujudkan mimpinya.

Di sisi lain, seorang pengkhayal adalah seseorang yang hanya bermimpi. Seorang pengkhayal memimpikan keadaan yang lebih baik tetapi tidak lama kemudian dia tidak lagi menginginkan perubahan dan dia tidak melakukan apa–apa untuk mewujudkan mimpinya. Seorang pengkhayal melihat samar-samar saja tentang apa yang ada jauh di depan, tetapi sebentar kemudian ia memalingkan pandangannya ke fokus yang lain. Ciri-ciri yang membedakan kedua orang ini adalah fokus, komitmen, dan tindakan nyata.

Fokus dan Komitmen Melahirkan Tindakan Nyata

Ada dua hal yang perlu diwaspadai ketika berbicara mengenai komitmen dan fokus. Kebanyakan orang mencari dan menetapkan komitmennya pada tujuan-tujuan pribadi dan pada kekuatan diri sendiri. Sebagai pengikut Kristus, kita harus mengingat ajaran Tuhan Yesus di Yohanes 15:5, yang berbunyi (dalam bahasa sederhana): "Akulah batang utama dari pohon anggur dan kamu adalah dahan/rantingnya. Siapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, maka ia akan berbuah lebat. Sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

Tujuan-tujuan yang harus kita capai seharusnya bukanlah tujuan-tujuan pribadi kita, melainkan tujuan-tujuan Kerajaan Allah. Komitmen kita seharusnya bukan didasarkan pada kemampuan diri kita, melainkan pada kerja sama/partnership antara Tuhan dengan kita sebagai ciptaan-Nya. Ini bukan berarti kita tidak berusaha atau kita hanya "duduk diam dan berdoa". Tuhan mengatakan dengan tegas, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku," (Mat. 10:38). Ada salib yang harus kita pikul. Ada tanggung jawab yang harus kita kerjakan. Ada peperangan yang harus kita perjuangkan. Namun, ketika kita berusaha mengerjakan yang terbaik, Tuhan akan menolong kita menyelesaikan hal-hal yang ada di luar batas kemampuan kita.

Hal kedua yang perlu diwaspadai adalah ketidak-fokusan (ketiadaan fokus atau terlalu banyak fokus). Paulus menganalogikan hidup ini sebagai sebuah pertandingan, "Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! …(tetapi) Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul," (1 Kor. 9:24,26).

Jika kita menemukan 10 titik kritis di dalam diri kita, jangan langsung memperbaiki kesepuluh titik kritis itu sekaligus pada saat yang bersamaan. Mulailah dengan salah satu titik kritis yang paling utama. Perbaiki hal itu hingga tuntas bersama dengan Tuhan. Maka, melalui proses dan waktu kita akan melihat bahwa Tuhan pun telah bekerja menolong kita mengatasi seluruh titik kritis yang kita miliki. Jika kita mempunyai berbagai mimpi di tahun yang baru ini, mulailah mengusahakannya satu per satu dengan tekun dan fokus. Berusahalah untuk tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Maka, kita akan melihat bahwa di akhir tahun Allah telah menolong kita mencapai jauh lebih banyak daripada yang kita rencanakan di akhir tahun.

Mari kita mulai membuktikan bahwa mimpi kita bukanlah sekadar khayalan, dengan cara bertindak secara nyata mewujudkannya. Mari kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Aplikasi Praktis

Jika kita hidup untuk kepentingan Allah, kita akan mendapati bahwa Allah membuat hidup kita berkembang melampaui batas perkiraan kita. Segera periksa tanggung jawab yang bisa segera dieksekusi. Segera lakukan. Pasti ada sukacita bagi kita masing-masing!!

Tuhan Yesus memberkati.

2019-10-12T11:06:41+07:00