(Sebuah perenungan dari peristiwa di 1 Raja-Raja 17:7-24)
Suatu kali pada zaman Nabi Elia, terjadilah musim panas yang hebat di wilayah Israel. Allah menahan hujan selama tiga setengah tahun sebagai hukuman-Nya atas ketidaktaatan Israel. Sungai-sungai mengering, pohon-pohon mati, sehingga tidak ada hasil tanah yang dapat dipanen. Bahan makanan menipis dan langka bagi kebanyakan orang. Kesusahan itu juga berpengaruh ke wilayah-wilayah sekitar Israel; salah satunya Sarfat, sebuah kota pelabuhan antara Tirus dan Sidon di Fenisia.
Dalam situasi tersebut, Allah membawa Nabi Elia ke wilayah Sarfat, dan di sanalah Elia diberi makan melalui seorang janda yang mempunyai seorang anak, sementara mereka hampir mati karena tidak ada lagi persediaan makanan dan minuman yang membuat mereka dapat bertahan hidup.
Dikisahkan di dalam Perjanjian Lama, di pintu gerbang kota ada seorang janda yang sedang mengumpulkan ranting-ranting kering, yang lalu berpapasan dengan seorang laki-laki berpakaian jubah panjang dengan ikat pinggang kulit. Dia tidak mengenal betul orang itu, Elia, nabi utama orang Israel saat itu. Di sisi lain, dia menyadari bahwa Elia adalah orang suci dari bangsa Israel dan dia sering mendengar kehebatan Allah bangsa itu.
“Ibu, cobalah ambil sedikit air dalam kendi, supaya aku minum,” minta Elia kepada janda itu. Anehnya, walau ibu itu tidak mengenal Elia dan hanya mempunyai air pas-pasan, dia tidak sampai hati membiarkan Elia kehausan. Maka, dia segera beranjak pulang untuk mengambil air. Namun baru saja janda tersebut hendak berjalan, Elia berseru lagi kepadanya, “Ambilkan juga bagiku sepotong roti, Bu.”
“Sepotong roti?” tanya janda tersebut sambil matanya membelalak. Kali itu, permintaan sang orang suci itu pun aneh baginya. Dia tidak menyanggupi permintaan itu, tetapi menjelaskan keberadaan dirinya kepada Elia; bahwa dia hanya mempunyai segenggam tepung dan sedikit minyak yang hanya cukup dimakan olehnya dan anaknya, lalu setelah itu mereka siap menanti kematian. Namun, rupanya penjelasan itu tidak berpengaruh bagi Elia. Elia tetap memintanya membuatkan baginya terlebih dahulu sepotong roti. Akhirnya janda yang telah siap menanti kematian itu menuruti permintaan Elia.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sesuatu dalam perkataan Elia memberikan kesan yang berbeda di hati sang janda. Elia mengucapkan kata-kata tertentu hingga dia yakin untuk berbuat sesuai yang Elia minta, “Sebab beginilah Firman Tuhan, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi.”
Firman Tuhan yang didengarnya melalui mulut Elia itu menjadi iman di dalam hati janda tersebut. Dia percaya, dan berespons dengan ketaatan akan permintaan Elia. Kita tahu kelanjutan kisahnya; mukjizat terjadi, dan janda itu bersama anaknya mengalami kehidupan yang terus berlanjut dalam pemeliharaan Tuhan yang tiada habis sesuai perkataan Elia.
Setiap manusia pasti mengalami berbagai musim kehidupan, termasuk musim kemarau panjang maupun musim semi yang warna-warni penuh bunga. Bagaimana kita melewati setiap musim tersebutlah yang menentukan keindahan yang kita alami, yang tergantung pada cara kita menyikapi setiap hal yang terjadi dan bersama siapa kita melewati masa tersebut.
Janda di Sarfat itu mengalami musim kemarau panjang dan kelaparan yang hebat di hidupnya. Dia hampir putus asa, karena keesokan harinya mungkin dia dan anaknya akan mati karena tidak ada lagi makanan yang bisa dimakan. Namun, dia tidak menangisi nasib atau mengunci diri di kamar. Dia tidak pahit dan mempersalahkan semua orang akan kesusahannya. Dia tidak menyerah begitu saja hari itu, dan tetap pergi ke gerbang kota untuk mengumpulkan ranting pohon yang akan dijadikan bahan bakar untuk memasak. Dari keputusan itulah dia jadi bertemu dengan Elia.
Dia tidak menyangka perjumpaannya dengan Elia membawanya berkenalan dengan Allah yang hidup, yang dulu kebesaran-Nya hanya dia dengar dari apa kata orang. Ketaatannya kepada Firman Allah membuat janda tersebut berani menukar yang tampak, sisa persediaan bahan makanan, dengan yang tidak tampak, yaitu janji Tuhan. Imannya itu membuat dia mengalami mukjizat Allah. Tergenapilah Firman yang berkata dalam Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Iman kepada Allah membuat kita dapat bertahan melewati masa-masa kemarau yang terjadi dalam hidup kita, karena Allah tidak pernah meninggalkan kita berjalan sendiri melewati apa pun, termasuk melewati padang gurun yang tandus. Iman kita kepada Allah menentukan kekuatan kita melewati segala musim itu, sementara iman itu ditentukan oleh kelekatan hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan. Karena itulah, penting bagi kita untuk selalu melekat kepada Tuhan. Tangan-Nya selalu menopang, Firman-Nya selalu memberi kekuatan, dan kasih-Nya selalu menghibur, sehingga kita dapat melewati setiap musim dengan anugerah-Nya.
Mari, kita belajar untuk menjalani setiap musim bersama dengan Tuhan dan berespons terhadap setiap Firman Tuhan dengan hati dan ketaatan yang benar, sehingga Firman-Nya menjadi nyata di dalam hidup kita. Ingatlah, Dia adalah Allah Immanuel, Allah yang beserta dengan kita di setiap musim hidup kita.
Refleksi Pribadi:
- Pergumulan apa yang sedang engkau hadapi hari-hari ini?
- Dalam situasi saat ini, masihkah engkau melekat kepada Firman-Nya?
- Bagaimana engkau berespons terhadap Firman Tuhan yang datang padamu?