//In Genuineness, We Trust (哪里有真诚,哪里就有信任心)

In Genuineness, We Trust (哪里有真诚,哪里就有信任心)

Life is full of interpersonal relationships, and in them, there are many “unwritten rules”. Staying aware of them and keeping them are key to having good and fruitful relationships. Learning from Jesus, I find that one of them is building rapport, which is essential. Makin sure to foster the comfortable connections or bonds between people, prior to bringing up “heavier”, more serious subjects we see as important, is essential. Too bad, many people (Christians certainly included) simply overlook it in their eagerness to “convert” others into their own ideas. This explains the failure and frustrations many of us experience; it’s only natural that we tend to reject the ideas of those whom they don’t really know.

生活中充满了与他人的关系,其中有很多 “不成文的规则”。 了解并遵守这些规则是建立良好和互利关系的关键。 向耶稣学习,我发现其中一条规则就是以真诚建立关系,这条规则非常重要。 在讨论我们认为重要的更 “沉重” 或严肃的话题之前,我们必须真诚地与他人建立关系并培养一种舒适感。 不幸的是,许多人(包括基督徒)忽视了这一点,因为他们希望按照自己的标准 “改变” 他人。 这就是为什么我们许多人的经历中有很多失败和挫折; 自然地,人类倾向于拒绝来自他们不认识的人的指示。

Hidup ini penuh dengan hubungan dengan sesama, dan di dalamnya terdapat banyak “aturan tidak tertulis”. Menyadari dan menjaga aturan-aturan itu adalah kunci untuk memiliki hubungan yang baik dan saling bermanfaat. Belajar dari Yesus, saya menemukan bahwa salah satu aturan itu adalah membangun hubungan dengan ketulusan, dan aturan ini sangat penting. Kita harus tulus membangun hubungan dan membina rasa nyaman bersama orang lain, sebelum membicarakan topik yang lebih “berat” atau serius yang kita anggap penting. Sayang sekali, banyak orang (termasuk umat Kristen) mengabaikan hal itu karena keinginan mereka untuk “mengubah” orang lain menjadi seperti standar mereka sendiri. Itulah sebabnya terjadi banyak kegagalan dan frustrasi dalam pengalaman banyak dari kita; wajar saja, manusia memang cenderung menolak arahan orang lain yang tidak mereka kenal.

 

 

We Christians have made the same mistake, unfortunately. Too often we, consciously or unconsciously, ignore the importance of building rapport and decide to just “share” the good news and the truth we claim to know personally. We are well-meaning, of course, but we choose to skip the process of building rapport because it is usually taxing. We need time, little steps, being present, consistency, and so on and so forth, until finally trust is built (or sometimes signs of trust is still far from sight because the other party is having certain inner issues or traumas). So we have this good news of the gospel of Jesus Christ, the complete guide from the Bible for an abundant life in His Kingdom, but we often fail to effectively bring them to others because they don’t trust us. Well, so it’s said, “It’s me, I’m the problem, it’s me.”

可惜的是,我们基督徒也犯同样的错误。 我们常常有意识或无意识地忽视以真诚的方式建立良好关系的重要性,而只是简单地用我们已经知道的好消息和真理来 “讲授” 我们的邻居。 当然,我们的初衷是好的,但我们选择跳过真诚地建立良好关系的过程,因为这通常很幸苦。 我们需要一个时间、小步骤、全神贯注、一致性等等的过程,直到最终建立起了信任(尽管有时信任的迹象仍然不明显,因为我们服侍的人仍然有内在问题或某些创伤)。 结果,我们这些拥有耶稣基督福音好消息的,即在祂的国度里有完整圣经指南过上丰盛生活的人,往往无法有效地将其传达给其他人,因为他们对我们没有信心。 这就像今天许多年轻人所说的那样:“是我,我就是问题,根源就是我自己。”

Sayangnya, kita sebagai orang Kristen juga melakukan kesalahan yang sama. Sering kali kita, secara sadar atau tidak sadar, mengabaikan pentingnya membangun hubungan baik secara tulus dan langsung saja “menceramahi” sesama kita dengan kabar baik dan kebenaran yang kita sebut telah kita kenal lebih dahulu. Tentu saja kita memang bermaksud baik, tetapi kita memilih untuk melewatkan proses membangun hubungan baik dengan ketulusan, karena biasanya hal itu melelahkan. Kita butuh proses waktu, langkah-langkah kecil, kehadiran penuh dengan konsentrasi, konsistensi, dan lain sebagainya, hingga akhirnya kepercayaan terbangun (padahal kadang tanda-tanda kepercayaan itu masih belum terlihat karena sesama yang kita layani itu masih punya masalah batin atau trauma tertentu). Alhasil, kita yang mempunyai kabar baik tentang Injil Yesus Kristus, panduan lengkap dari Alkitab untuk hidup berkelimpahan di Kerajaan-Nya, sering gagal menyampaikannya secara efektif kepada orang lain karena mereka tidak punya rasa percaya kepada kita. Ini seperti yang dikatakan banyak anak muda masa kini, “Ini aku, akulah biang masalahnya, aku sendiri.”

 

 

Pondering over the problem, however, is not taking us anywhere without real action. Let us take example from how Jesus had intentionally built rapport before sharing the gospel or before He sent His disciples to missions. He knew exactly that people, who desperately need Him, need to trust and accept Him first before they can trust and accept His message.

然而,如果不采取具体行动,只停留在思想这个问题上是不会有任何结果的。 让我们以耶稣为例,在分享福音或派遣门徒执行使命之前,耶稣是如何刻意真诚地建立良好的关系的。 祂清楚地知道,最需要祂的人首先需要能够相信祂并接受祂,然后他们才能相信并接受祂的托付。

Namun, merenung-renungkan masalahnya tidak akan membawa kita ke mana-mana tanpa tindakan nyata. Mari kita ambil contoh dari Yesus, bagaimana Yesus dengan sengaja membangun hubungan baik dalam ketulusan, sebelum membagikan Injil atau sebelum Dia mengutus murid-murid-Nya ke misi. Dia tahu persis bahwa orang-orang yang sangat membutuhkan Dia itu perlu bisa percaya kepada Dia dan menerima Dia lebih dahulu sebelum mereka dapat percaya dan menerima pesan-Nya.

 

 

When He met the Samaritan woman, He didn’t directly share God’s truth to her, or rebuke her for her sins. Jesus took time to make a conversation with her, in which He showed genuine interest in her life, and only later brought up the truth within that conversation. When young children came to Jesus, we can also clearly see how Jesus was an expert in relationship building; He let those noisy, disrupting kids gather around Him and He spent some time with them. One of the good signs that someone is good in relationship building is that children love to be around him/her, after all.

当耶稣遇见撒玛利亚妇人时,祂并没有直接教导她有关神的真理,也没有责备她的罪。 耶稣花时间与她交谈,祂对她的生活表现出真正的兴趣。 直到那时,耶稣才在那次谈话中传达了真理。 当小孩子来到耶稣面前时,我们也可以清楚地看到耶稣是如何建立关系的专家; 祂让吵闹、爱捣乱的孩子们聚集在他周围,并花时间与他们互动。 顺便说一句,强烈表明某人善于建立关系的特征之一是孩子们喜欢和那个人在一起。

Ketika Yesus bertemu dengan wanita Samaria, Dia tidak secara langsung mengajarkan kebenaran Tuhan kepada si wanita atau menegurnya atas dosa-dosanya. Yesus meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengannya, dan Dia sungguh menunjukkan minat yang tulus terhadap kehidupan wanita itu; baru kemudianlah Yesus menyampaikan kebenaran dalam percakapan itu. Ketika anak-anak kecil datang kepada Yesus, kita juga dapat melihat jelas betapa Yesus ahli dalam membangun hubungan; Dia membiarkan anak-anak yang berisik dan mengganggu itu berkumpul di sekeliling-Nya dan Dia meluangkan waktu untuk berinteraksi bersama mereka. Omong-omong, salah satu ciri yang kuat menunjukkan bahwa seseorang pandai membangun hubungan adalah anak-anak senang berada di dekat orang itu.

 

 

With His disciples, Jesus spent most of His time not just to teach them “principles” and “theories” of His Kingdom. Instead of teaching them in series of lectures, He taught His disciples using and through their daily life together. He was relevant and real, discipling them using their own situations. He showed the disciples the importance of spending time with God as our Father, He brought them when He ministered to people, performed miracles, and cast away demons. He took the disciples when He willingly sat down, chatted, and dined with the so-called sinners. He invited them to be involved in His miraculous, empathetic gesture towards the “needy” souls through the bread and fish miracles. And so many more, while the point remains the same: in His discipleship, Jesus really focused on building genuine relationships prior to giving any assignments or teaching His disciples. That’s building strong rapport.

耶稣也花了大部分时间与祂的门徒一起,不单单教导他们祂的国度的 “原则” 和“理论”。 耶稣并没有通过一系列正式的讲座来教导他们,而是通过他们日常一起的生活来教导祂的门徒。 祂利用他们自己的生活情境,为他们提供适合现实生活背景的课程。 祂向门徒们展示了花时间与作为我们的天父的上帝在一起的重要性,祂在服务人们、创造奇迹和赶鬼时与他们互动。 当祂坐下来与 “罪人” 聊天、吃饭时,祂也把他们包括在内。 祂邀请他们参与到祂为 “有需要的” 灵魂行神迹和富有同情心的事迹中,例如饼和鱼的奇迹。 耶稣还做了更多的事情,但本质仍然是一样的:在祂的门徒训练中,耶稣真正专注于在分配任务或教导祂的门徒之前建立真试的关系。 耶稣用祂的真诚建立了牢固的关系。

Bersama murid-murid-Nya, Yesus pun menghabiskan sebagian besar waktu-Nya tidak hanya untuk mengajarkan “prinsip” dan “teori” Kerajaan-Nya kepada mereka. Yesus tidak mengajar mereka dalam serangkaian ceramah yang resmi, tetapi justru mengajar murid-murid-Nya dengan dan melalui kehidupan sehari-hari mereka bersama. Dia memuridkan mereka dengan pembelajaran yang sesuai konteks kehidupan nyata, menggunakan situasi hidup mereka sendiri. Dia menunjukkan kepada para murid pentingnya mengambil waktu bersama Allah sebagai Bapa kita, Dia mengajak mereka ketika Dia melayani orang banyak, melakukan mukjizat, dan mengusir setan. Dia mengikutsertakan mereka ketika Dia duduk mengobrol dan makan bersama orang-orang “berdosa”. Dia mengundang mereka untuk terlibat saat Dia melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan penuh empati terhadap jiwa-jiwa yang “membutuhkan”, misalnya dalam mukjizat roti dan ikan. Masih banyak lagi yang Yesus lakukan, tetapi intinya tetap sama: dalam pemuridan-Nya, Yesus benar-benar berfokus pada membangun hubungan yang tulus sebelum memberikan tugas atau mengajar murid-murid-Nya. Yesus membangun hubungan yang kuat oleh ketulusan-Nya.

 

 

In the process of building rapport, trustworthiness in the most important factor. Jesus could share His messages to even sinners and they repented because they had seen that Jesus was someone they could trust. They had come to know that Jesus had no hidden intention of exploiting His disciples in any way, instead He simply wished to empower them to be the best version of their unique selves.

在真诚建立良好关系的过程中,信任是最重要的因素。 耶稣甚至能够与罪人分享祂的信息,他们悔改了,因为他们看到耶稣是他们可以信任的人。 他们最终了解到,耶稣并没有任何隐藏的意图来利用祂的门徒,相反,祂想帮助他们,使他们成为独特的、最好的自己。

Dalam proses membangun hubungan baik dengan tulus, kepercayaan merupakan faktor yang paling penting. Yesus dapat membagikan pesan-Nya bahkan kepada orang-orang berdosa dan mereka bertobat karena mereka telah melihat bahwa Yesus adalah seseorang yang dapat mereka percayai. Mereka akhirnya mengetahui bahwa Yesus tidak mempunyai niat tersembunyi untuk memperalat murid-murid-Nya dengan cara apa pun, sebaliknya Dia justru ingin menolong dan memampukan mereka untuk menjadi diri mereka sendiri yang unik dan terbaik.

 

 

Now, what about our own discipleship with others? Have we built genuine relationships with those closest to us, those we disciple? Do they see us as one with our message? When we talk about God’s Word, when we teach them the truth, do our lives show how we walk in that Word, that truth? Do they trust us, to the point that they know that we are there to empower them to be the best version of their unique selves, not to exploit or manipulate them toward our own goals?

那么,我们自己与他人的门徒训练又如何呢? 我们是否与最亲近的人(即我们教导的人)建立了真诚的关系? 他们是否认为我们是同样的人,并且与我们所传达的信息是一致的? 当我们讲神的话语时,当我们教导他们真理时,我们的生命是否表明我们如何行在神的话语和真理中? 他们能信任我们吗?直到他们知道我们的存在是为了帮助他们成为独特的、最好的自己,而不是为了我们自己的目的而操纵或欺骗他们?

Lalu, bagaimana dengan pemuridan kita sendiri bersama orang lain? Sudahkah kita membangun hubungan yang tulus dengan orang-orang terdekat kita, yaitu orang-orang yang kita muridkan? Apakah mereka melihat kita sama dan satu dengan pesan yang kita sampaikan? Ketika kita berbicara tentang Firman Tuhan, ketika kita mengajarkan kebenaran kepada mereka, apakah hidup kita menunjukkan bagaimana kita berjalan di dalam Firman dan kebenaran itu? Apakah mereka bisa percaya kepada kita, sampai mereka tahu bahwa kita hadir untuk menolong mereka agar menjadi diri mereka sendiri yang unik dan terbaik, bukan untuk memperalat atau mengakali mereka demi tujuan kita sendiri?

 

 

Time usually tells, and it will if it hasn’t. For us and for now, let us start building genuine rapport towards one another, and discipling one another in the process.

通常时间会证明一切,迟早。 现在,让我们开始彼此建立真诚的关系,并在这种真诚的过程中互相学习。

Biasanya waktulah yang akan menunjukkannya, cepat atau lambat. Untuk saat ini, marilah kita mulai membangun hubungan yang tulus satu sama lain, dan saling memuridkan dalam proses ketulusan itu.

 

 

God bless you.

上帝保佑。

Tuhan memberkati.

2024-03-27T11:14:42+07:00