//Injil Lukas

Injil Lukas

Kitab Injil Lukas adalah yang ketiga dari kumpulan Injil sipnoptik. Banyak cerita di dalamnya mirip dengan isi Injil Matius dan Markus tetapi susunan dan penekanannya berbeda.

Injil ini ditulis oleh Lukas, seorang tabib Yunani yang mengikut Paulus di Troas (Kis. 16:10-11). Dia juga ikut dalam perjalanan ke Yerusalem dengan Paulus serta bersama-sama Paulus di Roma. Paulus menyebut dia “Dokter Lukas, yang kita kasihi” (Kol. 4:14). Dia adalah anggota tim apostolik yang ikut dalam perjalanan bersama Paulus dan seorang teman sekerjanya (2 Tim. 4:11; Fil. 1:24).

Injil Lukas ditulis pada antara tahun 63 sampai 68 M, yaitu sebelum kejatuhan Yerusalem. Tujuan penulisan Injil Lukas adalah untuk memberitakan sejarah Yesus yang benar, yang didasarkan pada kesaksian orang yang sudah melihat dan mendengar langsung mukjizat dan pengajaran Yesus. Lukas mengirim Injil ini kepada seorang Yunani bernama Teofilus (maknanya dalam bahasa Yunani adalah “seorang yang mengasihi Allah”) dengan menjelaskan kepadanya, “… setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar,” (Luk. 1:3-4). Rupanya inilah jilid buku pertama yang ditulis Lukas kepada Teofilus, dan jilid buku yang kedua adalah kitab Kisah Para Rasul, yang berisi kelanjutan berita sejarah Gereja sesudah Yesus naik ke surga (Kis. 1:1).

Yesus ditampilkan dalam Injil Lukas sebagai Anak Manusia. Ayat kunci dalam kitab ini adalah “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat,” (Luk. 19:10). Di dalamnya tampak banyak sifat kemanusiaan Yesus dan interaksi Yesus dengan para pria dan wanita, yang menunjukkan sifat Anak Manusia yang mengenal, memperhatikan dan berbelas kasihan kepada pribadi kita sebagai manusia.

Lukas lebih banyak berbicara tentang wanita daripada para penulis Injil lain. Fokus pada kelahiran Yesus dalam kitab Lukas adalah wanita, yaitu Elisabet, Maria, dan Hanna. Hanya di dalam Injil Lukaslah disebut tentang banyak perempuan yang mengikut dan melayani Yesus (Luk. 8:1-3). Maria duduk di kaki Yesus sebagai murid-Nya; sesuatu yang bertentangan dengan adat dan tradisi Yahudi (Luk. 10:38-42). Wanita mengikuti Yesus sampai salib (Luk. 23:49) dan sesudah kebangkitan-Nya Dia pertama kali menyatakan diri dan dilihat oleh wanita (Luk. 24:1-10).
Mari kita telusuri masing-masing bagian isi Injil Lukas.

 

Kelahiran Yesus sebagai Anak Manusia (Luk. 1:5–2:52)

Kisah kelahiran Yesus paling lengkap diceritakan dalam kitab Injil Lukas. Matius menjelaskan kelahiran Yesus sebagai seorang raja menurut silsilahnya sebagai keturunan Daud dan dengan kisah kunjungan dari para orang majus. Lukas menjelaskan kelahiran Yesus sebagai seorang manusia, dengan silsilah-Nya sebagai keturunan Adam. Sedangkan dalam Injil Lukas, pada mulanya Lukas menjelaskan kelahiran Yohanes Pembaptis dulu dan barulah kemudian menceritakan kelahiran Yesus. Kedua orang tua dari kedua anak itu berjumpa dengan malaikat dan menanggapi berita dari malaikat itu. Malaikat datang kepada ayah Yohanes dan kepada ibu Yesus. Kedua anak itu lahir secara mukjizat, tetapi keduanya adalah mukjizat yang berbeda: kelahiran Yohanes adalah mukjizat karena ibunya sudah berumur lanjut; sedangkan kelahiran Yesus adalah mukjizat karena ibu-Nya seorang perawan. Perbedaan juga tampak dalam hal tanggapan yang diberikan terhadap berita dari malaikat itu: pertanyaan dari Zakharia menunjukkan keraguan dan dia menjadi bisu; tetapi pertanyaan dari Maria menunjukkan iman dan dan hasilnya dia menerima pujian (Luk. 1:26-38). Selanjutnya, Maria mengunjungi Elisabet dan anak dalam kandungan Elisabet melompat dengan sukacita, menyambut kedatangan Yesus. Elisabet memberkati Maria dan Maria bernyanyi kepada Tuhan (Luk. 1:39-56).

Injil Lukas lalu menjelaskan Yusuf dan Maria berjalan dari Nazaret ke Bethelem karena harus didaftarkan. Di sana karena tidak ada tempat lain, Yesus dibaringkan di dalam palungan. Kelahiran Yesus diumumkan oleh para malaikat kepada para gembala. Delapan hari kemudian Yesus dibawa ke bait Allah untuk disunat dan pada kesempatan itu Simeon bernubuat atas-Nya dan Hanna mengucap syukur kepada Allah lalu “berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem”. Perhatikan juga bagaimana waktu berumur 12 tahun Yesus berdiskusi dengan para ahli Taurat dan pemimpin agama dalam bait Allah, serta dicatat bahwa Yesus bertumbuh dalam hikmat dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk. 2:1-52).

Persiapan Sang Anak Manusia untuk Melayani (Luk. 3:1–4:13)

Yesus memulai pelayanannya di Galilea, tetapi sebelum itu, Yohanes mendahului-Nya untuk mempersiapkan jalan. Yesus pun dibaptis oleh Yohanes dalam sungai Yordan.

Seperti dalam kitab Injil Matius, ada silsilah Yesus yang dicatat. Silsilah ini adalah silsilah Maria lewat ayahnya, Eli. Yusuf disebut “anak Eli” karena menikah dengan Maria dan menjadi menantunya. Silsilah itu menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud, keturunan Abraham, dan keturunan Adam, sehingga, Dia sungguh adalah Anak Manusia. Bersama-sama, kedua silsilah Yesus dari Matius dan dari Lukas membuktikan secara sah dan legal bahwa Yesus berhak duduk di takhta Daud sebagai Raja Israel (Luk. 3:23-38).

Selanjutnya, dikisahkan bahwa Yesus digodai oleh Iblis. Kita melihat bahwa Yesus juga digoda, sama seperti setiap manusia. Dia diserang dalam tubuh, jiwa, dan roh, tetapi Dia sanggup mengalahkan Iblis dengan Firman Allah. Sebagai Anak Manusia, Dia menjadi contoh bagi kita, bahwa kita pun dapat mengalahkan Iblis dengan kuasa Firman Tuhan (Luk. 4:1-13).

Pelayanan Sang Anak Manusia di Galilea (Luk. 4:14–9:44)

Yesus ditolak di Nazaret yang adalah kota-Nya sendiri, tetapi justru diterima di Kapernaum, lalu Dia membuktikan bahwa Dia sungguh adalah Anak Manusia dengan menyatakan tanda kekuasaan di Galilea. Dia memanggil empat orang menjadi murid-Nya dan pada waktu yang sama memberikan mereka mukjizat penangkapan ikan yang ajaib, yang menunjukkan bahwa panggilan-Nya adalah untuk “menangkap manusia”. Kemudian Dia menyembuhkan seorang kusta sebagai contoh bagaimana “menangkap manusia” bagi Kerajaan Allah (4:14-5:6).

Yesus sebagai Anak Manusia mengalami konfrontasi dengan orang Farisi, yang sombong dan munafik. Yesus menantang mereka dengan memperlihatkan kuasa-Nya atas dosa: Yesus sanggup mengampuni dosa, padahal ini adalah suatu otoritas yang hanya dimiliki oleh Allah. Namun di sisi lain, Yesus juga makan dan minum dengan orang yang berdosa dan mengangkat salah satunya sebagai murid-Nya. Dia menunjukkan kuasa-Nya atas peraturan agamawi seperti hukum puasa dan hari Sabat, dan dengan kuasa-Nya sebagai Anak Manusia pula Dia menetapkan 12 murid untuk menjadi rasul-Nya (Luk. 5:7-6:16).

Yesus sebagai Anak Manusia juga memberikan pengajaran, dengan berkhotbah pada suatu tempat yang datar. Khotbah Yesus ini mirip tetapi berbeda dengan khotbah di atas bukit kepada orang banyak yang dikisahkan dalam Injil Matius (Mat. 5-9). Pada kesempatan di catatan Lukas ini, hukum Taurat di Perjanjian Lama tidak disebut. Khotbah kali ini diberikan kepada murid-murid-Nya untuk menunjukkan berkat bagi mereka yang mewarisi kerajaan serta tanggung jawab dan keputusan yang harus diambil oleh pengikut-Nya (Luk. 6:17-49).

Namun, pelayanan Anak Manusia bukan hanya ditujukan kepada orang Yahudi dan orang benar, tetapi juga kepada yang non-Yahudi dan orang yang berdosa. Fakta ini terlihat jelas dalam peristiwa penyembuhan seorang budak di Kapernaum. Yesus juga membangkitkan seorang anak laki-laki dari ibu di Nain, dan Dia diurapi oleh seorang wanita berdosa di rumah Farisi (Luk. 7:1–8:18).

Dengan berjalannya waktu, Anak Manusia makin menyingkapkan rahasia identitas-Nya. Manusia memiliki hubungan dengan Yesus bukan karena hubungan keluarga jasmani tetapi karena “mendengarkan Firman Allah dan melakukannya”. Siapakah sesungguhnya Yesus? Anak Manusia menyatakan kuasa-Nya dan otoritas-Nya dengan perbuatan-Nya. Dia berkuasa atas alam semesta. Ketika Yesus meneduhkan laut, murid-murid takut dan heran dan bertanya, “Siapa gerangan orang ini?” Di sinilah tampak bahwa Anak Manusia sanggup dan berkuasa memerintahkan angin dan air, dan bahwa seluruh alam semesta pun taat kepada-Nya (Luk. 8:19–8:25).

Selain itu, Yesus pun berkuasa atas Iblis dan maut. Dia mengusir setan dari orang yang kerasukan, membangkitkan seorang anak perempuan dari kematian, memberikan para murid-Nya kuasa yang sama untuk pergi, memberitakan Injil, dan menyembuhkan orang, serta memberi makan 5000 orang lebih sekaligus secara bersamaan. Melalui semua perbuatan itu, kuasa Yesus begitu nyata sampai Petrus mengaku bahwa Yesus adalah “Mesias dari Allah”. Namun, justru pada saat itulah Yesus melarang mereka dengan keras untuk memberitahukan hal itu kepada siapa pun, dan Dia menjelaskan bahwa diri-Nya akan mengalami penderitaan, penolakan, dan pembunuhan, tetapi kemudian akan bangkit kembali dari maut. Dia memberi tahu mereka bahwa mereka juga harus memikul salib mereka dan mengikuti-Nya (Luk. 8:26-9:28).

Anak Manusia menyatakan kemuliaan-Nya. Dia dipermuliakan di atas gunung. Dia mengusir setan dari seorang anak walaupun para murid-Nya sudah berusaha dan gagal. Orang banyak yang menyaksikannya merasa takjub terhadap kebesaran Allah, tetapi sayangnya murid-murid-Nya bukan menjadi makin sadar akan misi Yesus. Mereka justru mulai berkelahi tentang siapa yang akan terjadi terbesar dalam kerajaan-Nya (Luk. 9:28-50).

Penolakan terhadap Pelayanan Anak Manusia di Galilea (Luk. 9:51–19:27)

Sesudah menyelesaikan pelayanan di daerah Galilea, Yesus memulai perjalanan-Nya ke Yerusalem. Sama seperti yang dijelaskan dalam Injil Markus, ketika Yesus mulai menuju Yerusalem ada titik transisi yang terjadi. Yesus tidak lagi terus melayani orang dengan memenuhi kebutuhan mereka; fokus-Nya beralih kepada tujuan kedatangan-Nya, yaitu persembahan hidup-Nya di atas kayu salib.

Setelah itu, perlawanan kepada Anak Manusia makin menguat. Orang-orang Samaria menolak Dia dan Yesus memberi tahu para murid-Nya tentang harga yang harus dibayar untuk menjadi murid-Nya. Kemudian Dia mengutus 70 orang untuk memberitakan Injil. Murid-murid-Nya dipersiapkan khusus lewat pengajaran-pengajaran Yesus, yang banyak menggunakan perumpamaan, seperti perumpamaan orang Samaria yang baik sebagai pengajaran-Nya tentang kasih. Melalui kisah peristiwa Marta dan Maria, Yesus juga mengajar bahwa bukan kegiatan pelayananlah yang diutamakan tetapi hubungan pribadi dengan Yesuslah yang terpenting. Yesus juga mengajar betapa pentingnya doa tanpa putus asa setelah mengajarkan Doa Bapa Kami (Luk. 9:51–11:13).

Di sisi lain, kontrontasi dengan orang Farisi pun makin keras. Orang Farisi berpendapat bahwa sumber kuasa Yesus adalah Iblis dan mereka menuntut lebih banyak mukjizat! Enam kali Yesus menyebut mereka “celaka”, dan terus-menerus mereka berencana untuk menangkap Dia (Luk. 11:14-54). Di rumah salah satu pemimpin orang Farisi, perlawanan diteruskan. Orang Farisi marah karena Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, lalu Yesus berusaha membawa mereka untuk mengerti bahwa Injil tidak ditujukan hanya kepada orang Yahudi yang terikat oleh hukum Taurat tetapi juga untuk orang yang hilang, yaitu “orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta” (Luk. 14:1-24).

Bagi mereka yang mengikut Dia, Yesus memberikan pelajaran penting untuk persiapan bagi kedatangan-Nya kembali. Dia menjelaskan bahwa manusia harus melawan kemunafikan, ketamakan, dan keduniawian; dan bagaimana orang harus bersiap untuk kedatangan Tuhan dengan menjadi orang yang setia dan bijak (Luk. 12:1-13:35). Demikian pula, dalam perjalanan ke Yerusalem Yesus terus memberi tahu murid-murid-Nya tentang penderitaan dan kematian yang Dia akan alami. Jika kita ingin menjadi murid-Nya yang sungguh, ada harga yang harus dibayar! Yesus mengajarkan betapa berharganya nyawa orang berdosa, dengan menceritakan perumpamaan tentang tiga hal yang hilang, yaitu anak yang hilang, perak yang hilang, dan domba yang hilang (Luk. 15). Kita perlu memiliki sikap yang benar terhadap manusia yang hilang, terhadap keuangan, dan terhadap Kerajaan Allah. Dalam segala sesuatu kita harus bersandar kepada Tuhan. Luar biasa hikmat yang disampaikan oleh Yesus (Luk. 14:25–19:27)!

Penolakan dan Pengorbanan Anak Manusia (Luk. 19:28–23:56)

Yesus memasuki Yerusalem dan orang berseru, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan!” Namun, Yesus justru menangisi Yerusalem karena Dia tahu bahwa sedikit lagi mereka akan menolak dan mau membunuh Dia. Yesus membersihkan bait Allah, menghadapi dan melawan pemimpin agama dalam Bait Allah, serta bernubuat bahwa bangunan bait Allah itu akan hancur. Pada kesempatan itu juga, Yesus bernubuat tentang kedatangan-Nya kembali (Luk. 19:28- 21:36).

Selanjutnya, Sang Anak Manusia menuju puncak pelayanan-Nya, yaitu menyerahkan hidup-Nya. Pada siang hari Yesus mengajar di bait Allah dan pada malam hari Ia bermalam di Bukit Zaitun. Paskah sudah dekat. Yudas telah siap mengkhianati Yesus. Dengan menghadapi kematian yang telah menantikan diri-Nya itu, Yesus mempersiapkan murid-Nya dengan perjamuan yang terakhir dan mempersiapkan diri-Nya dengan doa pribadi-Nya kepada Bapa di Taman Getsemani. Di sana akhirnya, Dia ditangkap dan digiring ke rumah Imam Besar (Luk. 21:37–22:53).

Anak Manusia diadili oleh manusia-manusia yang jahat. Petrus, murid-Nya sendiri, menyangkal Dia. Yesus diejek, diolok-olok, dan dipukul oleh orang-orang yang menahan-Nya. Dia diadili oleh kaum Sanhedrin, dibawa di hadapan Pilatus, diserahkan lagi ke Herodes, lalu dikembalikan ke Pilatus yang ingin melepaskan-Nya tetapi karena takut akan orang Yahudi menyerahkan-Nya kembali kepada orang banyak untuk disalibkan. Di akhir hidupnya, Sang Anak Manusia ditolak oleh semua orang (Luk. 22:54- 23:25)!

Meski demikian, Anak Manusia pada saat kematian-Nya akhirnya diakui sebagai manusia yang benar. Yesus disalibkan bersama dua penjahat dan salah satu penjahat itu mengaku, “Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Seorang kepala pasukan Roma berkata, “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Dicatat pula bahwa Yesus dikuburkan di kubur Yusuf Arimatea, seorang yang kaya dan terpandang (Luk. 23:26-23:56). Yesus mati dan sudah dikuburkan, tetapi itu bukanlah kesudahan!

Kebangkitan dan Kenaikan Anak Manusia (Luk. 24:1-53)

Sebagaimana dengan kelahiran Yesus, dalam Injil Lukas kebangkitan Yesus juga dikisahkan dengan lebih banyak detail. Yesus bangkit dari kematian sesudah tiga hari. Kemudian, seperti dalam ketiga kitab Injil yang lain, dijelaskan bagaimana ada wanita yang menemukan bahwa kubur sudah kosong; tetapi yang khusus ditambahkan dalam Injil Lukas adalah perjalanan Yesus dengan dua murid ke Emaus dan pertemuan-Nya dengan murid-murid-Nya di Yerusalem (Luk. 24:36-43).

Pada akhirnya, Yesus memberikan Amanat Agung dan menegaskan bahwa murid-murid-Nya harus menyaksikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kitab Injil Lukas berakhir dengan cerita kenaikan Yesus ke surga (Luk. 24:44-53).

2020-04-22T14:56:36+00:00