//Inspirational News

Inspirational News

Utang Allah kepada kita

Alkisah ada seorang penjaja roti yang menjual rotinya masing-masing seharga 50 sen di sebuah stan makanan di sudut jalan. Seorang pelari lewat dan melemparkan uang 50 sen ke dalam kaleng penjaja roti, tetapi tidak mengambil roti. Ia melakukan hal yang sama setiap hari selama beberapa bulan. ImageSuatu hari, saat pelari tersebut lewat, sang penjaja roti menghentikannya. Pelari tersebut kemudian bertanya, “Anda mungkin ingin tahu mengapa saya selalu memberi uang, tetapi tak pernah mengambil roti, kan?” “Bukan,” kata sang penjaja. “Saya hanya ingin memberi tahu Anda bahwa harga roti kini telah naik menjadi 60 sen.”

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita sering memperlakukan Allah dengan sikap yang sama dengan si penjaja roti. Bukannya berterima kasih atas apa yang telah diberikan-Nya, kita justru ingin lebih. Entah mengapa kita merasa Allah berutang untuk memberi kita kesehatan yang baik, hidup yang nyaman, dan berkat materi. Padahal, tentu saja Allah tidak berutang apa pun kepada kita, karena Dia telah memberi kita segalanya.

G.K. Chesterton menulis, “Satu hari lagi telah berlalu, dan selama hari itu saya memiliki mata, telinga, tangan, dan dunia yang indah di sekitar saya. Besok dimulai lagi hari yang baru. Mengapa saya diberi dua hari?”

sumber: www.glorianet.org

2019-10-05T19:19:57+00:00