///Investasi Cerdas dalam Aset Produktif

Investasi Cerdas dalam Aset Produktif

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring — maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.”Amsal 6:6-11

 

Investasi Keuangan yang Cerdas

Tujuan berinvestasi adalah untuk mendapatkan dan meningkatkan keamanan keuangan, memenuhi kebutuhan hidup masa depan, serta mempersiapkan bekal hidup semasa pensiun maupun warisan bagi orang-orang terkasih. Karenanya, menginvestasikan uang dengan cerdas adalah hal yang penting. Membabi buta berinvestasi ke dalam berbagai instrumen keuangan yang acak tanpa pemahaman yang memadai justru sangat berbahaya bagi kondisi keuangan kita, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berinvestasi perlu didahului dan disertai dengan manajemen risiko yang baik, yang termasuk memahami karakter diri sendiri sebagai investor, profil tiap produk dan skema investasi di antara opsi-opsi yang ada, serta tujuan spesifik investasi itu sendiri.

Pada intinya, investasi keuangan yang cerdas adalah yang mengarah pada nilai dan jangka waktu return (imbal hasil) yang sesuai dengan tujuannya. Untuk mencapai target ini, kita harus membangun aset produktif, yaitu aset yang tetap bertumbuh dan bertambah nilai materialnya seiring dengan waktu. Ini kebalikan dari aset konsumtif, yaitu aset yang memiliki nilai material tetapi nilai itu akan terus menurun seiring dengan waktu. Aset produktif akan memberikan pemasukan yang berkesinambungan dari return-nya, bahkan dapat menjadi prospek penghasilan yang menguntungkan dalam jangka panjang. Pemasukan seperti ini, yang didapat tanpa usaha/pekerjaan yang terkait langsung, disebut (passive income) pendapatan pasif.

Contoh aset produktif yang paling sederhana adalah tempat tinggal Anda. Meski saat ditempati tidak menghasilkan pemasukan tersendiri, harga bangunan dan tanah yang Anda tempati naik seiring dengan waktu, apalagi jika lokasi tempat tinggal Anda berada di area dengan nilai harga properti yang kompetitif. Dengan memiliki tempat tinggal, setiap tahunnya Anda sudah berinvestasi untuk masa depan. Di samping itu, saham juga bisa menjadi aset produktif dengan return yang menjanjikan, yang kini menjadi alternatif investasi yang diminati orang untuk meraih passive income. Memiliki saham untuk passive income dapat dijadikan bekal di masa depan saat Anda terpaksa tidak bekerja/berbisnis atau memasuki masa pensiun.

 

Opsi-Opsi Aset Produktif sesuai Karakter Investor

  1. Emas

Sampai saat ini, emas masih merupakan salah satu aset produktif atau instrumen investasi yang terpopuler bagi masyarakat. Yang dimaksud emas adalah logam mulia, yaitu emas batangan, bukan perhiasan berbahan emas. Emas cocok untuk para investor yang memiliki preferensi terhadap risiko rendah dan ketahanan terhadap laju inflasi, sekaligus rela mendapatkan return yang relatif kecil asalkan stabil. Jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya, emas tergolong aman dan mudah dicairkan (dapat dijual kembali kapan saja). Berinvestasi emas tepat bagi Anda yang memiliki karakter “safety player” sebagai investor.

 

  1. Reksa dana

Reksa dana merupakan cara berinvestasi yang telah cukup dikenal di tengah masyarakat, dan menarik karena dapat dimulai dengan modal kecil (mulai dari Rp100.000). Dalam skema investasi reksa dana, sejumlah dana investasi yang terkumpul dari para investor akan dikelola oleh manajer investasi dalam berbagai instrumen investasi sesuai pilihan investor. Keuntungan maupun kerugian yang didapat kemudian dibagi rata untuk seluruh investor. Besar kecilnya potensi keuntungan atau risiko kerugian yang didapatkan, tergantung dari jenis reksa dana yang dipilih, sesuai karakter investor. Jika Anda adalah tipe investor konservatif yang mengutamakan risiko kerugian seminim mungkin, pilihlah reksa dana yang dikelola dalam instrumen deposito, obligasi, atau pendapatan tetap. Jika Anda adalah investor moderat dan tidak keberatan dengan risiko kerugian sampai batas tertentu demi potensi keuntungan yang lebih besar, Anda dapat memilih reksa dana berinstrumen campuran. Namun, jika karakter Anda sebagai investor cukup agresif dan berani menghadapi risiko besar demi potensi keuntungan yang besar pula, reksa dana saham lebih tepat untuk Anda. Yang mana pun karakter dan pilihan Anda, pastikan bahwa Anda berinvestasi dengan perusahaan manajer investasi yang tepat sejak awal, yaitu yang bereputasi baik dan dapat dipercaya.

 

  1. Properti

Seperti telah disebut sekilas sebelumnya, properti merupakan instrumen investasi yang cukup aman dan patut dipilih sebagai passive income jangka panjang. Untuk memulainya secara aman dan relatif ringan, Anda bisa mengambil program cicilan KPR jangka panjang, dengan besaran cicilan rutin yang tidak melebihi 30% dari pemasukan rutin Anda. Investasi dalam properti menjanjikan keuntungan yang menarik karena harga tanah dan rumah selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selain itu, properti juga merupakan aset produktif dengan risiko kerugian rendah, karena pergerakan nilai properti tidak terlalu sensitif seperti saham. Sayangnya, properti tidak bisa dicairkan dengan cepat, karena dibutuhkan waktu yang tak dapat dipastikan untuk menjualnya kembali. Berinvestasi dalam properti cocok untuk kebanyakan investor, asalkan siap berkomitmen keuangan jangka panjang.

 

  1. Bisnis

Jika Anda tergolong berani mengambil risiko dan menyukai tantangan (karakter investor “risk taker“), bisnis merupakan pilihan instrumen investasi yang sangat cocok. Anda dapat merintis bisnis tertentu di luar pekerjaan atau bisnis sumber penghasilan utama Anda sekarang, sendiri atau bersama mitra-mitra yang tepercaya. Sisihkan dana dari penghasilan utama untuk dijadikan modal berbisnis, pilih bidang dan model bisnis yang tepat, lalu kelolalah bisnis itu dengan sebaik-baiknya. Seiring dengan waktu, bisnis itu akan berkembang, bahkan melahirkan bisnis-bisnis lainnya. Bisnis merupakan aset produktif yang sangat menarik dan menguntungkan untuk para risk taker.

 

Membangun Portofolio Investasi dengan Aset Produktif

  1. Menetapkan tujuan dan menyusun rencana investasi jangka panjang

Berinvestasi tidak bisa dilepaskan dari rencana hidup. Hal-hal yang kita ingin capai dan miliki dalam kehidupan ini membutuhkan uang, dan ini menentukan tujuan serta rencana investasi kita. Berdasarkan tujuan-tujuan yang Anda tetapkan bagi masa depan Anda, ketahui berapa nilai aset yang Anda butuhkan serta kapan Anda ingin mencapai nilai aset itu, lalu susun rencana investasi Anda. Dalam rencana tersebut, Anda akan tahu jenis produk investasi yang perlu diambil. Misalnya, renungkan hal-hal seperti perencanaan dan target gaya hidup yang Anda inginkan pada usia 60 tahun nanti, berapa biaya hidup masa tua yang Anda perlukan, dan seberapa Anda ingin mewariskan aset kepada orang-orang yang Anda kasihi. Berdasarkan perhitungan ini, Anda bisa membuat estimasi berapa besar dana yang perlu Anda investasikan dan menentukan pilihan instrumen investasi.

  1. Mengatur besaran dana yang ingin diinvestasikan

Persentase besaran dana yang dapat dikeluarkan untuk berinvestasi secara sehat ialah 20%-40% dari penghasilan rutin Anda. Dengan besaran demikian, Anda dapat berinvestasi dan menantikan return-nya tanpa membahayakan kondisi keuangan Anda. Pastikan bahwa kebutuhan utama Anda dan orang-orang terkasih yang menjadi tanggungan Anda sudah tercukupi, sebelum Anda berinvestasi. Di sisi lain, usahakan pula untuk bergaya hidup hemat agar Anda mampu menyisihkan 20%-40% dari penghasilan rutin untuk diinvestasikan ke dalam aset produktif. Jika Anda telah berhasil memulainya, lakukan secara konsisten, maka Anda akan menuai hasilnya.

 

  1. Mulai berinvestasi sejak dini

Makin awal Anda mulai berinvestasi, makin baik pula hasilnya bagi kondisi keuangan Anda dalam jangka panjang. Mulailah berinvestasi sejak usia 20-an atau sejak Anda mulai produktif dan memenuhi kebutuhan utama Anda. Jangan menunda-nunda berinvestasi sampai usia paruh baya atau menunggu “kaya”. Return dari investasi jangka panjang selalu lebih baik daripada yang jangka pendek, karena dengan makin panjangnya waktu itu, makin banyak pula kesempatan Anda untuk melipatgandakan return. Jangan khawatir soal besaran uang yang diinvestasikan terlalu kecil. Mulailah saja berinvestasi dengan jumlah uang kecil dari waktu ke waktu, dan lakukan dengan konsisten. Biarkannya nilai investasi Anda tumbuh berkembang dalam jangka panjang. Orang  yang berinvestasi sebesar Rp100.000 per bulan dalam reksa dana sejak berusia 25 tahun selama 40 tahun, dengan asumsi return 12% per tahun, akan mengumpulkan nilai investasi lebih dari Rp1.000.000.000 saat pensiun pada usia 65 tahun. Jika orang yang sama itu mulai berinvestasi sebesar Rp100.000 per bulan pada usia 35 tahun, dengan asumsi tingkat return yang sama, nilai investasi yang dikumpulkannya pada usia 65 tahun “hanyalah” Rp300.000.000.

 

  1. Alihkan fokus tabungan ke investasi

Jika Anda hanya berfokus pada menabung dan tidak berinvestasi, sebenarnya Anda tanpa sadar sedang perlahan-lahan kehilangan uang dalam jangka panjang. Penjelasannya ditulis oleh Danielle Town dalam buku Invested: How Warren Buffett and Charlie Munger Taught Me to Master My Mind, My Emotions, and My Money (with a Little Help from My Dad). Kehilangan uang terjadi karena persentase inflasi selalu lebih tinggi daripada tingkat suku bunga tabungan atau deposito.  Jika Anda menabung uang tunai sebesar Rp1.000.000 di bawah kasur sejak 50 tahun yang lalu, nilai tabungan itu hari ini akan menurun hingga sebesar Rp137.450 saja. Penyusutannya memprihatinkan. Namun, jumlah yang sama itu jika diinvestasikan dengan bunga majemuk, akan tumbuh hingga mencapai sekitar Rp20.000.000 (dengan asumsi tingkat pengembalian 6%). Satu-satunya “penangkal” kehilangan uang karena inflasi adalah berinvestasi.

 

Mari kita semua kembali ke Firman Tuhan dan belajar dari semut, yang rajin dan konsisten “menabung” persediaan makanannya untuk persediaan masa depannya. Pada musim paceklik, semut-semut aman dengan persediaan yang telah dikumpulkannya. Demikian pula, kita perlu berjerih payah dahulu saat ini, mengelola keuangan dan berinvestasi secara cerdas dengan membangun portofolio aset produktif, yang akan berguna untuk usia senja.

2021-11-02T09:03:15+07:00