//Ishak : Sang Pewaris Janji Allah oleh Iman

Ishak : Sang Pewaris Janji Allah oleh Iman

Dalam seri artikel Iman pada edisi Build! kali ini, kita akan belajar dari Ishak, salah satu tokoh iman dalam Alkitab. Ishak adalah anak tunggal Abraham dari Sara, yang berhak menerima janji Allah. Isi janji Allah tersebut jelas, “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu,” (Ibr. 11:18). Araham dan keturunannya dari garis Ishak menjadi pewaris janji Allah kepada Abraham, “… dia (Abraham) tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu,” (Ibr. 11:9).

 

Riwayat Ishak dan Nasib Ismael

Menurut ensiklopedia bebas Wikipedia Indonesia, Ishak:

  • berusia 36 tahun ketika Sara, ibunya, mati pada usia 127 tahun (Kej. 23:1);
  • berusia 40 tahun ketika menikah dengan Ribka (Kej. 25:20);
  • berusia 60 tahun ketika Ribka melahirkan Esau dan Yakub (Kej. 25:26);
  • berusia 75 tahun ketika Abraham mati pada usia 175 tahun (Kej. 25:7);
  • berusia 100 tahun ketika Esau menikah dengan Yudit, anak Beeri orang Het dan Basmat (Kej. 26:34);
  • berusia 123 tahun ketika Ismael mati di usia 137 tahun (Kej. 25:17);
  • berusia 151 tahun saat Yusuf lahir (Kej. 31);
  • berusia 168 tahun ketika Yusuf dijual ke Mesir (Kej. 37);
  • mati pada usia 180 tahun, yaitu ketika Yakub berusia 120 tahun, 10 tahun sebelum Yakub pindah ke Mesir (Kej. 46-47), ketika Yusuf berusia 29 tahun dan berada di penjara di Mesir, setelah setahun menghadap Firaun (Kej. 40-41).

 

Ishak adalah nama yang diberikan Allah kepada Abraham sebelum anak itu dikandung Sara. Awalnya, Abraham memohon agar Allah memberkati Ismael saja, yang telah dilahirkan baginya sebagai putra kandung atas ide Sara. Namun, Allah berfirman, “Tidak, melainkan istrimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga,” (Kej. 17:19, 21). Akhirnya, Sara memang mengandung sesuai janji Tuhan dan melahirkan seorang anak laki-laki pada tahun berikutnya. Anak itu diberi nama Ishak; Abraham berusia 100 tahun ketika Ishak lahir. Dia menyunat Ishak pada hari ke-8, agar Ishak terserap masuk ke dalam janji Allah kepada Abraham, yang menyatakan bahwa semua anak laki-laki harus disunat. Dengan demikian, Ishak sah menjadi sang putra perjanjian dari Allah.

 

Lalu, bagaimana dengan Ismael? Bukankah Ismael juga merupakan putra kandung Abraham? Apa bagiannya dalam perjanjian Allah dengan Abraham?

Singkatnya, Hagar telah lama berlaku kurang ajar kepada nyonyanya, Sara, sejak dia mengandung bagi Abraham. Sara pun tertindas oleh perlakuan buruk Hagar itu. Karena tahu bahwa Ishaklah yang menjadi pewaris perjanjian Allah, ketika Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih, Sara berkata kepada Abraham tentang Hagar dan Ismael, “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak,” (Kej. 21:10). Selanjutnya, Firman Allah berkata kepada Abraham, “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak,” (Kej. 21:12). Luar biasa, Allah sendiri yang menjamin hak Ishak. Di sisi lain, Allah tetap menjaga kehidupan Ismael dan Hagar, yang kini telah keluar dari rumah tangga Abraham.

 

Pertunjukan Iman Ishak

Pada peristiwa pengorbanan dalam Kejadian 22, iman Abraham tampak menonjol. Namun sebenarnya, Ishak adalah pelaku utama dalam “pertunjukan iman” ini. Mengapa? Abraham mendengar suara Allah dan taat untuk mempersembahkan Ishak, anaknya, sebagai korban bagi Tuhan. Keesokan harinya, pagi-pagi Abraham bangun dan memasang pelana keledai lalu membawa dua orang bujang dan Ishak, membelah kayu untuk korban bakaran, dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Kemudian, di dalam perjalanan inilah, Ishak bertanya kepada Abraham, “Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” (Kej. 22:7). Pertanyaan ini penting untuk kita amati konteksnya.

 

Saat itu, sebenarnya Ishak bukanlah anak kecil yang masih belum mengerti apa-apa. Dia sudah cukup dewasa. Josephus, tokoh sejarawan Yahudi dan penulis apologetika abad pertama, menulis dalam bukunya, JOSEPHUS, the Essential Writings, “Ishak yang berusia 25 tahun bertanya kepada Abraham, ‘Bapa, Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?’” Ini adalah keterangan yang luar biasa, yang berdasarkan riwayat sejarah dari pakar yang bereputasi kuat. Ishak bukanlah anak kecil yang tak berdaya ketika diikat. Dia sudah dewasa dan bisa menolak untuk diikat atau dikorbankan. Bahkan, sebagai orang muda yang secara alamiah cenderung memberontak kepada orang tua, Ishak tidak melawan ketika diikat oleh Abraham.

Karena iman, Ishak merelakan dirinya diikat dan dipersiapkan untuk pengorbanan itu. “Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah. Abraham mendirikan mezbah, disusunnya kayu, diikatnya Ishak dan diletakkan di mezbah di atas kayu api,” (Kej. 22:9). Ishak bisa saja menepis tangan Abraham dan melarikan diri, tetapi dia taat dan menuruti perintah Abraham. Hal ini mirip dengan yang tertulis di Yesaya 53, tentang domba yang siap dibawa ke pembantaian dan tidak memberontak. Ishak pun tidak memberontak, seperti domba itu. Paulus menuliskan penjelasannya, “Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. …, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada,” (Roma 4:16-17). Ishak beriman bahwa Allah pasti menghidupkan dia kembali dari kematian, sehingga dia tidak takut atau merasa perlu memberontak meski akan dikorbankan.

 

Di sisi lain, meski Ishak adalah pewaris janji yang beriman teguh, dia juga merasakan kesedihan karena kematian Sara, ibunya. Untuk menghibur kesedihannya itu, Allah memberikan Ribka sebagai istri bagi Ishak agar janji Allah tergenapi melalui keturunan mereka. Prosesnya menarik. Dalam Kejadian 24, Ishak sedang berjalan-jalan di padang dan melihat unta-unta datang mendekat pada dirinya. Eliezer, hamba Abraham, “menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukan” oleh Ribka, lalu “Ishak membawa Ribka ke kemah Sara dan mengambil dia jadi istri. Ishak mencintainya dan dia dihiburkan setelah Sara meninggal,” (Kej. 24:66-67). Lepas dari kesedihan karena kematian Sara, Ishak diberi Allah Ribka sebagai teman pewaris kasih karunia.

Pergumulan yang menunjukkan iman Ishak belum berakhir. Situasi Ishak dan Ribka terasa berat karena Ribka mandul selama 20 tahun. Alhasil, Ishak bertindak dengan iman, “Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk istrinya, sebab istrinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, istrinya itu, mengandung.” Namun, terjadi komplikasi yang rumit pada kehamilan Ribka, “Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan dia berkata: ‘Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?’ Dan dia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN,” (Kej. 25:21-22). Kesukaran demi kesukaran tidak henti mewarnai kehidupan Ishak, tetapi Ishak terus mencari petunjuk Allah. Allah pun menjawabnya, “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda,” (Kej. 25:23). Rupanya, ada berkat Allah yang tersembunyi di balik tiap kesukaran itu! Doa Ishak meminta anak dijawab Tuhan dengan pemberian ganda: dua anak laki-laki sekaligus!

 

Jaminan Allah atas Perjanjian-Nya bagi Ishak

Menjamin perjanjian-Nya sejak masa hidup Abraham, Allah akhirnya berfirman kepada Ishak setelah mengaruniai dia dengan dua anak laki-laki, “Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu,” (Kej. 26:24). Allah menjamin bahwa Ishak tidak perlu takut, dan Ishak percaya pada jaminan perjanjian Allah. Pada masa tuanya, Ishak pun memberikan berkatnya kepada anak kembarnya, Yakub dan Esau, melalui peristiwa yang meneguhkan bagian Yakub sebagai sulung dalam perjanjian Allah itu. Melalui keturunan Ishak dari garis Yakub inilah, lahir bangsa Israel, yang lalu menjadi umat kesayangan Allah. Ishak sendiri meninggal pada usiaa 180 tahun, setelah “tua dan suntuk umur” (Kej. 35:28).

 

Allah menepati apa yang telah Dia janjikan kepada Abraham. Dia juga telah membuktikan jaminan atas janji-Nya itu melalui Ishak dan keturunannya. Tidak ada janji Allah yang tidak digenapinya, meski Ishak tetap harus melewati prosesnya dengan berjalan dalam iman akan rencana Allah sampai mewarisi janji Allah dengan sempurna. Kita patut meneladani Ishak. Jangan pernah meragukan janji Allah bagi hidup kita, karena Allah setia terhadap ucapan-Nya. Mari tetap berjalan bersama Allah dan izinkan Dia terus membawa iman kita bertumbuh.

2021-08-29T22:56:14+07:00