It’s a Miracle

Suatu masa, kekeringan melanda sebuah negeri di wilayah Sidon. Hujan tidak pernah turun lagi, sungai-sungai kehabisan air dan daun-daun berguguran karena pohon-pohon kering-kerontang. Nampak seorang janda mengumpulkan ranting-ranting yang jatuh ke tanah untuk membuat perapian terakhir bagi keluarganya. Persediaan makanan yang ia miliki hanya cukup untuk dimakan satu kali oleh ia dan anaknya, setelah itu ia pasrah menanti ajal.

Sementara si janda sedang mengumpulkan ranting, datanglah menghampirinya seorang abdi Allah yang sedang kehausan dan kelaparan karena perjalanan jauhnya. “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum,” demikian permintaan sang abdi Allah itu. Melihat muka yang pucat dan letih, timbul belas kasihan di hati janda tersebut kepada abdi Allah itu, maka ia mengambil kendi yang dibawanya dan memberikan airnya kepada abdi Allah ini untuk diminum. Belum sempat janda ini berlalu, abdi Allah itu berujar kembali, “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Perasaan kasihan dan marah bercampur jadi satu dalam hati janda tersebut, maka sambil menahan perasaan si janda ini menjelaskan keadaannya, “Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli, dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Namun, penjelasan yang panjang lebar dari janda tersebut rupanya tidak menyurutkan permintaan abdi Allah ini, “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kau katakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil daripadanya, dan bawalah padaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.” Segenggam tepung untuk tiga orang? Mungkin kalimat tersebut sempat muncul dalam benak janda tersebut, bagaimana cukup? Untunglah, keragu-raguan ini tidak berlarut-larut lama di dalam hatinya, dan ia justru lebih mencamkan saat sang abdi Allah berkata, “Janganlah takut!” Tanpa bertanya lagi, perempuan ini langsung pulang dan melakukan apa yang diperintahkan oleh abdi Allah itu. Mujizat terjadi! Tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli tidak pernah habis sampai pada waktu turun hujan. Mereka pun tidak pernah berkekurangan (1 Raj. 17:7-16).

Salah satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa mujizat tidak selamanya nampak berupa kesembuhan fisik secara seketika atau tanda-tanda “ajaib” yang lain. Mujizat juga berhubungan dengan ketabahan kita dalam menghadapi penderitaan, misalnya. Paulus menulis kepada Timotius untuk mengingatkan dia, “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah,” (2 Tim. 1:8). Maksudnya ikut menderita di sini adalah ketabahan kita dalam menghadapi tekanan ketika memberitakan Injil Kristus. Bahkan Paulus berkata dengan tegas kepada Timotius, “Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya. Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,” (2 Tim. 3:11-12).

Apa pun bentuknya, mujizat Tuhan terjadi karena respons pribadi yang benar terhadap firman Tuhan itu. Respons adalah andil manusia terhadap firman Allah, sehingga menghasilkan mujizat. Allah selalu memakai orang yang taat kepada perintahNya untuk membuat mujizat terjadi. Apa perintahNya bagi kita, sebagai muridNya? “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma,” (Mat. 10:7-8). Ketika Ia memberi perintah, Ia pun memperlengkapi kita dengan kuasaNya. Yesus berkata kepada para murid, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu,” (Luk. 10:19). Itulah sebabnya, orang-orang percaya dapat mengalami mujizat dalam hidupnya.

Ketika firman yang kita dapat dilengkapi dengan tindakan iman, itulah mujizat. Sering kali kita bertanya-tanya: bagaimana mungkin saya mengalami mujizat, bagaimana mujizat bisa terjadi, dan kapan saya mengalami mujizat. Ketaatan kepada firman Tuhan adalah kunci rahasia terjadinya mujizat. Bayangkan jika janda di Sarfat itu tidak taat kepada firman yang diucapkan oleh Nabi Elia, apakah ia memperoleh mujizat? Jika Musa tidak taat akan perintah Tuhan agar mengangkat tongkatnya untuk membelah laut Teberau, apakah bangsa Israel selamat dari kejaran orang Mesir? Jika murid-murid Yesus tidak taat kepada panggilannya, apakah mereka dipakai dengan luar biasa? Jika tidak ada tindakan iman si anak kecil pemilik bekal dan ketaatan murid Yesus kepada perintah untuk membagikan roti kepada orang-orang yang hadir, mungkinkah mujizat pelipatgandaan lima roti dan dua ikan terjadi? Masih banyak lagi contoh-contoh di Alkitab dapat mengajar kita untuk mengerti bagaimana mengalami sebuah mujizat. Itulah sebabnya, Lukas menulis keterangan yang luar biasa ini, “Maka Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,” (Luk. 9:1-2). Jika mereka pasif dan tidak mau bertindak, tidak akan ada mujizat seperti kesembuhan ilahi atau pun keluarnya roh-roh jahat dari orang sakit yang dirasuk setan.  (Yoh. 6:1-15). Tuhan rindu agar kita mendemonstrasikan kuasa Allah dengan tujuan untuk membebaskan manusia dari setan. Kita menerima tugas dariNya, untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah dan mendemonstrasikan kuasaNya yang tak terbatas.

Siapa pun yang bersedia taat layak untuk dipakai oleh Tuhan sebagai alat pilihan di tanganNya untuk mendemonstrasikan kuasaNya. Simon Petrus adalah seorang nelayan biasa yang tidak berpendidikan tinggi, namun dipakai oleh Yesus untuk menyembuhkan orang sakit di Bait Allah. Apa dampak kesembuhan ini? Petrus dan Yohanes ditangkap dan dihadapkan kepada pemimpin-pemimpin Yahudi, tua-tua, ahli-ahli Taurat serta Imam Besar Hanas untuk diadili. Namun, mereka tidak bisa menghentikan Petrus dan Yohanes. “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya,” (Kis. 4:13-14). Itulah mujizat.

Meski demikian erat kaitannya dengan ketaatan pribadi, mujizat tidak bisa dipisahkan dari komunitas. Mengapa? Karena mujizat yang lebih besar terjadi jika ekklesia (kumpulan orang percaya) berdoa. “Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya, ‘Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya,’” (Kis. 4:23-24). Jawaban Tuhan sangat dahsyat, “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani,” (Kis. 4:31). Bahkan, Petrus dilepaskan dari penjara karena doa jemaat (Kis. 12:5). Mujizat itu sendiri menjadi semakin besar, semakin hebat, dan semakin berdampak jika terjadi melalui peran ekklesia, bukan hanya pribadi orang percaya.

Karena itulah, di sepanjang bulan Mei ini kita akan merenungkan firman Tuhan tentang mujizat-mujizat yang terjadi di tengah-tengah orang percaya, agar iman itu semakin bertumbuh dalam diri kita masing-masing dan bersama-sama kita dapat melakukan bagian kita, yaitu menaati perintahNya untuk melakukan banyak mujizat untuk kemuliaan nama Tuhan dan membawa bangsa-bangsa menjadi murid Tuhan.

2019-10-17T14:02:39+07:00