//Jadi Saksi: Apa Artinya?

Jadi Saksi: Apa Artinya?

Bisa jadi saat ini, sebagai orang Kristen kita sedang terlena, sudah terlalu lama tidak lagi bersaksi, padahal Tuhan senantiasa memberikan pengalaman-pengalaman bersamaNya dalam hidup kita. Atau yang lebih parah, kita tidak bersaksi lagi karena tidak lagi mengalami Tuhan. Kalau itu yang terjadi, ayo kita kembali lagi ke fokus, kejar pengalaman pribadi bersama Tuhan, dan suarakan kesaksian yang hidup tentang Dia! Ingat, kita bisa menjadi orang percaya, awalnya adalah karena ada murid-murid Yesus yang menyampaikan kesaksian pengalaman pribadi mereka bersama Yesus, sehingga akhirnya Injil sampai ke ujung-ujung bumi.

2. Seorang saksi disumpah utk HARUS MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Setiap saksi di pengadilan akan disumpah sebelum ia memberikan kesaksiannya. Sumpah yang paling terkenal mungkin adalah sumpah untuk “tell the truth, the whole truth, and nothing but the truth”, di mana si saksi meletakkan tangannya di atas Kitab Suci. Ini artinya, seorang saksi harus menyampaikan kebenaran (tell the truth): kebenaran yang utuh alias tidak dikurangi (the whole truth) dan tidak ditambah (nothing but the truth). Berbeda dari itu, artinya ia menyampaikan kesaksian palsu.

Sebagai orang percaya, sejak menerima Yesus di hati dan hidup kita, kita sudah punya kebenaran itu. Itulah Injil: Yesus begitu mengasihi kita sehingga Ia mati di kayu salib demi menebus kita dari dosa dan hidup lama kita, dan kita yang percaya tidak perlu dihukum lagi, melainkan sudah beroleh anugerah untuk hidup sebagai manusia baru sesuai maksudNya atas kita. Kita “terikat sumpah” untuk membagikan kebenaran Injil itu, karena Injil memang terlalu besar untuk kita simpan sendiri. Pertanyaannya, apakah hidup kita sehari-hari, baik perkataan maupun perbuatan kita, sudah menyampaikan kebenaran Injil?  Atau justru tanpa sadar kita sedang bersaksi palsu karena hidup kita sehari-hari tidak sesuai dengan kebenaran Injil?

 

3. Seorang saksi MENDAPATKAN PROGRAM PROTEKSI KHUSUS

Selama proses penyelidikan dan pengadilan berlangsung, seorang saksi seringkali menghadapi resiko bahaya yang tidak main-main. Karena itulah, pihak berwenang menyediakan program perlindungan saksi. Gunanya untuk menjamin keamanan si saksi, supaya ia tidak perlu takut untuk tetap menyampaikan kebenaran yang utuh dalam kesaksiannya, walaupun ada ancaman.

Kita adalah saksi-saksi Kristus. Allah menjamin perlindunganNya atas kita. JanjiNya sangat bisa diandalkan, bahwa kita ada di bawah proteksi khususNya saat kita hidup sebagai saksi. Bahkan Ia sendiri berjanji untuk menyertai kita senantiasa “sampai pada akhir zaman”, dan “minum racun maut” atau “menginjak ular dan kalajengking” pun kita tidak akan mati. Memang selalu ada berbagai resiko kesulitan dan ancaman bahaya. Yuk, arahkan pandangan kita bukan ke rasa takut akan resiko dan ancaman itu, tapi ke jaminan perlindunganNya.

 

4. Seorang saksi DIDUKUNG OLEH SAKSI-SAKSI LAIN

Sebuah kasus dianggap sah jika masing-masing pihak memiliki bukti yang cukup dan kesaksian 2-3 orang. Suatu kesaksian dianggap sah jika perkataan 2-3 orang saksi itu saling mendukung. Dengan demikian, hakim dan juri tidak mengambil keputusan pengadilan berdasarkan perkataan seorang saksi tunggal saja.

Yesus mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Injil, bukan sendiri-sendiri. Yesus mengutus mereka untuk pergi berdua-dua. Ini artinya, kita didukung oleh saudara-saudara kita sesama saksi Kristus. Itu sebabnya, biasakan diri kita untuk bersaksi bersama. Kita perlu saling mendukung dalam perjalanan kita bersaksi, supaya kebenaran yang kita sampaikan bersama itu menjadi pengertian yang utuh bagi pendengarnya, sehingga ia bisa mengambil keputusan yang tepat untuk menjadi pengikut Kristus.

 

5. Sebuah KESAKSIAN DIDENGAR OLEH ORANG BANYAK

Dalam sebuah ruang pengadilan, seorang saksi menyampaikan kesaksiannya di hadapan banyak orang: hakim, jaksa, dewan juri, orang-orang yang meghadiri siding pengadilan, bahkan juga terdakwa dan kadang korban. Kebenaran yang ia sampaikan, dapat didengar dengan jelas oleh orang-orang ini, dan orang-orang ini punya kesempatan untuk mencerna serta memahami dan menilai kebenaran itu.

Apakah kita sulit bersaksi karena merasa tidak ada pendengarnya? Coba lihat di sekeliling hidup kita. Sadarkah kita bahwa Allah sudah menyediakan “ladang” yang penuh dengan pendengar-pendengar, yang haus untuk menerima kebenaran Injil itu? Bukan hanya itu, Allah sendiri dan iblis pun mendengar kebenaran yang kita sampaikan. Masalahnya bukan pada tidak adanya pendengar, tapi seringkali pada diri kita yang tidak mau pergi kepada pendengar-pendengar itu. Ayo, pastikan mulai sekarang, kesaksian Injil itu kita sampaikan ke telinga para pendengar kita.

2019-10-07T07:11:31+07:00