/, Pre Marriage/Jodoh dan pernikahan yang sempurna

Jodoh dan pernikahan yang sempurna

Menemukan jodoh atau pasangan hidup yang tepat bukanlah hal yang sederhana dan tidak dapat dianggap remeh. Banyak pasangan suami-istri pada akhirnya menyesal menikah karena merasa salah memilih pasangan. Perasaan cocok, sehati, cinta pada akhirnya berubah menjadi perasaan yang sebaliknya.

Pada umumnya, orang memilih pasangan dan menikah bukan karena dijodohkan seperti yang lazim terjadi di zaman Siti Nurbaya, namun karena rasa suka atau cinta dengan calon pasangannya itu. Rasa cocok bisa muncul dalam hal pemikiran, minat, gaya hidup atau hal-hal lainnya. Ada juga yang merasa nyaman dan aman bersama calon pasangannya, misalnya karena sikap pasangan yang suka melindungi, membela, penuh pengertian atau karena secara materi berkecukupan. Selain itu, faktor-faktor lain yang mendorong orang untuk menikah adalah usia yang dianggap layak atau sudah seharusnya menikah, dorongan dari orangtua atau lingkungan sosial, dorongan biologis, serta dorongan psikologis seperti tidak mau kesepian atau ingin memiliki hidup baru yang lebih baik.

Semua hal-hal ini pada awalnya memang bisa menjadi pendorong orang untuk memilih pasangan dan menikah, tetapi terbukti kurang kuat dan memadai sebagai dasar untuk mempertahankan pernikahan hingga maut memisahkan. Rasa cinta yang awalnya dirasa kuat pada masa pranikah, rata-rata setelah menikah selama tiga hingga lima tahun akan menurun, tidak mengebu-gebu lagi. Rasa cocok dengan pasangan, sejalan dengan saling pengenalan yang makin mendalam selama pernikahan, akan berubah menjadi “lebih banyak tidak cocoknya daripada cocoknya”. Impian untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan membahagiakan ternyata tidak kunjung terwujud dalam kenyataannya. Bahkan setelah menikah, orang dapat merasa kehidupannya sebelum menikah di masa lalu lebih menyenangkan daripada sekarang setelah menikah. Semua fakta ini menunjukkan pentingnya dasar atau landasan lain yang lebih kuat bagi suatu pernikahan, agar dapat bertahan hingga maut memisahkan.

Dari sudut pandang psikologis, dasar yang biasa ditetapkan agar orang dapat mempertahankan pernikahan adalah sikap yang dewasa dan bertanggungjawab dengan pilihannya. Ini termasuk sikap menerima, toleran dan mau memberi ruang pada kekurangan pasangan. Bagaimana pun situasi  pernikahan (baik atau buruk), itu harus diterima sebagai konsekuensi dari keputusan dan pilihan diri sendiri (untuk memilih pasangan tsb dan menikah dengannya). Akan lebih baik jika kedua belah pihak bersikap dewasa, terbuka, dan saling menerima serta melengkapi kekurangan yang ada, misalnya dengan berkomunikasi dan membuat komitmen baru secara berkala untuk mempertahankan pernikahan. Mereka harus bisa menjadi partner, yang tidak hanya berfokus pada diri sendiri namun justru lebih berfokus pada pasangannya. Sikap terlalu berfokus pada diri sendiri adalah ciri anak-anak, dan menjadi tanda orang dewasa yang berkepribadian kekanak-kanakan. Itu sebabnya, orang yang belum dewasa secara mental/jiwa (orang yang hanya dewasa secara fisik/usia biologis saja) sangat tidak disarankan untuk menikah.

Kedudukan pernikahan dalam Alkitab

Bagi kita orang percaya, selain dasar dari aspek psikologis, aspek kebenaran Firman Tuhan tentu juga perlu kita pahami benar dan jadikan dasar untuk memilih pasangan dan mempertahankan pernikahan. Memilih pasangan hidup haruslah dilakukan dalam kerangka tujuan Allah menciptakan kita sebagai manusia, yaitu menjadi rekan sekerja Allah, memiliki karakter seperti Kristus dan menjadi sempurna sesuai rancanganNya. Maka, pasangan hidup yang harus kita pilih adalah pasangan yang dapat membawa/bekerja sama dengan kita demi mencapai tujuan Allah ini, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Bila memang belum atau tidak ada, seperti kata Paulus, lebih baik tidak menikah. Pernikahan yang tidak membawa kita mencapai tujuan Allah (tidak membuat kita lebih dekat dan serupa dengan Kristus, tidak membuat kita semakin sungguh-sungguh dalam melayani Tuhan) sebenarnya hanyalah menjadi ajang pemuasan hawa nafsu serta keinginan pribadi kita saja.

Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus berkata,“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.  Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” (Ef. 5:32)

Kristus adalah kepala  dan jemaat adalah tubuhNya. Secara analogi, ini sama dengan kedudukan suami sebagai kepala dan istri sebagai tubuh. Alkitab mengajarkan bahwa hubungan antara pria dan wanita dalam suatu pernikahan adalah hubungan yang sangat penting dan dianggap sejajar dengan hubungan antara Allah dan manusia.  Pemahaman hubungan antara pria dan wanita dalam ikatan pernikahan akan bisa menjadi jembatan untuk mengerti hubungan Kristus dengan jemaatNya. Keindahan hubungan pria dan wanita dalam pernikahan dapat merefleksikan hubungan Kristus dan jemaatNya. Jika seseorang salah pilih jodoh maka akan sulit membayangkan dan menghayati hubungan dengan Tuhan dengan umatnya, karena akan menjadi jauh lebih sulit untuk mempraktikkan dan mencerminkan hal ini.

Lalu, bagaimana cara kita mendapatkan pasangan yang tepat dan apa prinsip-prinsip dalam menemukan pasangan hidup yang merupakan jodoh yang tepat bagi kita? Sebelum menjawabnya, kita harus terlebih dahulu memahami pandangan firman Tuhan mengenai jodoh itu sendiri, apakah di tangan Tuhan atau di tangan manusia yang sudah diberikan kehendak bebas dariNya.

 

Jodoh: Kehendak bebas atau takdir?

Pandangan orang dalam memilih jodoh umumnya terbagi menjadi dua kutub ekstrim. Pandangan pertama mengakui bahwa jodoh semata-mata hanyalah pilihan yang melibatkan keputusan dan kehendak pribadi manusia, tanpa melibatkan Tuhan. Pilihan diartikan sebagai penentuan pilihan atau pengambilan keputusan berdasarkan kehendak sendiri. Pandangan ini menekankan pada kehendak bebas (free will) manusia. Kehendak bebas adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membuat pilihan secara sukarela dan bebas dari segala tekanan atau pengaruh yang ada. Dalam pandangan ini, Allah hanya berperan sebagai pemberi legitimasi terhadap apa yang diputuskan manusia. Pandangan kedua adalah pandangan takdir (determinisme), yang mengakui bahwa jodoh seseorang telah ditentukan oleh Tuhan, karena Tuhan tahu yang terbaik dan Tuhan berdaulat mutlak dalam menentukan jodoh bagi manusia. Oleh karenanya, pandangan ini meyakini bahwa manusia hanya perlu pasrah dan menanti saja, tanpa perlu berusaha.

Allah yang kita percaya adalah Allah yang berdaulat dalam melaksanakan kehendakNya.  Allah juga Mahakuasa, sehingga sanggup melakukan segala sesuatu yang dikehendakiNya (Dan. 4-35). Namun, kehendak Allah yang berdaulat ini tidaklah menihilkan kehendak bebas manusia. Manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, karena manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Manusia bukan diciptakan seperti robot, tetapi manusia mempunyai citra Allah (imago Dei) dalam hal membuat keputusan dan menentukan pilihannya sendiri. Citra Allah dalam diri manusia membuat manusia memiliki pikiran, perasaan dan kehendak yang tidak dimiliki oleh mahluk lain. Sesungguhnya manusia dirancang untuk bisa membuat keputusan yang benar seperti Allah. Masalah mulai muncul setelah manusia jatuh dalam dosa, sehingga citra Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Rm. 3:10-12, 23; 5:12). Artinya, setelah kejatuhan Adam dan Hawa, manusia mempunyai natur dosa, sehingga manusia tidak bisa bertindak sesuai dengan citra Allah, termasuk dalam hal membuat keputusan yang benar. Karena itu, dalam menentukan pilihan (termasuk pilihan jodoh dan keputusan menikah) menjadi mutlak bagi kita untuk mencari kehendak Allah, bukan sekadar mengikuti pemikiran kita sendiri.

Untuk mengetahui persisnya apa kehendak Tuhan dalam jodoh, dibutuhkan kepekaan akan suara Tuhan. Kepekaan ini hanya bisa diperoleh jika manusia mencapai tahap dewasa rohani. Orang yang belum dewasa rohani sangat sulit mendengarkan suara Tuhan dan dengan demikian sulit pula mendapatkan pasangan yang dewasa rohani. Jadi, langkah pertama untuk mengetahui siapa dan di mana jodoh kita adalah bertumbuh menjadi dewasa rohani, sehingga kita peka terhadap suaraNya. Tuhan telah merancang jodoh yang terbaik bagi kita, tugas kita adalah menemukan kehendak Tuhan itu dan memutuskannya. Gambaran rancangan Tuhan itu bisa kita pelajari dari Alkitab, karena Tuhan telah memberikan prinsip-prinsip dasar mengenai jodoh yang tepat bagi kita.

 

Pasangan yang sepadan

Dalam urusan jodoh, seringkali fokus kita adalah sibuk mencari atau memilih-milih pasangan yang sempurna, tetapi lupa bahwa untuk mendapatkan pasangan yang tepat adalah dimulai dari pengenalan akan dan pertumbuhan diri sendiri. Jika kita menginginkan pasangan yang sempurna, apakah diri kita sendiri sudah sempurna dan layak mendapatkan pasangan seperti yang kita inginkan itu?  Kunci menemukan pasangan yang tepat adalah mengenal keunikan kita terlebih dahulu, lalu bertumbuh menjadi pribadi yang maksimal sesuai keunikan rancangan Tuhan bagi diri kita itu.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya,  yang sepadan dengan dia.” (Kej. 2:18). Yang menarik, dalam bahasa aslinya kata “sepadan” adalah “neged ”, yang artinya “bertentangan”/“berlawanan”. Mengapa Alkitab mengatakan bahwa pasangan yang sepadan artinya pasangan yang berlawanan atau bertentangan? Pengertian ayat ini merujuk bahwa perbedaan yang kelihatannya saling berlawanan antara pria dan wanita, tapi sesungguhnya saling melengkapi untuk mencapai tujuan pernikahan tesebut. Ilustrasinya seperti roda gigi pada jam mekanik. Terdapat banyak roda gigi yang bentuknya berbeda dan kelihatan saling berlawanan, tetapi perbedaan itu adalah perbedaan yang memang dibutuhkan untuk membangun jam yang berfungsi untuk menunjukkan waktu dengan tepat.

Pria dipilihkan wanita yang sepadan dengannya sebab wanita diciptakan untuk menjadi rekan yang mengasihi dan menolong pria. Selaku rekan, wanita bersama-sama ikut memikul tanggung jawab pria dan bekerja sama dengannya dalam memenuhi maksud Allah bagi kehidupan keluarga mereka.  Pasangan yang sepadan artinya pasangan yang saling melengkapi dengan tepat, bukan pasangan yang pasti sama dalam segala hal. Yang penting adalah satu tujuan, yaitu menggenapi rancangan Tuhan. Janganlah kita berfokus pada menemukan pasangan yang punya sifat mirip atau cocok dengan kita, tetapi lihatlah dengan benar apakah perbedaan sifat pasangan itu adalah keunikan yang berbeda dengan diri kita namun sesungguhnya bisa saling melengkapi untuk membangun pernikahan sesuai dengan rancangan Tuhan. Perbedaan yang ada dan terlihat berlawanan sebenarnya justru adalah suatu kekuatan yang dibutuhkan untuk membangun pernikahan yang kuat, membangun pribadi masing-masing menuju kesempurnaan yang Allah kehendaki.

 

Pasangan yang sevisi

Tujuan pernikahan yang utama adalah untuk semakin mengenal dan memuliakan Tuhan serta menggenapi rencana Allah dalam hidup pasangan. Pernikahan berarti bukan lagi keinginan masing-masing pribadi, tetapi ada arah dan petunjuk yang jelas bersama-sama.

“Janganlah kamu merupakan pasangan  yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Kor. 6:14)

Sekilas, dapat kita lihat bahwa Paulus menasihati supaya kita jangan berpasangan dengan orang-orang yang tidak percaya atau tidak seiman, karena yang demikian bukanlah pasangan yang seimbang.  Namun pertanyaannya, apakah pasangan yang seiman otomatis adalah pasangan yang seimbang? Apa yang dimaksud dengan seimbang disini?  Dalam bahasa aslinya kata ‘tidak seimbang’ adalah “heterozugeo”  yang berasal dari kata “heteros” dan “zugon”. “Heteros” artinya “yang lain”, “zugon” artinya “kuk” atau “bajak”. Kata yang sama digunakan dalam Matius 11:29, di dalam ucapan Tuhan Yesus yang meminta kita untuk memikul kuk dan belajar dariNya.

Kuk adalah alat yang biasa digunakan untuk mengikat dua leher sapi supaya mereka dapat berjalan beriringan saat membajak sawah. Apa yang terjadi jika dua sapi tersebut tidak berjalan seirama? Terkadang ketika dua sapi diikat dengan kuk, sapi yang agresif/cepat akan menyakiti leher sapi yang tenang/lambat. Ketika sapi agresif itu bergerak lebih cepat atau meronta ke sana ke mari, sapi yang tenang dan lambat akan terluka.Tanpa bekerja sama, kedua sapi tidak akan bisa membajak sawah walaupun diikat dengan satu kuk.

Kuk dalam konteks 2 Korintus 6:14 menunjuk pada beban atau tanggung jawab kita orang percaya pada kerajaan Allah. Beban orang yang percaya dan orang yang tidak percaya terhadap panggilan pernikahan pasti berbeda. Orang yang beragama Kristen belum tentu masuk kriteria orang percaya yang punya beban atau visi yang sama dalam menggenapi rencana Allah dalam pernikahan. Kuk yang dikenakan dalam hidup pernikahan bukanlah sebatas bentuk ikatan hubungan, tetapi juga arah yang disepakati di dalam pernikahan itu. Agar pernikahan bisa berjalan menggenapi rencana Allah, pasangan tersebut haruslah punya arah yang sama agar bisa bekerjasama ‘membajak’ (mengerjakan) panggilan Allah di dalam hidup pernikahannya. Sangat penting bagi anak muda yang hendak memilih pasangan memperhatikan hal ini: apakah pasangannya mempunyai arah atau irama yang sama dalam hidupnya dan dalam membangun keluarga kelak?

Kuk berbicara mengenai visi utama pernikahan yang menjadi beban, pemikiran dan tanggung jawab dari setiap pasangan suami-istri dalam pekerjaan Tuhan melalui hidup perkawinannya. Apa visi utama yang harus dimiliki oleh setiap pasangan?  Yang utama adalah setiap pasangan harus punya beban dan kerinduan untuk menjadi sempurna seperti yang Tuhan mau. Yesus berkata, “Jadilah kamu sempurna, seperti Bapamu di surga adalah sempurna.” (Mat. 5:48).  Sempurna di sini berbicara tentang karakter Kristus sesuai kapasitas yang Tuhan berikan. Memiliki visi sempurna seperti Kristus akan menggerakkan pasangan suami-istri untuk terus mengenakan pribadi Kristus di dalam hidup pernikahannya. Visi ini juga akan mengarahkan kehidupan keluarga yang dibangun untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain terutama untuk menolong orang lain bertumbuh hingga menjadi sempurna seperti Kristus.  Akhirnya, visi pernikahan untuk menjadi sempurna seperti Kristus akan mengembalikan pernikahan bagi kemuliaan Allah, dan membuatnya bertahan demi visi itu sendiri. Ingat, segala sesuatu hanyalah dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia.

2019-10-17T14:40:47+00:00