//Kamu di Mana Sekarang?

Kamu di Mana Sekarang?

Youth, ingatkah kamu dengan masa kecilmu? Waktu itu, kamu masih diberi minum susu, diberi makan bubur, dan disuapi selalu oleh orang tuamu. Waktu kamu masih bayi atau anak kecil,  kamu belum bisa makan makanan-makanan padat yang sekarang kita tahu nikmatnya: steak, rendang, ayam goreng, durian, ikan bakar… Setelah kamu tumbuh lebih besar, bahkan seiring dengan pertambahan usiamu dan pemahamanmu menjadi lebih dewasa, barulah kamu bukan hanya tidak lagi disuapi, tetapi juga makan sendiri dan lahap menikmati berbagai makanan yang bertekstur padat, yang juga sehat dan nikmat!

 

Pernahkah kamu memikirkan mengapa ketika masih kecil kita tidak diberi makan makanan padat oleh orang tua kita? Apakah orang tua memang suka menikmati makanan-makanan nikmat sendiri saja? Bukankah mereka seharusnya menyayangi kita dan memberikan yang nikmat-nikmat itu kepada kita?

 

Saat usia kita masih kecil, sistem pencernaan dalam tubuh kita masih sederhana dan berproses menjadi lebih kuat, sehingga belum mampu mencerna makanan padat dengan baik. Mulut dan lidah belum mampu mengecap dengan optimal, gigi belum tumbuh sehingga belum mampu menggigit dan mengunyah, otot kerongkongan belum lancar menelan, lambung belum cukup sanggup menampung, dan seterusnya. Jika bayi atau anak kecil dipaksa makan makanan padat, sistem pencernaannya pasti terganggu dan sangat mungkin organ tubuh lainnya pun jadi terkena efek sampingnya yang berbahaya. Alhasil, makanan padat yang nikmat itu malah jadi berdampak buruk bagi si bayi/anak kecil itu. Itulah sebabnya, orang tua memberikan makanan yang tepat sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan fungsi tubuh anak.

 

Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan kekristenan kita. Di 1 Korintus 3:2-3, Paulus berkata kepada jemaat di Korintus bahwa susulah yang dia berikan kepada mereka, bukan makanan keras, karena Paulus mengenali jelas pertumbuhan dan perkembangan kerohanian mereka. Dari mana Paulus mengenali kondisi jemaat di Korintus itu? Dari perilaku dan cara hidup mereka. “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya, karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”

 

Paulus menyadari bahwa jemaat Korintus masih berupa bayi-bayi, atau setidaknya anak kecil, rohani. Mereka adalah Kristen anak, seperti yang dijelaskan oleh Yohanes di 1 Yohanes 2:12-14, yang sejak dua bulan lalu kita bahas dalam majalah build! ini. Jemaat di Korintus adalah orang-orang yang baru saja mengalami kelahiran baru, yang masih perlu disuapi dengan makanan rohani yang lembut agar dapat bertumbuh dengan baik. Pada tahap itu, mereka belum mampu mencerna “makanan padat”: teguran yang keras, pengajaran yang rumit, tanggung jawab pelayanan yang berat, atau proses hidup yang sulit. Paulus memberikan “makanan lunak” agar jemaat di Korintus dapat mencernanya dan bertumbuh dengan proses yang baik. Apa yang terjadi jika Paulus langsung memberikan “makanan padat” untuk jemaat di Korintus? Mereka akan terkena dampak buruknya. Gagal mendapatkan nutrisi atau manfaat baik dari makanan rohani yang padat itu, dan malah akan tumbang atau bahkan mati imannya karena berbagai fungsi rohaninya terganggu. Apakah ini berarti jemaat di Korintus selamanya akan dibuai dengan makanan rohani yang lunak? Tidak. Justru, mereka akan tumbuh makin besar dan kuat dan matang, dan akan tiba pada fase usia rohani muda, yang kuat dan sanggup menerima makanan padat.

 

Youth, bagaimana dengan kita sendiri? Sebagian dari kita merupakan bayi-bayi atau anak-anak kecil rohani, yang baru mengalami kelahiran baru dan baru mampu mencerna makanan rohani yang lunak. Kalau kitalah bayi dan anak rohani itu, terimalah makanan lunak itu dan nikmati saja fase itu. Jangan iri dengan teman-teman lain yang sudah diberi makanan rohani padat, misalnya dipercaya untuk memimpin, diberi tanggung jawab mengajar, dan lain-lain. Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita masing-masing tetap dan selalu mengerjakan pertumbuhan bagi roh dan iman kita; bagian kita adalah menerima dan mencerna makanan rohani yang tepat untuk kebutuhan kita, dan taat mengikuti tuntunan Roh Kudus agar pertumbuhan itu terjadi.

 

Di sisi lain, pertumbuhan berarti kita tidak selamanya pula menjadi bayi atau anak kecil. Banyak dari kita yang sudah lama menikmati makanan lunak terus-menerus, padahal sudah seharusnya mulai mengunyah dan mencerna makanan yang lebih padat. Sudah lama berhasil berguling, merangkak, dan berjalan, tetapi tidak kunjung mau melangkah keluar dari kenyamanan kebiasaan buruk dan dosa, atau malas berlari meraih tujuan yang Tuhan berikan. Kitakah orang-orang Kristen muda yang masih ingin terus menjadi anak kecil ini? Kalau kita orang-orang yang demikian, kita perlu sadar akan diri kita sendiri. Jangan tolak lagi makanan padat yang Tuhan berikan: peringatan, teguran, tanggung jawab, atau apa pun perkataan Firman-Nya yang tepat bagi pertumbuhan rohani kita.

 

Proses pertumbuhan rohani pada dasarnya sama dengan proses pertumbuhan jasmani. Untuk menjadi besar dan dewasa, kita perlu mengalami siklus dari tahap menjadi bayi, anak kecil, remaja dan pemuda/pemudi, lalu dewasa dan menua. Kita tidak bisa menjadi dewasa jika kita belum mengalami menjadi bayi, dan sebaliknya, kita tidak bisa menahan proses demi tetap menjadi bayi tanpa bertumbuh menjadi dewasa. Dalam setiap tahapnya, selalu ada makanan yang tepat dan bentuk pertumbuhan yang normal. Nikmati saja setiap prosesnya.

 

Jika kita masih bayi atau anak kecil rohani, tidak usah memaksakan diri untuk terburu-buru dewasa hanya karena ingin disanjung atau dipandang keren. Nikmati saja makanan lunak dan ada pendampingan erat dari otoritas orang tua rohani kita. Ketika terjatuh, memang naluri seorang bayi atau anak kecil adalah menangis, tetapi selalu ada pendampingan dari orang yang lebih dewasa yang akan membantu si bayi/anak untuk bangkit kembali dan terus berjalan, sehingga lambat laun dia bisa berjalan dengan baik. Mungkin kadang kita masih terjatuh ke dalam dosa atau kesalahan lama, seperti yang disebutkan Paulus tentang jemaat di Korintus tentang dosa iri hati dan perselisihan, tetapi otoritas rohani yang sempurna yaitu Allah Bapa dan juga otoritas rohani di sekeliling kita ada untuk menolong kita bangkit kembali. Jangan malu mengakuinya ketika kita terjatuh, dan terimalah dukungan otoritas rohani itu untuk bangkit dan berjalan lagi. Dari proses bangkit kembali inilah, kita akan makin kuat dan terampil berjalan seiring dengan pertambahan usia rohani kita.

 

Setelah kita makin besar dan kerohanian kita makin matang, kita bertumbuh menjadi remaja dan pemuda/pemudi. Kita mulai belajar untuk menulis dan membaca, menerima tuntunan yang lebih tegas dan kompleks, dipercaya dengan tanggung jawab tertentu, dan, menyantap makanan-makanan padat. Pada tahap ini, proses hidup kerohanian kita tidak lagi semudah saat kita masih bayi/anak kecil rohani. Kita tidak boleh lagi hanya makan kalau disuapi, terjatuh dan hanya menangis tanpa mau bangkit kembali, atau ngotot bermalas-malasan saja tanpa mau menerima tanggung jawab apa pun. Sebagai orang-orang yang telah belajar mengenal Allah sebagai Bapa, kita sekarang harus menyadari kekuatan kita di dalam Dia dan mengandalkan Firman-Nya yang hidup di dalam kita. Dengan kekuatan itu, kita harus mengalahkan segala serangan jahat di dalam kehidupan kerohanian kita: godaan dosa, pengaruh dunia yang gelap, dan keegoisan diri sendiri yang kekanak-kanakan. 1 Yohanes 2:14 menjelaskannya, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.”

 

Kita semua adalah orang-orang yang telah dilahirkan baru oleh benih Roh Allah dan Firman-Nya. Roh kita sedang terus bertumbuh, setiap hari dan setiap saat. Di tahap mana pun posisi pertumbuhan rohani kita masing-masing saat ini, nikmati dan percayai saja proses yang Roh Kudus kerjakan. Ingat, setiap bentuk pertumbuhan itu berasal dari Tuhan, bagi kebaikan kita sekaligus untuk kemuliaan-Nya. Karena itu, jangan pernah berhenti bertumbuh!

2022-08-30T08:40:28+07:00