///Kapan Harus Bicara, Kapan Harus Diam

Kapan Harus Bicara, Kapan Harus Diam

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yak. 1:19)

Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.” (Ams. 10:20-21)

Ia yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, ia yang membuka lebar bibirnya, menuju kehancuran.” (Ams. 3:3)

 

Pada tahun 1871 di Wisconsin, Amerika Serikat, terjadi kebakaran hutan yang dahsyat. Api menyebar dengan cepat, membakar habis sekitar dua miliar pohon. Lebih dari 1.200 orang tewas. Di negara itu, sebelumnya tidak pernah ada kebakaran yang memakan korban sebanyak itu.

Penyebab kebakaran itu mengingatkan dan menunjukkan kebenaran dalam Alkitab. Kebakaran itu diduga awalnya tersulut oleh percikan api dari kereta-kereta yang melewati hutan; seperti yang digambarkan dalam salah satu ayat Alkitab: “Lihat! Betapa kecil api yang diperlukan untuk membakar hutan yang begitu besar!” (Yak. 3:5). Mengapa Yakobus berkata demikian?

Dalam penjelasannya, Yakobus mengibaratkan lidah dengan api yang percikan kecilnya mampu menghasilkan kerusakan dahsyat. “Lidah adalah api,” (Yak. 3:6). “Lidah” di sini artinya cara dan isi pembicaraan, atau perkataan yang keluar dari mulut manusia. Alkitab memberi tahu kita bahwa perkataan kita dapat berarti kehidupan atau kematian untuk orang lain (Ams. 18:21). Apakah itu berarti kita tidak usah berbicara sama sekali demi menghindari salah bicara dan kerusakan serius? Tentu saja tidak. Kita “hanya” perlu berhati-hati saat berkata-kata. Kita perlu mengerti kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Prinsip berhati-hati dengan perkataan ini berlaku di mana saja, termasuk di lingkungan kerja. Mari bayangkan beberapa situasi. Anda sedang marah besar. Karyawan yang baru mulai bekerja empat bulan lalu kini membuat sebuah kesalahan fatal. Akibatnya, salah satu klien penting Anda “ngamuk” dan hengkang dari bisnis Anda. Karyawan lain sering datang “beberapa” menit terlambat, bahkan kali ini selama enam hari berturut-turut. Karyawan yang lain lagi terus-menerus mengulangi berbagai kesalahan yang sama dan menjengkelkan setiap hari. Nah, apa sikap yang terbaik? Marah-marah atau sebaiknya diam saja?

Dari sisi sebaliknya, minggu lalu ketika atasan meminta pendapat Anda terhadap suatu masalah, Anda menyatakan setuju-setuju saja, padahal sebenarnya kepala Anda penuh dengan berbagai opini. Lalu, hari ini atasan Anda memutuskan menggunakan ide rekan kerja Anda, dan Anda menyesal tidak menyampaikan ide Anda (yang sepertinya lebih baik) kepada atasan saat ada kesempatan. Selain itu, seorang manajer datang kepada Anda dan “curhat” tentang seorang manajer lainnya yang akan dipecat oleh Direksi, sambil berkata bahwa “curhat” ini rahasia. Manajer lain yang akan dipecat itu sebenarnya masih terbilang kerabat Anda; dan siang itu ia makan siang bersama Anda sambil mengobrol. Ia mengeluhkan bahwa dirinya akhir-akhir ini sering dipersalahkan dalam pekerjaan. Sekali lagi, apa sikap Anda? Bagaimana Anda menyikapi situasi dengan atasan dan situasi dengan manajer yang adalah kerabat Anda itu? Lebih baik Anda diam atau berbicara?

Memang cukup sulit untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan kapan waktu yang tepat untuk diam. Kesadaran diri, persepsi, dan empati adalah pertimbangan kunci yang penting untuk membuat keputusan yang tepat. Secara umum, berikut ini adalah beberapa kiat yang akan membantu kita mengambil sikap yang tepat.

 

Tetaplah diam ketika:

  1. Anda hanya sedang memecah keheningan. Kadang-kadang, orang berbicara hanya untuk memecahkan keheningan; dan ini kemudian memicu obrolan tak berarti atau bahkan gosip. Jangan merasa tidak enak ketika seseorang diam saja. Bisa jadi seseorang diam karena memang tidak ada sesuatu yang perlu dikatakan. Lakukan pembicaraan yang relevan dan bermanfaat, ini adalah kunci untuk mencapai kejujuran dan fokus.
  2. Anda masih perlu waktu untuk memahami dan meyakini reaksi Anda. Dalam situasi yang emosional, seperti perdebatan dengan pasangan atau teman kerja, curahan isi hati yang penuh perasaan, dan sebagainya, selalu ada risiko Anda berespons dengan cara yang menyakitkan (agresif, menyinggung, disalahpahami, dll). Biasanya, kita perlu waktu lebih untuk memahami dan meyakini reaksi kita, demi mendapatkan perspektif yang benar. Karena itu, Anda mungkin perlu melangkah mundur dan mengamati sebelum bereaksi. Hal ini memungkinkan Anda mendengarkan intuisi dan menggunakan logika untuk menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dan memetakan reaksi Anda.
  3. Tidak ada apa-apa yang relevan atau bermanfaat untuk dikatakan. Beberapa hal lebih baik tidak dikatakan. Hindari mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak relevan dan tidak bermanfaat. Misalnya, tidak perlu memberi tahu atasan bahwa menurut Anda penampilannya kurang fashionable dan selera makannya “aneh”, atau mengungkapkan pada orang lain informasi pribadi yang rekan Anda percayakan pada Anda. Berbicara dalam situasi-situasi semacam ini justru akan menjadikan Anda pribadi yang “banyak mulut”.
  4. Orang lain jelas tidak mendengarkan. Kadang-kadang, seseorang sibuk dengan dirinya sendiri atau sekadar memang tidak mendengarkan kita. Tidak ada gunanya berbicara jika orang lain tidak mendengarkan Anda, karena pesan yang Anda coba sampaikan tidak akan didengar.
  5. Masalah yang dihadapi berskala kecil, tidak penting, tidak akan terjadi lagi, dan tidak memiliki dampak yang signifikan. Dalam masalah-masalah seperti ini, sebaiknya Anda diam; berbicara justru akan cenderung merusak suasana dan hubungan.
  6. Anda sekadar ingin membuktikan bahwa Anda-lah yang paling benar, padahal diskusi tidak mungkin terjadi. Yang terpenting dalam hampir setiap masalah adalah terjadi diskusi yang menyepakati solusi. Jika Anda menghadapi situasi ketika tidak ada peluang untuk diskusi seperti ini, sebaiknya Anda diam saja; tidak perlu memamerkan superioritas pendapat Anda demi membuktikan bahwa diri Anda benar. Percuma saja. Hal ini tidak menghasilkan apa-apa kecuali menyulut pertengkaran yang tak perlu.
  7. Anda tidak memiliki data atau bukti pendukung. Jangan berbicara mengenai suatu masalah atau kesalahan orang lain sampai Anda mengumpulkan semua informasi yang berguna untuk solusinya. Bila informasi dan data pendukungnya tidak lengkap, sebaiknya diam saja. Tak perlu berbicara.

 

Berbicaralah ketika:

  1. Anda sedang melakukan “personal branding. Penting sekali untuk Anda angkat bicara dan menunjukkan kualitas diri Anda secara sehat dan positif. Misalnya; dalam pertemuan dengan atasan, sampaikan berbagai usulan atau gagasan Anda yang brillian; saat ada kesempatan untuk menjadi panitia acara kantor, tampillah sesuai potensi Anda (jika perlu, jadilah ketua) dan sampaikan gagasan-gagasan Anda di hadapan banyak orang untuk “memasarkan” kekuatan dan kelebihan Anda.
  2. Anda perlu mengungkapkan perasaan dan perasaan itu memang perlu diketahui orang lain. Untuk menjaga ketenangan, beberapa orang memendam emosi yang sebenarnya perlu diungkapkan. Misalnya, jika rekan Anda membuat komentar kurang enak mengenai diri Anda, ungkapkan keprihatinan tersebut; jangan memendam kesal diam-diam dalam kebencian. Perasaan buruk yang terus dipendam suatu saat dapat menjadi ledakan kemarahan tiba-tiba yang sulit dikendalikan.
  3. Anda memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Jika kata-kata Anda dapat mengubah situasi menjadi lebih baik, Anda harus mengatakannya. Misalnya, jika rekan kerja Anda berkubang mengasihani diri sendiri setelah ia dimaki-maki atasan, Anda sebaiknya menunjukkan kepadanya sisi positif dari kehidupan untuk membantunya keluar dari depresi.
  4. Sebuah peluang emas sedang mengetuk pintu. Kehilangan kesempatan emas akan sangat mengecewakan dan menjengkelkan, bahkan lebih parah lagi ketika sebenarnya Anda tahu Anda bisa mencegahnya. Kehilangan kesempatan bisa terjadi misalnya ketika Anda malu mengungkapkan ide-ide kepada atasan, dan kemudian atasan memilih ide rekan Anda yang tidak sebaik milik Anda atau rekan itu mendapat promosi karena ide-idenya yang mirip dengan ide-ide yang tidak pernah Anda ungkapkan. Ketika kesempatan datang, ambillah dengan berbicara.
  5. Pendapat Anda diminta. Setiap orang memiliki pendapat. Jika seseorang meminta pendapat Anda, jangan takut menyampaikan hal itu dengan jujur dan bijak.
  6. Tidak ada orang lain yang mau berbicara untuk mencapai solusi yang sudah jelas. Ini memang sedikit riskan, tetapi penting. Misalnya, salah satu rekan kerja memiliki masalah bau badan (atau terlalu sering terlambat, suka bergosip, dll) yang menganggu dan tidak ada rekan yang berani memberi tahu dia karena hal tersebut sensitif. Sebaiknya Andalah yang berbicara. Jadilah pihak yang memimpin dan mengerjakan solusi; jangan berdiam dalam kumpulan orang-orang yang menderita karena masalah dan tahu solusinya tetapi tidak mau mengerjakan solusi.

 

Diam adalah emas dalam situasi-situasi tertentu. Namun, ketika Anda harus berbicara dengan tegas dan jelas karena suatu situasi melibatkan hak atau perasaan yang diinjak-injak, dimintai pendapat penting, atau mengerjakan solusi; lakukanlah. Berbicaralah. Kemampuan untuk berbicara membutuhkan tingkat kepercayaan tinggi; tetapi seperti semua keterampilan lainnya, Anda hanya perlu berlatih untuk dapat menguasai keterampilan berbicara dengan lebih baik, lebih asertif, dan lebih efektif.

2019-09-27T12:38:35+00:00