///Karakter Kristus : Bisa dipercaya

Karakter Kristus : Bisa dipercaya

Ada harga yang harus dibayar ketika kita menerima sebuah kepercayaan, khususnya  kepercayaan Tuhan yang mulia kepada kita, yaitu memenuhi bumi dan menaklukkannya, karena itulah amanat Allah sejak semula (inspirasi dari Lukas Winarno, Penatua Jemaat Abbalove Ministries Industri). Pernahkah saudara berpikir bahwa Allah mempercayai kita sedemikian rupa, dan Tuhan membayar harga kepercayaan itu dengan sangat mahal dan tidak ternilai dengan mengirimkan Yesus Kristus untuk menebus dosa kita? Itulah sebabnya Firman Allah berkata di dalam Roma 8:32: “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Apakah kita bisa menjadi pribadi yang bisa dipercayai? Bagaimana caranya? Saya hanya memberikan satu kiat saja, yaitu “Terimalah setiap kepercayaan, sekecil apa pun, dengan hati yang bersyukur, kemudian jagalah kepercayaan itu sampai pada akhirnya.”

Nah, selanjutnya, sadarkah kita bahwa Tuhan selalu menyediakan hal-hal kecil dan  sederhana untuk mengukur kualitas pribadi kita dalam hal sejauh mana kita bisa dipercaya? Jawablah tiga pertanyaan saya ini, untuk mengukur sejauh mana Saudara bisa dipercaya.

1. Sadarkah Saudara akan tanggung jawab yang Saudara pegang sekarang? Sadarkah Saudara bahwa peran Saudara, apa pun itu (sebagai istri, suami, anak, atasan, bawahan, dsb), adalah sebuah kepercayaan?

2. Apakah Saudara sudah melakukan tanggung jawab Saudara terhadap kepercayaan itu secara maksimal? Atau hanya kadang-kadang saja, atau bahkan Saudara sama sekali tidak menyadari bahwa Saudara bertanggung jawab atas kepercayaan itu?

3. Tahukah Saudara, kepada siapa Saudara harus mempertanggungjawabkan fungsi dan posisi Saudara itu? Misalnya, kepada keluarga, atasan, atau organisasi yang berwenang?

 

Selain berkaitan dengan orang lain sebagai pihak pemberi kepercayaan, sesungguhnya semua kepercayaan pada akhirnya mengerucut pada satu titik, yaitu hati nurani kita sendiri, seperti yang tertulis di dalam Roma 14:12: “Demikianlah setiap orang diantara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah.” dan di dalam Pengkotbah 12:14: “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”  Biarlah kita senantiasa ingat untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, setidaknya kepada Tuhan dan kepada hati nurani kita sendiri, tempat di mana Tuhan pun tinggal.

Bagaimana dengan saya sendiri? Contoh penerapan pribadi yang saya lakukan adalah tulisan ini, yang saya buat sebagai  bagian dari pertanggungjawaban saya kepada Tuhan yang ada dalam hati nurani saya, akan kepercayaan yang telah Dia berikan dalam bentuk hikmat, talenta, dan hal-hal lainnya.

Jika Saudara membutuhkan konsultasi lebih lanjut, silakan kirimkan email ke [email protected]

2019-10-17T14:34:39+07:00