//Kasih Karunia yang Utuh

Kasih Karunia yang Utuh

Bagi setiap orang, tak terkecuali orang-orang muda, masalah memang pasti muncul dalam hidup sehari-hari. Itu sebabnya, di tengah-tengah segala masalah itu (atau pergumulan, tekanan, kesulitan, tantangan, apapun sebutannya), tidaklah mudah untuk kita hidup seperti Kristus. Syukurlah ada kasih karuniaNya yang selalu tersedia melimpah bagi masing-masing dari kita. Namun, apa sebenarnya kasih karunia ini? Bagaimana sih kasih karunia bisa menjadi kelegaan dan sukacita bagi kita, sekaligus menolong kita untuk terus bertumbuh sampai menjadi serupa dengan Kristus nantinya?Sejak beberapa waktu lalu, kegerakan “Berjalan dalam Kasih KaruniaNya” membuat banyak orang muda yang saya jumpai hidup dengan penuh sukacita. Beberapa yang sempat terhilang dari peredaran menjadi mulai aktif terlihat lagi di kegiatan-kegiatan gereja tiap minggunya. Bahkan tak sedikit yang mulai kembali ambil bagian dalam pelayanan. “Puji Tuhan…” ungkapan dalam hati saya.

Ada pula yang tak segan membagi prinsip ini di media sosial. Tulisan-tulisan penuh makna terpajang begitu indah di Facebook, Path, Instagram, BBM atau yang lain-lainnya. Terdengar sangat luar biasa, karena ini sepertinya adalah “kebangunan” bagi orang-orang muda tersebut. Dan berita yang menambah kebahagiaan saya adalah ketika orang-orang tersebut mulai mencari kakak rohani untuk terlibat dalam pemuridan.

Selang beberapa lama, timbul beberapa percakapan yang mulai memperlihatkan perkembangan bahwa si kakak rohani dibuat kebingungan akibat antusiasme dari penggunaan kasih karunia yang “berlebihan”. Begitu mudahnya seseorang mengatakan bahwa ia menghidupi “kasih karunia”, dan ia pun serasa terbebas dari segala rutinitas yang dunia tetapkan (tidak perlu ikut aturan lagi), ada pengampunan untuk setiap kesalahan dan dosa yang ia buat (walaupun kesalahan/dosa yang sama terulang berkali-kali alias tidak sungguh-sungguh bertobat), ada kebebasan dari setiap hal yang menyiksa dia (lakukan hal-hal yang mendatangkan sukacita saja, tidak perlu lakukan yang sulit-sulit atau yang menderita). Apakah ini yang disebut dengan kasih karunia?

Bila saya boleh berkata terus terang, ini bukanlah kasih karunia. Ini justru seperti “pemberontakan halus” yang sering terjadi di kalangan orang-orang muda saat ini: Anda dan saya, kita semua. Memang kita bersyukur bahwa kita hidup di era kasih karunia yang melimpah ruah. Namun, jika dampak yang timbul justru adalah pribadi yang tak mau diatur, selalu “berkubang” dalam kesalahan/dosa yang dibuat karena ada pengampunan pada akhirnya, ketidakkonsistenan dalam berbagai disiplin rohani dan tanggung jawab pelayanan hanya karena prinsip Allah melihat hati dan bukan penampilan, bukankah ini semua menjadi begitu rancu? Kasih karuniakah ini?

Perenungan saat teduh di beberapa minggu lalu membuat saya mengalami pe-rhema-an luar biasa tentang prinsip ini. Ayat Alkitab ini mungkin sudah ratusan atau ribuan kali saya dengar/baca: Yohanes 15:1-8, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya… Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu… Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Wah… Bukankah “minta apa saja dan kamu akan menerima” ini adalah kasih karunia? Inilah sesuatu yang tidak mungkin bisa kita dapatkan dengan mudah, namun Ia memberikannya kepada kita dengan mudah. Sesuatu yang seharusnya tidak layak untuk saya peroleh, namun saya dilayakkan untuk menerimanya. Inilah kasih karunia! Tetapi, bagaimana saya bisa mengalami kasih karunia semacam ini?

FirmanNya jelas. JanjiNya akan kasih karunia tersebut perlu didahului dengan 3 hal yang bisa kita pelajari bersama-sama:
1. Tinggal di dalam Yesus
2. Yesus tinggal di dalam hidup kita
3. Bapa menjadi pengusaha dan penguasa hidup kita

Sering kali sebagian kita hanya sampai di tahap pertama: “saya tinggal di dalam Yesus”, lalu selesai sampai di situ. Ini memang tahap yang luar biasa indah. Bayangkan, kita hidup dalam Yesus: dalam segala kelimpahan kasihNya, kuasaNya, kekayaanNya, kemuliaanNya, dsb. Namun, ayo, kita lanjutkan tahapan ini. Ijinkan Yesus tinggal di dalam hidup kita, maka kita akan ingin juga melakukan/memikirkan/merasakan/mengatakan sama seperti apa yang Yesus kerjakan, pikirkan, rasakan atau katakan. Apa artinya? Sekarang Yesuslah yang hidup melalui diri kita, setiap hari. Sehingga kita menjadi pribadi yang “bergerak” berdasarkan “gerakan” Yesus. Mendisiplinkan diri, mengerjakan pekerjaan Bapa, mendengar apa yang Bapa mau, dsb. Ingat, setiap hari. Ini memang tidak mudah, karena kita perlu beralih dari tahap mengenal Yesus yang indah, kepada mengenal Yesus yang kadang menderita, harus bekerja keras, menanggung kesulitan, dll. Tetapi justru di sinilah kasih karunia itu mulai menjadi nyata, karena “Yesus tinggal di dalam saya”. Lalu apa kelanjutannya?

Bila kita sudah sukses ke tahap “Yesus tinggal di dalam saya”, jangan cukup puas, karena ada tahap yang lain yaitu mempersilahkan Bapa menjadi pengusaha dan penguasa hidup kita :). Inilah tahap yang tertinggi, di mana kasih karunia itu menjadi satu-satunya hal yang kita andalkan. Saya selalu teringat proses terhebat yang Yesus lakukan adalah ketika Ia menjelang melakukan perintah Bapa di Taman Getsemani. Proses pergumulan Yesus di taman ini membuktikan bahwa menjadikan Bapa penguasa hidupNya bukanlah sekedar “gombalan” Yesus kepada murid-muridNya, namun kenyataan yang Ia sendiri hidupi. “Menjadikan Bapa penguasa hidup” berarti kita siap menderita, menyangkal daging, mengikuti prosesNya dan setia, hanya bermodalkan kasih karunia yang Ia sediakan bagi kita.

Jadi, kembali lagi, apakah kasih karunia itu? Kasih karunia Tuhan itu utuh. Ia bukan produk gampangan atau murahan. Ia mengandung sisi penderitaan dan perjuangan, namun ia pun menyediakan jaminan kemenangan dan kemuliaan. Ia mengandung sisi kesulitan dan pergumulan, namun ia pun menyediakan pertolongan dan kekuatan yang berlimpah-limpah. Dan kasih karuniaNya yang utuh itu pasti kita dapatkan, asal kita tiba pada tahap yang mengandalkannya. Inilah kasih karunia yang sejati, yang menganugerahkan kepada kita “apapun yang kita minta dan kehendaki di dalam Dia”, dan yang memampukan kita untuk bertumbuh menjadi serupa denganNya.

2019-11-01T11:43:23+07:00