//KEBERANIAN ILAHI

KEBERANIAN ILAHI

 

Keberanian muncul dalam situasi tersulit

Banyak orang mengeluh bahwa mereka tidak cukup berani untuk melawan kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Akan tetapi, sejarah telah membuktikan berulang-ulang bahwa keberanian sejati justru timbul ketika kita berani melawan titik kritis di dalam diri kita sendiri.

Dalam kitab Yosua 17, diceritakan tentang suku-suku dari keturunan Yusuf yang menjadi takut dan meragukan janji Tuhan. Ketika mereka membutuhkan tanah yang lebih luas untuk mereka tinggal, maka mereka datang kepada Yosua. Lalu, Yosua berkata, “Tanah yang dialokasikan Tuhan bagimu sudah cukup. Lihatlah ke daerah pegunungan yang menjadi bagianmu itu. Tebanglah pohon-pohonnya dan tinggallah di sana. Kemudian, pergilah ke lembah-lembah yang menjadi bagianmu dan usirlah orang-orang Kanaan itu.” Tetapi mereka menjawab, “Tidak ada daerah pegunungan yang cukup luas untuk kami tinggali dan orang-orang Kanaan itu mempunyai kereta-kereta besi.” Itulah alasannya.

Bandingkan dengan respon Kaleb saat menghadapi situasi yang mirip dengan mereka yang terdapat dalam Yosua 14 & 15. Kaleb berkata, “Lihat, saya sekarang berumur 85 tahun. Tetapi, masih kuat seperti 40 tahun lalu. Berikanlah sekarang daerah pegunungan yang dijanjikan oleh TUHAN kepada saya. Engkau tahu sendiri bahwa di sana ada bangsa raksasa yang disebut bangsa Enak dan mereka tinggal dalam kota-kota besar yang bertembok. Tetapi, TUHAN akan menolong saya, agar saya dapat mengusir mereka, seperti yang dikatakan TUHAN.”

Keberanian sejati tidak akan muncul dari kondisi yang nyaman atau dari tantangan-tantangan yang berada di dalam kendali kekuatan kita. Keberanian sejati justru baru muncul ketika kita menghadapi situasi tersulit yang dapat membuat lutut kita bergetar.

Keberanian ilahi muncul dari iman akan kebenaran

Alkitab mendefinisikan iman sebagai sesuatu yang erat dengan keberanian.  Coba perhatikan. Alkitab mendifinisikan iman sebagai komitmen untuk maju dan berjuang dengan melihat harapan yang belum terlihat oleh mata jasmani (Roma 8:24-25). Keberanian yang muncul dari iman bukanlah kenekatan. Nekat adalah tindakan yang didasari oleh kesombongan akan kemampuan diri sendiri. Iman adalah tindakan yang didasari oleh kepercayaan pada apa yang benar; dan janji Tuhan selalu benar. Karena itu, keberanian sejati muncul dari kemampuan melihat janji Tuhan melalui mata rohani.

Keberanian sejati diperkuat oleh komitmen iman

Alkitab juga mendefinisikan iman sebagai kemampuan untuk melangkah di jalan yang belum terlihat (Daniel 3). Ketiga sahabat Daniel diperhadapkan kepada “dapur api” yang panasnya bisa merengut nyawa seseorang dari jarak jauh. Akan tetapi mereka berkata, “Tuhan kami dapat membebaskan kami. Kalaupun Tuhan tidak membebaskan kami, kamipun tidak akan menyembah patung tuan.” Mereka menyadari resiko dari keputusan mereka. Saya yakin bahwa ada rasa khawatir yang berusaha menyelimuti hati mereka. Namun, mereka tidak membiarkan keputusan mereka dipimpin oleh rasa khawatir. Mereka berkata, “Walaupun kami takut. Akan tetapi kami tetap percaya Tuhan mampu membebaskan kami.” Itu adalah keberanian ilahi.

Lawan terbesar keberanian ilahi

Lawan terbesar dari keberanian ilahi bukan terletak pada faktor-faktor di luar diri kita. Lawan terbesar dari keberanian ilahi adalah kurangnya iman kepada Tuhan yang sejati. Banyak orang meletakkan imannya pada kemampuannya mengatur keuangan dan bukan pada prinsip-prinsip Firman. Itulah yang membuat mereka tidak dapat terlepas dari jerat hutang. Banyak orang meletakkan imannya kepada keahlian interpersonalnya dan bukan pada prinsip-prinsip Firman. Itulah sebabnya mereka tidak pernah memperbaiki relasi dengan orang lain maupun keluarganya. Banyak orang meletakkan imannya pada keahlian menganalisanya dan bukan pada prinsip-prinsip Firman. Itulah sebabnya mereka selalu melewatkan kesempatan-kesempatan emas yang Tuhan sediakan. Banyak orang meletakkan imannya pada tradisi dan bukan pada prinsip-prinsip Firman.  Itulah sebabnya banyak gereja-gereja yang tergilas oleh tantangan jaman. Banyak orang meletakkan imannya pada teknologi dan ilmu pengetahuan dan bukan prinsip-prinsip Firman. Itulah sebabnya mereka tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan dan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Pada saat Anda bergumul mengenai keberanian, cobalah untuk menanyakan beberapa pertanyaan ini. Apakah saya mengenal dan memperlakukan kebenaran Firman sebagai seorang asing yang hanya saya temui di depan rumah? Apakah saya mengenal dan memperlakukan kebenaran Firman sebagai seorang tamu yang saya persilahkan masuk, akan tetapi hanya sampai ruang depan dan tidak tinggal terlalu lama? Atau, apakah saya mengenal dan memperlakukan kebenaran Firman sebagai seorang keluarga yang saya persilahkan tinggal dan ikut mengatur seluruh isi rumah kehidupan saya?

Keberanian sejati membawa Anda kepada hidup yang berkemenangan dan berlimpah dengan kasih karunia Tuhan. Keberanian sejati membawa Anda keluar dari jerat-jerat iblis yang menghancurkan kesaksian hidup Anda. Keberanian sejati memampukan Anda memberi kontribusi terbaik bagi Kerajaan Allah.

Bagaimana memiliki keberanian sejati?  Alkitab mengatakan demikian:

“Everything you were taught can be put into a few words: ‘Respect and obey God!’ this is what life is all about.” (Ecclesiastes 12:13 CEV)

“Semua yang telah diajarkan kepadamu dapat disimpulkan dengan beberapa kata: ‘Hormati dan taati Tuhan!’ Ini adalah arti sesungguhnya dari kehidupan.”

Karena itu, apapun situasi dan tatangan yang sedang Anda hadapi, perdalam pengenalan Anda akan Tuhan. Sebab ketika Anda mengenal Tuhan, maka Anda akan memiliki keberanian sejati dari Allah sendiri.

2019-09-29T10:36:36+00:00