///Kekuatan cinta

Kekuatan cinta

Tidak lama kemudian, duduklah Bu Indari dan gadis kecilnya itu untuk bersama-sama menikmati makan siang, masing-masing bercerita ceria apa yang terjadi sepanjang pagi sampai siang hari itu. Mayang berceloteh banyak tentang BFF-nya (best friends forever). Bu Indari menyimak cerita putrinya, sambil kadang terbingung dengan bahasanya yang campur-aduk antara bahasa Indonesia dan Inggris. Semakin menyimak cerita Mayang, semakin Bu Indari menyadari betapa gadis kecilnya sedang menjelma menjadi seorang remaja yang mulai terasa kematangannya.

“Ok… now it’s your turn, Mom… Tell me about your day,” Mayang bertanya sambil asyik menikmati semur kentang, sup sayuran dan kerupuk; menu makan siang kesukaannya. Mulailah Bu Indari menceritakan apa yang terjadi sepanjang hari itu, “Hari ini Mama sebenarnya bingung kegiatan apa yang bisa dikerjakan bersama Eyang Putri dari pagi sampai siang sebelum besuk Eyang Kakung di rumah sakit.Soalnya, kalau nggak ada kegiatan Eyang Putri jadi gampang sedih karena ingat Eyang Kakung yang sedang sakit. Mama berdoa sejak tadi malam, dan pagi tadi Tuhan kasih ide asyik untuk dikerjakan.”“Wah… Apa tuh, Ma…?” potong Mayang tidak sabar.

“Iya, Mama tadi pagi minta tolong Papa belikan beberapa pot bunga ukuran sedang dan juga beberapa karung media pupuk untuk tanaman. ‘Kan Eyang Putri suka berkebun, dan taman kecil depan rumah kita sudah terlalu rimbun. Nah, jadi tadi Mama ajak Eyang Putri berkebun,deh. Dan ternyata, itu bikin Eyang Putri lupa sama sedihnya.”

“Ma, apa yang membuat Mama terpikir untuk berdoa dari semalam sampai dapat ide untuk ajak EyangPutri berkebun pagi ini?” pertanyaan Mayang membuat mamanya berpikir beberapa detik. Tetapi sebelum Bu Indari sempat menjawab, tiba-tiba Mayang menjawab sendiri pertanyaannya, “Pasti karena Mama sayang Eyang Putri, ya… Am I right,Ma…? Dan Mama sayang Eyang Putri karena Mama juga percaya Tuhan sayang Eyang Putri dan juga nggak mau Eyang Putri sedih ingat Eyang Kakung yang lagi sakit. Asyik ya Ma, kalau kita bisa cerita apaaaaaaaja sama Tuhan…” Bu Indari tercekat dengan jawaban yang diucapkan putrinya. Betul sekali, memang kasih Tuhan adalah kekuatan cinta terbesar yang bisa “ditularkan” dari dalam batin kita kepada orang lain di sekeliling kita.

Ternyata,Mayang mulai memperhatikan hal-hal yang terjadi sehari-hari dan ini menjadikannya lebih memahami lagi tentang “sekolah” lain yang tanpa sadar dia ikuti selain sekolah formalnya; sekolah kehidupan. Rasanya, belajar di sekolah yang satu ini menjadi makin menarik…

Mayang melanjutkan celotehannya, “Ma, aku jadi ingat satu kejadian lagi yang menarik juga. ‘Kan jalanan rumah kita lagi dicor supaya tambah tinggi, waktu itu pas ada mobil papasan sama mobil kita dan Papa minggir untuk kasih jalan supaya mobil yang dari arah depannya lewat, ‘kan mobil itu malah kejeblos di depan rumah kosong yang depannya belum ditinggiin. Nah, Papa langsung turun tuh Ma, nolongin orang yang mobilnya kejeblos itu… Papa cari batu, kayu, atau apa saja yang bisa dipakai untuk bantu naikin ban depan mobil orang itu, supaya bisa naik lagi ke jalan. Padahal Papa nggak kenal sama orang itu, lho. Herannya lagi, banyak orang lewat disitu waktu itu, tapi nggak ada yang bantuin,semuanya malah ngeliatin aja. Malah ada dua orang yang keluar dari gang sebelah sambil bawa Alkitab lho,Ma… Kayaknya mereka pulang dari gereja, tapi cuma lewat doang, trus jalan lagi… Aku jadi ingetada satu cerita di Alkitab tentang orang Samaria yang baik hati.” Bu Indari pun bertanya, “Jadi menurut kamu, siapa orang Samaria yang baik hatinya?” Mayang sigap menjawab, “Papa…!”

“Nah, itu juga tuh Ma, yang bikin Mayang makin yakin bahwa Papa lakukan itu karena Papa kenal dan ngalamin cinta Tuhan, jadi Papa lakukan itu karena cinta, karena kasih… Sekarang Mayang ngerti deh, kenapa Tuhan Yesus ngajar pakai cerita tentang orang Samaria yang baik hati. Karena, ternyata cerita itu bener-bener terjadi, dan Mayang lihat dan alami sendiri…”Kesimpulan Mayang ini membuat waktu makan siang hari itu menjadi waktu mengobrol dan fellowship yang indah serta membangun di antara Bu Indari dan anak perempuannya itu.

Malam harinya, seperti biasa keluarga kecil ini membaca satu pasal dari Alkitab dan menutup hari dengan berdoa bersama.Mayang mengucapkan doanya, “Bapa di surga, terimakasih karena hari ini aku belajar tentang kekuatan cintaMu.Aku mau jadi saluran kasihMu seperti Papa dan Mama. Amin.”

 

Pertanyaan refleksi:

1. Kapan terakhir kali Anda mengalami kasih Tuhan?

2. Seberapa besar kesadaran akan kasihNya memengaruhi hidup sehari-hari Anda?

3. Seberapa sering Anda menyadari bahwa apapun yang Anda lakukan sejatinya adalah karena Anda telah dikasihi oleh Allah terlebih dulu?

4. Buatlah catatan harian tentang perubahan sikap hati dan perilaku Anda karena mengalami kasih Allah dalam masa sebulan ini!

2019-10-11T12:40:25+07:00