///Kekudusan Pranikah

Kekudusan Pranikah

A    : Kami benar-benar merasakan pernikahan kami adalah salah satu momen terindah dalam hidup kami. Kami berdua sangat bahagia dan merasa sangat siap secara fisik maupun mental memasuki pernikahan. Pada saat didoakan dan diberkati oleh gembala nikah, kami merasakan kehadiran Tuhan yang kuat dan menyatukan kami sehingga pengalaman ini sungguh mengharukan bagi kami.
H    : Acara pemberkatan, resepsi maupun dan upacara adat berjalan lancar. Semua pihak keluarga merestui pernikahan kami , ditandai dengan banyaknya saudara, termasuk dari agama lain, yang datang ke gereja.
A    : Kami bisa berani memegang komitmen yang sulit ini dalam pranikah karena kami menyadari itu adalah kebenaran Firman Tuhan yang ingin kami praktekan dalam membangun pondasi pernikahan.
H    : Selain itu, kami percaya adanya hukum tabur tuai dalam Alkitab. Jika kita menabur hal-hal yang baik mengikuti Firman Tuhan maka akan menuai berkat yang baik dari Tuhan, dan sebaliknya.

 

R    : Kak Anton, sebagai seorang pria, bukankah tidak mudah untuk menjalankan komitmen untuk tidak ciuman, tidak pacaran seperti yang lain. Apa sih kak, yang selama ini jadi godaannya? Dan bagaimana kakak mengatasinya?
A    : Bagi saya, ada dua hal yang jadi godaan. Yang pertama adalah teman-teman pria lain dalam pergaulan, yang nilai-nilainya tidak sama dalam membina hubungan pranikah. Mereka adakalanya menggoda atau mendorong untuk melakukan hal-hal yang tidak kudus misalnya dengan menanyakan apakah sudah pernah mencium pasangan. Pendapat mereka banyak mengatakan bahwa pria harus bisa menaklukkan wanita, dan caranya antara lain dengan mengatur/menguasai pasangan wanitanya, boleh melakukan petting bahkan sampai berhubungan seks. Dan yang kedua adalah pengaruh media massa seperti tontonan TV maupun informasi yang bernuansa seksualitas sehingga kadangkala memancing/mendorong pria memikirkan hal-hal yang tidak kudus. Nah kedua hal ini bisa dengan mudah masuk dan mempengaruhi pikiran saya.

 

R    : Nah, bagaimana tuh cara mengatasinya?
A    : Sebagai pria, saya perlu berinisiatif mengajak wanita untuk berkomitmen menjaga nilai-nilai yang diajarkan dalam BPN seperti: menjaga kekudusan, memperlakukan sebagai saudara seiman, saling terbuka mengenai diri dan keluarganya, dll. Juga berkomitmen untuk memperlakukan wanita secara sopan, tidak iseng memegang atau meraba wanita, tetap menganggap sebagai saudara seiman/sahabat, bukan sebagai pacar.  Saya juga menjaga agar pertemuan berdua tidak terlalu lama, tidak pulang terlalu malam. Pertemuan berdua lebih banyak diisi untuk membicarakan mengenai keadaan diri dan keluarga agar pasangan mengenal lebih dalam atau mendiskusikan nilai-nilai dalam pernikahan seperti yang diajarkan dalam BPN.  Kami menghindari hal-hal yang menjurus ke hal-hal romantis.

R    Bagaimana dengan Kak Heppida, apa yang menjadi godaan selama pranikah untuk membatalkan komitmennya?
H    : Teman-teman wanita yang nilai-nilainya tidak sama dalam membangun hubungan pranikah sering mengatakan bahwa rasa sayang harus diekspresikan dengan pelukan dan ciuman sehingga jika tidak mengalaminya diragukan rasa sayangnya. Ini sangat menggoda saya, sehingga timbul keinginan untuk diperhatikan lebih atau diperlakukan istimewa, adakalanya ingin mendapat sentuhan atau belaian terlebih menjelang pernikahan karena secara hati sudah merasa lebih dekat.

R    : Lalu bagaimana mengatasinya?
H    : Saya harus sepakat dengan apa yang menjadi ajakan pasangan saya untuk tetap menjaga komitmen, hal ini akan selalu mengingatkan saya mengenai komitmen yang sudah dibuat ketika ada godaan untuk melanggarnya.  Selain itu saya perlu menjaga sikap dan penampilan yang sopan, tidak bersikap manja berlebihan dan belajar menghormati pria.

R    : Apa peranan pelayanan BPN (Bimbingan PraNikah) yang kakak berdua ikuti selama pranikah dengan pemberkatan nikah kudusnya?
A    : Yang paling menonjol dalam pelayanan BPN yang kami rasakan manfaatnya sampai hari ini setelah 10 tahun menikah, salah satunya adalah prinsip kekudusan. Prinsip kekudusan yang kami bangun sejak pranikah menjadi ikatan yang kuat dalam menghadapi tantangan dalam pernikahan. Kekudusan pranikah menjaga kami dari luka batin yang merusak, perasaan yang tidak sehat dan bisa membangun hubungan personal yang kuat dan murni baik dengan pasangan maupun dengan Tuhan sendiri.

H    : Kami sangat didukung untuk menjaga kekudusan pranikah di BPN karena kami bukan hanya mengikuti pembinaan melalui kelas tutorial, tapi juga melalui adanya kelas kecil semacam komsel. Hal ini membuat kami bisa lebih terbuka satu sama lain sehingga jika ada potensi masalah dikemudian hari lebih mudah dikenali.

R    : Nah, sekarang, apa pesan buat para pembaca yang sudah memiliki pasangan tapi belum menikah?
A    : Jika kamu belum bergabung dalam Bimbingan PraNikah, cepatlah menghubungi nomor kontak informasi di masing-masing area. Setia dan komitmen dalam mengikuti pengayoman dari BPN, manfaatkan sebaik-baiknya fasilitas yang disediakan untuk mempersiapkan pernikahan kudus.
“sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:6
( hy 04/14)

2014-04-26T03:22:05+07:00