//Kemenangan Semu

Kemenangan Semu

Bermain online game mungkin adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi banyak orang, apalagi setelah seharian dilanda kesibukan studi atau pekerjaan. Kemenangan di online game menjadi seperti penghargaan yang kemudian menaikkan level dopamin di dalam otak, hingga kita bisa merasakan keseruan dan sensasi asyik yang menderu. Sensasi itu terasa makin signifikan bila kita baru saja mengalami hari yang tidak menyenangkan, kegagalan dalam masalah yang sulit, diperlakukan buruk oleh orang lain, atau bahkan “sekadar” terjebak macet. Online game bisa jadi sebuah coping mechanism, strategi andalan untuk menghadapi stres yang terpicu oleh hal-hal buruk tersebut.

 

Bermain online game dapat menjadi adiktif, karena para pemain dapat merasakan kemenangan setelah merasa “kalah” oleh tekanan di dunia nyata. Para pemain juga dapat merasa punya kendali/kuasa karena kontrol permainan berada di tangan mereka, setelah mungkin merasa tidak berdaya dan tak mampu mengendalikan segala tekanan di dunia nyata. Bagi orang-orang yang tidak bermain online game, kemenangan dan kendali itu memang hanya semu, tetapi sebenarnya rasa kemenangan yang seru itu nyata dan lebih dari cukup untuk menjadi pelarian. Itulah sebabnya begitu banyak orang menjadi kecanduan terhadap online game, dan industri gaming saat ini sangat serius mengembangkan berbagai permainan dengan mengintegrasikan penelitian pada psikologi serta pola perilaku manusia.

 

Saat ini, bermain online game menjadi kegiatan yang makin populer. Dunia online game terus berkembang di belakang maupun di depan layar. Permainan menjadi makin interaktif dan “nyata”, dengan dukungan berbagai sisi yang sebelumnya tidak terpikirkan: tampilan visual dan grafis, kualitas audio, penggunaan bahasa, keberadaan komunitas para pemainnya, dan banyak lagi.  Melihat peluang kebutuhan di industri gaming, saat ini banyak universitas menawarkan pendidikan di jurusan pengembangan online game, demi mencetak lulusan spesialis yang siap menyongsong masa depan yang seru sekaligus makmur. Lebih jauh lagi, bermain online game tidak lagi sekadar hobi bagi sebagian orang. Kini, sudah semakin lumrah jika seorang anak memiliki cita-cita menjadi seorang pemain online game profesional, lengkap dengan keranjingannya untuk berlatih dalam kemahiran bermain maupun mengatur keseharian demi prioritas pada online game, karena memang ini dapat dijadikan bidang karier yang cukup menjanjikan secara penghasilan. Komite Olimpiade Internasional (IOC) pun telah mengakui online game atau e-sports menjadi salah satu cabang olahraga resmi yang diperlombakan dalam ajang olimpiade. Sayang, segala keseruan yang marak ini ternyata merupakan puncak kecil dari gunung es yang menyembunyikan masalah besar di bawah air.

 

Pada tahun 2018, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan gaming disorder atau adiksi online game ke dalam daftar resmi klasifikasi penyakit (International Classification of Diseases). Menurut berbagai hasil penelitian dan laporan bukti medis, didapati bahwa bermain online game secara berlebihan dalam durasi waktu akan menjauhkan seseorang dari aktivitas harian yang penting, seperti makan, istirahat, olahraga, belajar, bekerja dan lain sebagainya. Akibatnya, pelakunya menjadi sangat tidak sehat dan sangat tidak produktif atau, dalam istilah masa kini, menjadi “beban keluarga”. Lebih parah lagi, gaming disorder tercatat berpotensi merusak kesehatan mental1 dan kesadaran sosial2 seseorang.

 

Reward yang diiming-imingkan rupanya menjadi salah satu penyebab terbesar seseorang menjadi sangat kecanduan online game. Reward itu sebenarnya kebanyakan hanyalah kemenangan semu, yang tidak berarti apa-apa di kehidupan nyata. Mungkin memang sebagian orang mampu bermain online game sampai pada tingkat kesuksesan yang menghasilkan pendapatan layak, tetapi kebanyakan orang hanya bermain online game demi mendapatkan koin virtual, peringkat tinggi di urutan peringkat pemain, benda-benda virtual yang hanya dapat dipakai di dalam game itu, dan hal-hal lain semacamnya. Semuanya semu.

 

Di dalam Alkitab, Raja Saul tercatat pernah mengalami hal yang serupa. Dia pernah menikmati kemenangan semu ketika “sukses” membuat Daud hidup dalam pelarian. Daud adalah ancaman terbesar terhadap singgasana-nya. Karena Daud kabur dan menghilang, Saul menganggap dia adalah pemenang dari perebutan takhta kerajaan Israel. Dia masih hidup di istana dan duduk di atas takhta. Rakyat pun masih memanggil dia raja dan para tentara masih mengikuti perintahnya. Namun, dia melupakan satu hal: status raja pada saat itu sebenarnya ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh kepemilikan atas/keberadaan di istana serta kepatuhan rakyat. Tuhan telah memilih Daud sebagai raja untuk menggantikan dia. Saul sudah kalah sebenarnya, karena Tuhan sudah menolak dia sebagai raja. Mewakili Tuhan, Samuel berkata kepada Saul, “Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel,” (1 Sam. 15:26).

 

Kemenangan semu mungkin terasa nikmat untuk sesaat, tetapi kenikmatan itu menipu kita. Kita mungkin merasa sanggup dan kuat dan hebat untuk meraih kemenangan itu, tetapi yang kita raih itu sebenarnya nol besar belaka. Sesungguhnya, kita tak mampu mencapai apa-apa tanpa menyerahkan diri kita di dalam kendali Tuhan, lewat hubungan pribadi kita dengan-Nya. Seberapa kuat pun kita berusaha mencapai hal-hal yang baik dan hebat dengan kendali dan kuasa kita sendiri, bahkan juga dalam hal-hal yang terkesan “rohani”, hanya kendali dan kuasa Tuhan yang mampu membawa kita ke dalam kemenangan sejati. Hal ini jelas Tuhan Yesus tegaskan suatu ketika saat Dia mengajar murid-murid-Nya, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kamu bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat. 7:22-23).

 

Seperti online game yang dapat menjauhkan kita dari tujuan asli kita di dunia nyata dengan memberikan kepuasan sementara, demikianlah usaha manusiawi kita pun dapat membuat kita terlena dan terseret menjauh dari kesatuan dengan Tuhan sebagai kemenangan sejati kita. Saul merasa menang karena Daud melarikan diri, bahkan merasa hebat karena menganggap Daud ketakutan terhadap dirinya. Kita kadang merasa menang karena berhasil lebih baik, lebih sukses, lebih makmur, lebih rohani, atau lebih dalam banyak hal lainnya. Orang lain berbuat dosa, terlilit utang, tertimpa musibah, atau mengakui kejahatannya; tetapi kita merasa lebih daripada mereka, apalagi dengan status “Kristen” atau bahkan “pelayan Tuhan” yang membanggakan. Padahal, semua itu bukanlah kemenangan sejati.

 

Kemenangan sejati adalah kemenangan terhadap maut yang sanggup membinasakan kita secara kekal. Tidak peduli seberapa banyak kita mengumpulkan harta, seberapa tinggi level yang kita capai di online game, dan seberapa banyak orang lain yang berjatuhan ke dalam dosa di sekitar kita sementara kita tetap “aman”, kalau pada titik akhir kelak kita binasa tanpa kesatuan dengan Tuhan, semuanya sia-sia. Dari mana kita dapat meraih kemenangan sejati itu? Yesus. Yesus adalah satu-satunya pribadi yang sudah mengalahkan maut dan menyediakan kemenangan itu bagi kita. Karya salib Yesus adalah kemenangan terbesar dalam sejarah umat manusia. Dengan membangun kedekatan yang erat dengan Dialah kita akan mengalami kemenangan sejati itu dan bersatu dengan Tuhan. “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,” (1 Kor. 15:57). Sekarang, apakah kita percaya dan mau menerima kemenangan sejati itu? Atau, jangan-jangan kita lebih suka mengejar kemenangan-kemenangan semu?

 

Sumber referensi:

  1. Wartberg, L. (2020). Internet Gaming Disorder in Early Adolescence: Associations with Parental and Adolescent Mental Health. European Psychiatry: Cambridge University Press
  2. Paulus, F (2018). Internet Gaming Disorder in Children and Adolescents: A Systematic Review. Developmental Medicine & Child Neurology.
2022-04-27T13:41:08+07:00