///Kemerdekaan yang benar

Kemerdekaan yang benar

Seberapakah kebebasan yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita di zaman yang serba penuh risiko dengan kejahatan, tindakan bullying, risiko penculikan, salah pergaulan, dan segudang risiko lainnya? Bukankah lebih baik jika kita tidak memberikan kebebasan kepada anak-anak kita? Di sisi lain, pendapat yang berbeda mengatakan “Anak harus diberikan kebebasan yang cukup untuk menjadi dirinya sendiri, agar ia mengenal dirinya dapat bertumbuh dengan baik menjadi manusia dewasa yang matang nantinya”. Ini dua pernyataan yang bertolak belakang. Memang, kebebasan dalam bergaul diperlukan untuk membangun kemampuan bersosialisasi anak. Anak juga semakin dewasa dalam memilih teman, ketika diberikan kebebasan yang cukup. Namun seberapakah yang disebut dengan cukup ini? Bagaimana kita dapat menjadi orangtua yang cakap di zaman ini dalam memberikan kebebasan? Mari kita amati beberapa bentuk kebebasan yang positif dan dapat membangun kedewasan diri anak berikut ini:

Kebebasan untuk menjelajah/bereksplorasi
Di setiap tahapan usia, anak suka mengeksplorasi hal yang berbeda. Bahkan sejak anak dapat merangkak, mereka sudah mulai bereksplorasi. Di usia remaja mereka juga suka menjelajah dan mencari tahu hal-hal baru. Segala pembelajaran yang didapat saat menjelajah dan bereksplorasi ini akan berguna untuk anak dalam seumur hidupnya. Jika di tahapan mereka sedang giat-giatnya mencari tahu hal-hal positif mereka tidak diberi kebebasan, daya kreativitas anak akan mati.

Kebebasan untuk berbicara
Anak memiliki hak untuk mengemukakan pendapat, ide dan saran. Tentunya kita harus memperhatikan bagaimana cara menyampaikannya, sambil memberikan kebebasan ini. Ketika anak diberi kebebasan untuk berbicara, mereka akan lebih berani mengemukakan pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pendapat orangtuanya atau orang lain. Sepanjang disampaikan dengan cara yang benar, kebebasan berbicara ini akan bermanfaat untuk membangun kemampuan komunikasi anak.

Kebebasan untuk menyukai atau tidak menyukai
Apa yang disukai anak seringkali berbeda dengan apa yang disukai oleh orangtua. Hal ini berkaitan dengan segala hal, misalnya hobi/aktivitas, cara berpakaian, selera memilih teman, dll. Orangtua tidak dapat memaksakan apa yang mereka sukai kepada anak mereka. Anak memiliki kebebasan untuk menyukai atau tidak menyukai hal-hal yang tidak prinsipil (bersifat “selera”), apalagi setelah mereka menginjak usia remaja.

Terlalu sedikit memberikan kebebasan akan berakibat anak mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan proses pembelajarannya dan mengalami kesulitan dalam proses mempersiapkan dirinya menuju kedewasaan. Namun, terlalu banyak memberikan kebebasan pun akan mengakibatkan bahaya untuk mereka. Bagaimana memberikan kebebasan dengan porsi yang tepat kepada anak kita?

Seperti disebutkan dalam Galatia 5:13, “…memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”, inilah yang seharusnya menjadi patokan bagi para orangtua. Kemerdekaan (baca: kebebasan) yang diberikan orangtua janganlah membawa anak kepada dosa. Sehingga orangtua harus memiliki hikmat dalam memberikan kebebasan dengan porsi yang tepat sesuai tanggung jawab yang dapat dipikul oleh anak. Berikut adalah beberapa pertimbangan dalam memberikan kebebasan kepada anak:

1. Tentukan batasan.
Sebelum memberikan kebebasan kepada anak, orangtua harus memberikan batasan berupa aturan dan konsekuensi atas pelanggarannya, agar anak mengerti sampai batas mana mereka dapat melakukan sesuatu tanpa melewati aturan yang ditetapkan orangtua. Dengan demikian, kebebasan yang diberikan tidak mematikan kreativitas tetapi tidak melampaui aturan yang ditetapkan orangtua.

2. Perbesar kebebasan jika anak sudah menunjukkan tanggung jawab.
Berikan kebebasan yang semakin besar jika anak sudah semakin bertanggung jawab. Jika anak belum dapat bertanggung jawab dengan kebebasan yang diberikan, orangtua janganlah memberikan kebebasan yang lebih besar lagi. Contoh: anak dapat diberikan izin untuk keluar rumah lagi bersama teman-teman jika sudah dapat bertanggung jawab terhadap waktu pulang yang disepakati pada kesempatan keluar sebelumnya.

3. Bangun ketaatan terhadap Kebenaran.
Batasan yang memiliki kekuatan tertinggi adalah Kebenaran Firman Tuhan. Anak harus mentaati Kebenaran sebagai batasan dalam melakukan semua hal. Tugas orangtua untuk mengajarkan Kebenaran sehingga mereka akan taat terhadap Kebenaran itu, dan bukan sekedar taat ketika orangtua ada bersama mereka. Ini akan membuat mereka tetap mengerjakan tanggung jawabnya dalam ketaatan penuh seumur hidup, dengan atau tanpa pengawasan orangtua.

Memberikan kebebasan dengan benar sesuai tanggung jawab anak akan menghasilkan kemerdekaan yang bertanggung jawab pula. Karenanya, dibutuhkan dosis yang tepat ketika memberikan kebebasan kepada anak-anak kita, sehingga hasilnya juga tepat.

2019-10-17T16:21:24+07:00