//Kenal karena Kasih, Mengerti karena Interaksi

Kenal karena Kasih, Mengerti karena Interaksi

Pernah atau sering membaca Alkitab tanpa mengerti isinya?
Merasa diwajibkan menyelesaikan target bacaan Alkitab setiap hari tetapi malas karena bacaan itu tidak relevan untuk kehidupanmu sehari-hari?
Frustrasi karena segala panduan dan penjelasan tentang membaca Alkitab terkesan semakin rumit dan sulit dipahami?
————————
Ribuan tahun lalu, di tanah jauh di dunia yang berbeda dari dunia kita sekarang ini, hiduplah seorang calon pahlawan dan legenda hebat. Melalui proses kehidupan, dia tertempa menjadi pemenang yang gemilang dalam berbagai pertarungan penting yang menentukan nasib bangsanya hingga akhirnya menjadi raja terbesar kebanggaan bangsanya itu. Bahkan setelah hidupnya berakhir, Tuhan sendiri menyatakan diri-Nya berkenan atas hati si pahlawan ini dan Dia menjadikannya contoh orang yang sukses melakukan apa yang dikehendaki-Nya pada masa hidupnya.
Daud namanya.
Daud cilik bukanlah anak sekolah, yang dibekali dengan beragam ilmu dan pengetahuan pilihan dari guru-guru ahli yang mungkin didatangkan dari negeri-negeri asing. Daud pun tidak bertumbuh sebagai anak pingitan, yang dididik langsung oleh ayahnya dan terlatih melalui proses yang keras dan mendetail dalam setiap area keterampilan hidup.
Namun, sekali lagi, Tuhan berkenan atas hati Daud dan Tuhan menyatakan Daud sukses melakukan kehendak-Nya pada masa hidupnya. Ini pernyataan dari Tuhan sendiri, Allah semesta alam! Bagaimana mungkin hal ini terjadi?
Daud sejak kecil rupanya tulus mengasihi Allah dan biasa bergaul dekat dengan Allah melewati segala hal dalam hidupnya setiap hari. Dia sejak kecil sendirian menjaga sekelompok hewan ternak milik ayahnya di padang, tanpa siapa pun bersamanya, tanpa sarana hiburan apa pun di tangannya. Dia pun berinteraksi tanpa henti dengan Allah; sehingga semakin mengenal Allah, mengerti kehendak hati-Nya, dan memahami perintah-perintah-Nya. Dia bersahabat akrab dengan Allah sendiri!

Ini bukan berarti Daud kemudian berbangga dengan kedekatannya dengan Allah itu. Daud memandang hubungannya dengan Allah bukan sebagai bahan pamer seperti orang “biasa” yang sekilas pernah berkenalan atau berfoto dengan seorang tokoh terkenal. Daud pun tidak sok mengajari saudara-saudaranya tentang ini-itu “atas nama Allah”. Tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa Daud sadar dirinya jauh sekali dari mengenal dan mengerti Allah atau memahami pikiran dan perintah-Nya (“…aku dungu seperti hewan…” – Mzm. 73:22; “Betapa sulitnya pikiranmu, ya Allah…” – Mzm. 139:17-18), tetapi Daud ingin/rindu setengah mati untuk senantiasa makin mengenal dan mengerti Sang Sahabat yang dicintainya dan yang begitu berharga baginya itu (“Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi…” – Mzm. 73:25-26). Bahkan, syair terpanjangnya (Mazmur 119) penuh dengan cintanya yang meluap-luap terhadap Allah dan gairahnya yang “ngotot” untuk mengerti Firman-Nya!

Daud bisa saja berbuat salah atau berdosa, tetapi ketulusan hatinya mencintai Allah dan gairahnya untuk terus semakin dekat dengan Allah membuat dirinya selalu mudah mengerti ajaran serta koreksi Allah lalu kembali kepada kebenaran Allah. Dia bahkan menjadi teladan bagi seluruh rakyatnya dalam hal iman, hikmat, dan ketaatan kepada Allah. “Kesimpulan akhir” ini tercatat dalam Alkitab dan berlaku sampai kekekalan; dia dibanggakan Allah sebagai “berkenan bagi-Nya dan melakukan kehendak-Nya”.

Mari kembali ke diri kita sendiri sekarang. Apa pun perasaan atau alasan kita masing-masing tentang membaca Alkitab dan mempelajari Firman, setidaknya kita bisa memulai dari hati yang tulus mengasihi Dia dan kita bisa mengikuti gairah yang Tuhan kerjakan di dalam hati kita untuk belajar mengenal Dia serta mengerti Firman-Nya. Inilah yang akan menuntun kita semakin mengenal Allah dan semakin mengerti Firman-Nya, karena Allah kita Sumber Kasih dan Hikmat.

Mari mulai sekarang. Kita bisa seperti Daud. Kita bisa pula mengalami seperti doa Paulus untuk jemaat di Filipi (Fil. 1:9-11):
“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.”

2019-09-27T12:20:40+00:00