//Kerajaan Allah atau bukan?

Kerajaan Allah atau bukan?

Mencermati salah satu penelitian yang pernah didokumentasikan oleh BBC Earth dan dikisahkan kembali di majalah Intisari edisi terbaru, hari ini saya jadi termenung dan teringat pada diri kita. Dalam film dokumentasi itu, ditunjukkan bahwa tukik (bayi penyu yang baru menetas dari telur induknya) kini semakin terancam keberadaannya karena modernisasi yang terjadi di berbagai belahan dunia. Pantai-pantai, habitat penyu saat bertelur, dipenuhi dengan bangunan-bangunan gemerlap untuk menunjang industri pariwisata setempat. Hotel, restoran, kafe, dan tempat-tempat hiburan berlomba-lomba menampilkan wajah terbaiknya dengan sorotan lampu terang berwarna-warni, demi menarik sebanyak mungkin pengunjung. Lampu-lampu ini menghasilkan pemanasan suhu, dan di sinilah masalah terjadi.

Tukik secara alamiah dituntun oleh sensor di dalam tubuhnya untuk mencari suhu panas dalam perjalanannya menemukan laut (karena suhu air laut memanas di malam hari). Setelah menetas, tukik (dengan segala inderanya masih belum sempurna) akan bergerak menuju laut dengan mengikuti arah suhu panas itu. Di lautlah nanti tukik akan hidup dan bertumbuh membesar menjadi penyu dewasa, yang suatu saat kelak berkembang biak dan menghasilkan tukik-tukik generasi selanjutnya. Suhu panas akibat lampu-lampu dari berbagai bangunan di pantai tadi membuat tukik mendekati bangunan sambil berpikir bahwa itulah arah ke laut. Akibatnya fatal, tukik-tukik itu mati terlindas kendaraan yang melintas saat menyeberang jalan ke arah bangunan, mati kelelahan berjalan berputar-putar karena tak kunjung menemukan laut, atau mati dimangsa binatang darat. Tukik-tukik itu binasa karena tak mampu membedakan suhu panas asli dari air laut pada malam hari dengan suhu panas buatan dari lampu-lampu bangunan di arah sebaliknya.

Bukankah demikian pula kehidupan banyak orang percaya? Kita menjadi orang Kristen dan hidup mencari Kerajaan Allah. Kita berpikir, karena segala pengajaran dan masukan yang pernah kita dengar, bahwa Kerajaan Allah dipenuhi dengan segala yang baik, yang ajaib, yang hebat, yang serbagemerlap. Alhasil, kita mencari “gejala-gejala luar” Kerajaan Allah itu demi menemukan Kerajaannya. Pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, kesehatan yang baik-baik saja atau penyakit yang sembuh, kehidupan yang nyaman tanpa kesulitan atau penderitaan, hubungan yang mudah tanpa konflik berarti, kebenaran yang instan dan mudah dipahami tanpa perlu susah-payah dipelajari, dipercaya sebagai ciri-ciri kehidupan dalam Kerajaan Allah. Demikian pula sebaliknya, orang yang penghasilannya biasa-biasa saja, mengalami penyakit atau keterbatasan fisik kronis, memiliki pergumulan hidup yang belum selesai atau guncangan dalam hubungan, dan prinsip-prinsip kebenaran yang perlu digali serta dipelajari secara mendalam menjadi sesuatu yang tidak kita sukai dan kita pandang sebagai “bukan” Kerajaan Allah. Kita lupa, bahwa Firman Tuhan memerintahkan kita untuk mencari Kerajaan Allah dan segala kebenarannya, bukan mencari gejala-gejala luarnya saja.

Yesus memberikan Kerajaan Allah kepada kita setelah memanggul salib dan mati di Golgota. Jalan menuju Kerajaan Allah adalah Jalan Salib. Ini memang bukan berarti bahwa kita harus berusaha dengan kekuatan diri sendiri untuk mencapai Kerajaan Allah, tetapi ini berarti kita perlu benar-benar memperhatikan dan melaksanakan apa yang Yesus perintahkan: memikul salib dan mengikut Dia. Tidak semua yang kelihatan indah, melimpah, nyaman, baik, dan mudah itu adalah Kerajaan Allah. Semua itu baik dan boleh-boleh jasa, tetapi bukanlah bukti Kerajaan Allah. Justru, hal-hal yang jelas penuh kesulitan, pergumulan, penderitaan, itulah yang akan membawa kita mengalami Kerajaan Allah yang sejati, jika dijalani bersama dengan Yesus senantiasa. Memikul salib dan mengikut Yesus, belajar dari Dia setiap saat, hidup dipimpin oleh RohNya, menolong orang lain untuk berjumpa dengan Dia juga, itulah bukti Kerajaan Allah.

Kita bukan tukik yang mudah tertipu dan salah menilai, melainkan orang-orang yang sudah memiliki benih ilahi dan Roh Allah secara pribadi. Di dalam diri kita sudah ada kemampuan ilahi untuk membedakan mana yang palsu dan mana yang sejati. Pastikan bahwa segala sesuatunya itu sesuai dengan kebenaran dan mendatangkan damai sejahtera serta sukacita, lalu jalani setiap hal itu sambil memikul salib kita masing-masing bersama dengan Yesus, karena itulah Kerajaan Allah yang sejati.

2019-10-17T11:58:34+00:00