///Keras Kepalaku Merugikan Diriku dan Keluargaku

Keras Kepalaku Merugikan Diriku dan Keluargaku

Empat tanda orang yang keras kepala adalah:

  1. Menolak nasihat
  2. Semaunya sendiri
  3. Pura-pura berubah
  4. Pembenaran diri

 

Pada suatu sore, saat saya memperkenalkan Sales Manager yang baru, pada partner kerja saya, yang juga adalah istri saya. Seketika, partner kerja saya berkomentar, bahwa saya harus hati-hati dengan orang ini, orang yang nampaknya baik tetapi sepertinya manipulatif. Tentu saja saya tidak percaya, karena yang bersangkutan baru saja mau masuk bekerja, mengapa sudah dicurigai. Bahkan saya saat itu berargumen pada partner saya, untuk berikan pada saya tiga alasan yang masuk akal atau logis, mengapa dia manipulatif. Tentu saja partner saya tidak bisa menjawab, karena yang sedang terjadi pada saat itu, partner saya sebenarnya menganalisa dengan instuisinya, yang memang saya tahu, dalam hal ini partner saya termasuk sangat tajam. Dan saya tahu benar, karena partner saya adalah istri saya. Tetapi karena ada gengsi sebagai seorang suami, saya tidak mau mengakuinya secara lisan, padahal dalam hati, sebenarnya saya ada percaya juga. Hanya karena keras kepala dan kesombongan sebagai suami, yang bisa dinasihati oleh orang lain, tetapi tidak mau atau sulit apabila dinasehati oleh istri.

 

Setahun kemudian berlalu begitu cepat. Tiba tiba saya menerima tagihan kartu kredit yang saya tidak pernah ajukan (apply), dalam jumlah puluhan juta. Dan ada pula cek kosong, yang dia curi dengan meggunakan tanda tangan saya yang dipalsukan, itu bernilai ratusan juta rupiah. Serta sebuah mobil kantor yang dibawanya pergi, bahkan banyak tagihan customer yang sudah lunas terbayar, dibawa pergi olehnya. Pada titik tersebut, saya syok, dan segera lapor pihak yang berwajib.

 

Saya merenungkan kembali, nasehat partner saya setahun yang lalu…
Ternyata benar, intuisi partner saya itu. Walaupun menyesal, tetapi sudah terjadi. Kerugian yang besar, gara gara hanya saya stubborn (keras kepala). Namun walaupun demikian sudah terjadi, saya ternyata masih sombong dan tidak mau mengakui stubborn saya. Sehingga urusannya menjadi semakin lama dan panjang.

Pada suatu titik, akhir nya saya menyerah dan bertobat. Saya datang pada Tuhan, dan datang pada partner saya, mengakui stubborn saya, kesombongan saya. Saya mohon ampun…

Hal yang luar biasa terjadi, dan saya sempat berfikir ini adalah suatu yang aneh, karena setelah saya mengakui kesalahan saya, Tuhan buka jalan, urusan menjadi lancar, dan sebagian besar dana yang dibawa pergi bisa terselesaikan, walaupun tetap ada kerugian.

Saudaraku, memang kalau kita dengan rendah hati mau mengakui kesalahan kita, maka doa permohonan kita dijawab oleh Tuhan (Yakobus 5:16).

 

Semakin tinggi posisi kita, semakin naik gengsi kita. Semakin sombong kita, maka semakin stubborn kita. Waspadailah keras kepala kita, terutama para pemimpin, para pria, para suami…Kita malu dan tidak mau menerima masukkan dari istri atau karyawan kita.

Kita lebih suka dinasehati sesama teman, bahkan orang lain. Padahal sebenarnya, justru orang terdekat kita, sahabat kita, pasangan kita, keluarga kita, adalah orang-orang yang sudah Tuhan tempatkan, untuk menolong dan menjaga kita juga, dari bahaya dan kegagalan. Namun seringkali kita mengabaikannya begitu saja. Mari kita berubah…

Belajar, berjalan, berubah menjadi seperti seperti Kristus (nasihat Bp. Eddy Leo, Penatua Jemaat)

Amsal 29:21 (TB)  Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala.
Proverbs 29:21 (NET)  If someone pampers his servant from youth, he will be a weakling in the end.

2024-04-26T11:47:38+07:00