///Kerjakan bagian masing-masing, semua untuk Tuhan

Kerjakan bagian masing-masing, semua untuk Tuhan

Saya teringat sekitar empat atau lima bulan lalu, betapa ruwetnya saya dan beberapa orang yang disebut sebagai pengurus gereja sibuk mempersiapkan acara Natal. Mohon maklumi keruwetan kami, karena ini adalah acara Natal untuk jemaat Umum, yang notabene adalah acara besar di gereja kami yang akan dihadiri oleh setiap jemaat Tuhan dari seluruh kelompok usia: para senior dan orang tua yang telah berumur, pasangan suami istri, para pengusaha tua dan muda, first jobber, remaja-remaja mahasiswa dan pelajar, sampai anak-anak kecil. Acara Natal tahunan ini harus dikemas dengan sangat menarik, spesial, dan tentu saja membawa pesan damai lahirnya Yesus. Juga karena ini Natal Umum, yang sibuk memikirkan jalannya acara adalah tim berisi pekerja dari berbagai kalangan. Pemimpin gereja yang kebanyakan dari golongan keluarga dan pengusaha menyusun tema, konsep, target, dan hal-hal strategis lainnya. Yang pasti, keinginannya banyak.

Kaum senior dipercaya mengurusi konsumsi, dan ternyata mereka luar biasa pusing dengan segala hal kecil yang dianggap penting. Konsumsi yang dibagikan harus sehat, jangan terlalu manis, jangan berlebihan, biayanya harus hemat, dan lain-lain. Anak-anak kecil dipersiapkan untuk terlibat sebagai pengisi acara. Siapa yang tak suka melihat keluguan dan tingkah polos mereka menari di panggung menggunakan kostum. Selanjutnya, para mahasiswa dan pelajar menjadi seksi sibuk, mengerjakan apa pun yang belum dikerjakan oleh kelompok lainnya. Fungsi mereka ini tentu saja tak jauh-jauh dari perlengkapan, dekorasi, sesi foto, membuat undangan, sampai menjadi usher di hari-H.

Selain semua itu, mereka yang akan mengisi acara secara langsung di panggung pun sibuk mempersiapkan yang terbaik. Jadwal latihan mereka begitu padat, apalagi mendekati bulan Desember, hampir setiap hari ruangan gereja telah di-booking untuk berlatih. Tak hanya latihan pengisi acara, semakin mendekati hari H, semakin sering pulalah seluruh tim pengurus rapat Natal. Saya tak habis pikir, kok ada saja ya bahan yang akan dibahas. Lagipula, semakin dibicarakan, rasanya kok semakin banyak muncul hal baru yang dikhawatirkan dan dianggap penting. Tak jarang pula, di tengah sesi rapat terjadi adu pendapat, terutama pertentangan antara kalangan keluarga dengan para first jobber. Pernah juga suatu kali terjadi kesalahpahaman di antara kaum senior, dan rapat pun mengambil keputusan bahwa para mahasiswa wajib membantu tim senior melaksanakan tanggung jawab mereka. Lho…

Di tengah-tengah waktu yang semakin mendekati 25 Desember, saya mendengar selentingan kabar yang kurang mengenakkan. Konon, worship leader (WL) “unggulan” gereja kami batal melayani karena merasa tak sehati dengan tim, entah betul atau tidak kabar tersebut. Namun, ada juga yang berkata bahwa dia terpaksa tak bisa ikut melayani karena ada urusan mendesak. Pembatalan tersebut cukup membuat kami semua para pengurus kewalahan. Apalagi, ternyata tak ada yang bisa menggantikan menjadi WL dari kalangan Umum. Alhasil, akhirnya solusinya adalah meminta salah satu WL yang biasa melayani jemaat Youth. “Wow, asyik juga, nih,”pikir saya.

Waktu pun berlalu, acara Natal di gereja terlaksana dan lewat. Kami masing-masing pun melepas tahun 2017 dan memasuki tahun 2018. Di minggu pertama bulan Januari, kami langsung mengagendakan untuk kembali rapat untuk mengevaluasi acara Natal. Pemipin gereja kamu secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh tim pengurus dan pekerja karena sudah berjerih lelah melayani Tuhan dalam acara Natal. Selanjutnya, mulailah kami membedah dan membahas pelaksanaan acara Natal, termasuk soal WL dari jemaat Youth, yang rupanya terkesan “terlalu” ekspresif dan disebut “kurang mewakili kalangan Umum”. Hal-hal “sepele” ternyata dirasa kurang cocok, seperti gaya berpakaiannya, cara berdirinya, dan irama bernyanyinya. Jujur saja, saat itu timbul rasa dongkol di hati saya, yang mungkin karena saya sendiri juga dari kalangan Youth sehingga merasa segolongan dengan sang WL tersebut. “Ah, sudah bagus dibantu. Kok bawel sekali sih, ini ‘kan memang gaya kami,” protes di benak saya pun muncul. Namun akhirnya, kami tiba di ujung rapat evaluasi itu, dan kami semua didorong dan disemangati agar tetap setia untuk melayani Tuhan terus, termasuk di acara berikutnya, yaitu Paskah. Saya pun tanpa sadar berucap pelan, “Oh, Tuhan….”


(dididipp…. dididipp…. dididipp…) Alarm ponsel berbunyi. Saya pun terbangun dan mematikan alarm, “Ya ampun, ternyata cuma mimpi…” Segera, saya mengambil Alkitab dan membuka kitab 1 Timotius. Saya mulai bersaat teduh pagi itu.

Surat Paulus kepada Timotius salah satunya berbicara bahwa setiap bagian dalam jemaat memiliki peran dan tanggung jawabnya sendiri. Masing-masing adalah anggota dari satu tubuh, yaitu Tubuh Kristus. Pria, wanita, suami, istri, remaja dan pemuda-pemudi, pemimpin, pekerja, maupun jemaat, semuanya sama-sama bertanggung jawab memelihara iman pada Tuhan dan mempraktikkan gaya hidup saling di antara mereka.

“…kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” (1 Tim. 6:11-12)

Deg. Tegas sekali Tuhan berbicara, dan saya pun tersadar. Apa pun yang dilakukan, dikerjakan, diinginkan, dan direncanakan, semuanya fokus dan pusatnya adalah Tuhan. Setiap orang dalam jemaat memiliki kapasitas dan kasih karunia masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan Bapa. Kita tidak bertujuan untuk saling membandingkan atau saling melawan, tetapi dalam satu Tubuh Kristus terus berjuang dalam pertandingan iman. Yang kita kejar bukanlah pembuktian diri atau kepuasan daging, tetapi keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan.

Saya pun memulai hari dengan hati yang dipenuhi antusiasme untuk melakukan pekerjaan-Nya bersama-sama anggota Tubuh Kristus lainnya. Saya bagian dari Tubuh Kristus itu. Saya kini teringat kembali, setiap pelayanan dan perayaan gereja bukanlah sekadar “acara” yang mengutamakan penampilan terbaik untuk memuaskan keinginan manusia. Acara hanyalah wadah untuk saya melayani Tuhan. Semua itu fokusnya adalah Tuhan. Maka, saya pun bersemangat melayani Tuhan, apa pun bagian yang Dia percayakan kepada saya dan apa pun bentuk acara yang menjadi wadahnya.

2019-10-11T12:29:54+07:00