//Ketaatan di balik mukjizat

Ketaatan di balik mukjizat

“Mujizat” adalah kata yang selama ini membuat saya agak skeptis, karena sepertinya mujizat haruslah berwujud hal yang spektakuler sekali, dan mungkin hanya merupakan “bakat” orang tertentu. Atau sepertinya, mujizat hanya untuk mempromosikan supaya orang tertarik dengan agama Kristen. Menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati… rasanya jauh sekali dari hidup saya…
“Si A sembuh setelah didoakan oleh pendeta itu, lho…”
“Pendeta Anu memiliki karunia khusus untuk membangkitkan orang mati.”

Hmm… Tidak ada yang salah dengan orang yang memiliki karunia ini dan yang melakukan mujizat yang “hebat” seperti ini, karena memang hanya pemikiran saya saja yang dangkal untuk melihat makna mujizat sekadar dari permukaannya saja.

Saat saya kembali membaca cerita-cerita di Alkitab tentang mujizat, dari mulai kisah Abraham yang dikaruniai Ishak; Musa yang menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir; Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang selamat dari dapur perapian; Daniel yang aman saat berada di dalam gua singa; Yesus yang membangkitkan Lazarus dan menyembuhkan banyak orang sakit; dan kisah-kisah lainnya, pengertian saya tentang pun bertumbuh, khususnya tentang peran ketaatan yanng mengawali mujizat.

Setiap kali sebelum hal ajaib-ajaib itu terjadi, ada ketaatan yang dilakukan. Para tokoh di kisah-kisah menakjubkan itu melakukan hal yang Tuhan minta terlebih dahulu karena memiliki iman percaya untuk melakukan itu.  Abraham taat untuk meninggalkan Ur Kasdim; Musa taat menerima tanggung jawab memimpin bangsa Israel hingga masing-masing perkara ajaib terjadi bagi bangsa Israel dari mulai 10 tulah, terbelahnya Laut Merah, turunnya manna dan banyak hal lainnya; Sadrakh, Mesakh, Abednego, serta Daniel tetap berdiri teguh untuk tidak menyembah allah lain selain Allah yang benar; Yesus taat dalam kesatuanNya dengan seluruh kehendak Bapa bagi tanggung jawabNya di dunia…

Melalui pengertian ini, saya baru menyadari makna mujizat yang sesungguhnya. Ya, benar, mujizat adalah hal yang luar biasa karena hanya bisa terjadi karena kuasa Allah, tetapi bukan sekadar itu,  mujizat pada dasarnya adalah proses tuntunan Tuhan yang menyatu dengan ketaatan manusia karena percaya untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Jadi, mujizat bukanlah karena pengalaman, kepintaran, atau karunia orang-orang tertentu, namun karena perpaduan kehendak dan kuasa Tuhan serta ketaatan kita oleh iman.

Dengan pengertian ini, saya pun bertobat dan tidak lagi menganggap remeh mujizat, karena ternyata ketaatan saya dalam segala hal, sekecil apa pun, bisa menjadi ‘mujizat’ yang disaksikan dan memberkati orang lain. Mujizat seperti apa dan bagaimana, saya tidak tahu karena ini adalah murni kehendak dan kuasa Tuhan. Namun saya tahu pasti, bagian saya adalah beriman dan taat, hingga Tuhan menjadi nyata melalui mujizat itu bagi banyak orang di sekitar saya. Sekarang, saya siap untuk belajar melakukan bagian saya ini dan membuat mujizat bersama dengan Tuhan!

2019-10-17T16:44:30+07:00