//KETAATAN (OBEDIENCE)

KETAATAN (OBEDIENCE)

Yesus adalah Pribadi yang memberi contoh kepada kita bagaimana Ia menunjukkan ketaatan pada Bapa dalam hidupNya selama 33 ½ tahun di bumi. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat melalui apa yang telah dideritaNya (Ibr. 5:8). Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama (Fil. 2:9). Kesimpulannya, Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepadaNya dalam situasi sulit sekalipun. Pertanyaannya, maukah anda menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan?

 

Ketika anda mendengar kata “taat”, apa yang muncul di pikiran anda? Gambaran “positif” atau “negatif”? Apakah anda menyukai “ketaatan”? Ada orang yang tidak suka “taat” karena merasa kebebasannya dibatasi.  Anak-anak umumnya tidak suka mentaati perintah orang tuanya. Apa reaksi mereka ketika orang tua meminta mereka belajar dulu baru boleh main? Atau selama seminggu ini tidak boleh menonton televisi karena sedang menghadapi ujian semester? Apakah mereka taat kepada perintah orang tua? Anak-anak suka taat pada sesuatu yang mereka sukai. Mereka tidak suka taat pada perintah yang mereka tidak sukai. Inilah kecenderungan manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Cenderung mengikuti keinginan sendiri, cenderung memuaskan daging.

 

Ada orang yang tahu berzinah itu dosa, tetapi ia tetap saja melakukannya dengan berbagai alasan. Pasangannya tidak menghargai dia. Pasangannya tidak mengasihi dia. Penyebab yang sesungguhnya adalah ia tidak bersedia meninggalkan dosa yang memberi dirinya kenikmatan. Tahu salah tetapi tidak mau taat kepada perintah Tuhan: “Jangan berzinah”.

Kita tahu berbohong itu tidak benar, tetapi berapa sering kita berbohoing kalau ditanya:, “Mengapa terlambat?” Alasannya macet. Padahal dari dulu Jakarta memang macet. Kita berbohong ketika ditangkap polisi lalu lintas, berbohong demi mendapat order, berbohong ketika ditanya istri. Mengapa kita berbohong padahal tahu perintah Tuhan: ”Jangan berdusta”? Banyak orang berkompromi terhadap dosa demi sebuah keuntungan pribadi. Dari pembayaran pajak sampai tagihan pribadi dimasukkan ke tagihan kantor. Demikian pula dengan janji. Dari janji kepada anak yang sampai janji mengembalikan hutang atau barang pinjaman juga tidak ditepati. Dari klaim asuransi yang tidak jujur sampai mecuri waktu kantor untuk berbisnis. Ini semua menunjukkan bahwa integritas orang Kristen tidak lebih baik daripada integritas orang yang belum kenal Tuhan. Berbagai alasan untuk berkompromi senantiasa muncul dalam bentuk label-label “masalah” atau “kita memang manusia”, “maklum, banyak kelemahan” atau “daging lemah”. Akibatnya, kita bukan menjadi Kristen pemenang. Kita kalah terhadap kebiasaan dosa lama kita, kalah terhadap pornografi, kalah terhadap daging. Padahal, kita percaya Yesus menang terhadap dosa dan kuasa kebangkitanNya ada dalam diri kita. Masalah yang sebenarnya hanya satu: kita tidak mau taat sepenuhnya kepada Tuhan.

Mari kita lihat lebih jauh, apa dan bagaimana sebenarnya ketaatan itu.

 


 

TAAT ADALAH KARENA KASIH

Yesus berkata: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15).

Jika kita tidak taat, jangan-jangan sebenarnya kita tidak mengasihi Tuhan. Tiadk taat artinya kita lebih mengasihi diri kita, mengasihi daging kita, mengasihi kenikmatan dosa, sekalipun kita menyanyi ”aku cinta Yesus” berulang-ulang di ibadah. Kasih diekspresikan dengan menghormati Tuhan. Menghormati Tuhan diekspresikan dengan menuruti perintah-perintahNya. Taat tidak bisa dipaksa. Ketaatan yang lahir karena terpaksa atau takut, hanya akan bertahan sementara. Taat pada Tuhan perlu dibangun di atas hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita tidak akan kesulitan untuk melakukan perintah-perintahNya. Ketika anak saya mengasihi saya, ia rela untuk tidak menuruti keinginannya, tetapi menuruti keinginan ayahnya. Ia percaya apa yang dikatakan oleh ayahnya, itu yang terbaik bagi hidupnya.

TAAT ADALAH KARENA MENGERTI PRINSIP KETAATAN DAN OTORITAS
Taat yang benar harus lahir dari pemahaman akan firman kebenaran, terutama akan prinsip hubungan antara “ketaatan dan otoritas”. Taat dibangun atas dasar pemahaman tentang  pentingnya ketaatan. Anak saya belajar taat karena ia sejak kecil menghafal firman Tuhan:  “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Ef. 6:1-3). Firman ini menjadi rhema baginya, bahwa jalan untuk bahagia adalah dengan mentaati perkataan orang tua. Allah memberkati orang yang taat kepada otoritas. Anda mau diberkati? Taatilah dan hormatilah otoritasmu. Berkat Allah melimpah terhadap orang yang menghormati otoritasnya.

TAAT ADALAH KARENA IMAN
“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibr. 11:8). Abraham mempercayai Allah ketika ia dipanggil untuk pergi ke tempat yang ia tidak tahu. Dia tidak berpasangka buruk bahwa Tuhan mau mencelakakan hidupnya. Ia berpikiran postif sekalipun harus keluar dari zona kenyamanannya: kampungnya, keluarganya, budayanya, kenyamanannya di daerah Ur Kasdim.  Abraham taat karena iman.

Tuhan adalah Bapa yang baik, yang ingin selalu memberkati kita. Jangan mencurigai Allah. Iman artinya mempercayai bahwa Allah mau dan ingin memberi yang terbaik untuk kita. Iman lahir karena kita mengenal Allah. Makin kita mengenal Allah, makin kita akan mentaati Tuhan. Taat yang lahir dari iman, akan menolong kita untuk taat dengan hati yang bersukacita. Ada orang taat, tetapi sambil mengeluh atau bersungut-sungut. Taat tanpa sukacita hanyalah mendatangkan kuk atau beban terhadap jiwa kita. Apakah anda taat kepada orang tua dengan bersungut-sungut? Apakah anda taat kepada suami dengan mengeluh? Ketika kita taat kepada pemimpin kita, kita sedang taat kepada Tuhan, karena pemimpin adalah wakil Allah (Rm. 13:1). Allah berkenan kepada ketaatan. Allah menaruh nilai tinggi kepada ketaatan, sekaligus ketidaktaatan adalah sebuah pelanggaran yang serius bagi Allah.

Saul Ditolak oleh Allah karena Tidak Taat
Ayat yang terkenal dalam Bahasa Inggris “To obey is better than sacrifice”. Taat lebih baik daripada korban. Kutipan ini diambil dari 1 Samuel 15:22 “Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.“

Firman ini diucapkan oleh Nabi Samuel kepada Raja Saul waktu itu karena Raja Saul tidak taat pada perintah Tuhan untuk membunuh semua orang Amalek, termasuk binatang-binatang peliharaan mereka (1 Sam.). Tetapi Saul tidak taat, sehingga ia ditolak oleh Tuhan untuk tetap menjadi raja Israel. Mengapa Saul tidak taat? Saul memilih untuk menyenangkan hati rakyatnya dengan mengizinkan mereka mengambil kambing domba Amalek. Ia juga ingin menyenangkan dirinya sendiri dengan membiarkan raja Amalek, Agag, tetap hidup. Ada sebuah kebanggaan yang bisa dipamerkan di hadapan umum. Kedagingan dan kesombongan melahirkan ketidaktaatan, dan ketidaktaatan membuat Allah meninggalkan Saul.

TAAT ARTINYA MEMBAYAR HARGA
Makin mengerti arti ketaatan, makin kita berani bayar sebuah harga ketaatan. Musa bersedia membayar harga sebuah ketaatan dengan meninggalkan kenikmatan istana Firaun. Ia bersedia ambil penderitaan demi umat Tuhan, membebaskan umat Tuhan dari Mesir dan membawa mereka ke Tanah Perjanjian (Ibr. 11:24-26).

Daud pernah melanggar firman Tuhan. Ia mengikuti kedagingannya, menginginkan Batsyeba yang cantik, menyalahgunakan kekuasaannya dengan membunuh Uria, suami Batsyeba. Ia kira, tidak ada yang tahu dosanya. Tetapi Tuhan tahu. Dan Allah menghajar dia dengan hukuman: pedang dan perzinahan tidak akan menjauh dari keluarganya (2 Sam. 10:10-12). Saat ditegur oleh Nabi Natan, ia tahu bahwa ia sudah salah. Bisa saja ia membunuh nabi Natan untuk menutupi dosanya, tetapi ia memilih untuk memutuskan lingkaran kebohongan dan perzinahannya. Memang ia harus membayar harga dalam bentuk akibat dosa yang tetap ditanggungnya, tetapi kemudian ia dikenal sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan, karena ia mau bertobat sungguh-sungguh di hadapan Tuhan (Kis. 13:22).

Apakah ada lingkaran kebohongan atau keterikatan dosa dalam hidup kita? Ketidaktaatan membuat kita jauh dari Tuhan, membuat hati kita tawar pada Tuhan, membuat kita makin terpuruk. Yang kena bukan hanya diri kita, tetapi bisa juga keluarga kita, anak-anak kita.  Karena Abraham berbohong, pola kebohongan turun kepada Ishak dan Yakub. Ishak berbohong ketika ia ditanya. Yakub juga berbohong. Pilihlah taat lebih daripada kenikmatan dosa. Pilihlah taat pada panggilan Tuhan daripada memiliki banyak uang dan harta. Pilihlah taat pada suara Roh Kudus sekalipun dipandang rendah oleh manusia. Jangan seperti Saul. Demi pandangan manusia, demi menyenangkan rakyatnya dan dirinya sendiri, ia memilih untuk mengambil kambing domba jarahan dan menyisakan Raja Agag tetap hidup. Berkenan di hati Tuhan jauh lebih penting daripada berkenan di hati manusia. Yesus berkata dalam Yoh. 15:10 “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. ” Taat artinya membayar harga untuk menuruti perintahNya.

Allah sangat menghargai “ketaatan”. Tuhan tidak mau hidup kita tidak taat, karena ketidaktaatan akan melahirkan pemberontakan dan orang tersebut akan diserang oleh kuasa gelap. Anak-anak kita mengalami sakit penyakit. Usaha kita gagal atau ‘dimakan’ orang. Pernikahan kita di ambang bahaya, dan sebagainya. Kompromi terhadap dosa membuat kita tidak akan peka lagi kepada suara Tuhan. Salah dalam mengambil keputusan dalam bisnis, keluarga maupun masa depan hidup kita sendiri.  Tuhan menghargai ketaatan anda. Dan Ia mau bukan hanya memberkati anda, tetapi menyertai anda. Menolong anda di kala sulit, memberi hikmat di kala buntu, menguatkan anda di kala lemah, memberi kemenangan di kala menghadapi peperangan. Untuk mengalami semua itu, pilihlah taat kepada suara Tuhan dan FirmanNya.

Penatua Abbalove Ministries, Sumarno Kosasih

 

2019-10-05T04:42:39+00:00