///Ketahanan Rohani yang luar biasa

Ketahanan Rohani yang luar biasa

Dalam Kejadian 37, Yusuf berusia 17 tahun ketika bermimpi dua kali. Ia bermimpi bahwa ia dan sebelas saudaranya ada di ladang mengikat berkas gandum, tapi berkas Yusuf berdiri dan berkas saudaranya sujud menyembah pada berkasnya. Ia bermimpi tentang matahari, bulan dan sebelas bintang sujud padanya. Karena itu, Yakub menegur Yusuf, “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kej. 37:10). Mimpi itu menciptakan keretakan dalam keluarga. Setelah mimpi Yusuf diceritakan, musibah mulai terjadi. Kemauan berbuat baik berubah menjadi musibah. Suatu kali semua saudara Yusuf menggembalakan kambing domba di Sikhem dan Yusuf diutus membawa makanan. Ketika melihat Yusuf, mereka berkata, “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu.” (Kej. 37:18-20). Impian lenyap dalam sekejap. Saudara-saudara Yusuf mulai menanggalkan jubah maha indahnya, lalu melemparkan dia ke dalam sumur kosong dan tak berair. Bayangkan, semua barang yang Anda bawa diambil, tapi Anda dibuang dalam sumur yang kering. Kita tidak tahu apa yang dirasakan Yusuf di dalam sumur. Namun pengakuan mereka di hadapan Yusuf jelas, “Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita,” (Kej. 42:21). Kata Ruben, “Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita,” (Kej. 42:22).

 

Para tokoh besar dalam sejarah membuktikan bahwa masalah yang dihadapi memunculkan kelemahan dan kekuatan untuk membuat mereka menang. Dalam keadaan yang tidak pasti, Tuhan melanjutkan skenarionya. Kata pemazmur, “Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak,” (Mzm. 105:16-17). Yang Mahakuasa tidak bisa ditakut-takuti oleh manusia. Tanpa sadar, saudara-saudara Yusuf justru memerankan skenario yang dibuat Tuhan. Mereka menjual Yusuf ke Mesir lewat saudagar-saudagar orang Ismael dengan harga dua puluh syikal perak (Kej. 37:25-28). Karena Tuhan mengutus Yusuf ke Mesir, Ia menyertainya. Tidak pernah terbayangkan oleh Yusuf untuk menjalani hal ini, tapi Allah memiliki rencana besar atas hidupnya. Yusuf dijual kepada Potifar, kepala pengawal Firaun. Namun karena Tuhan berkenan, Ia menyertai dan membuat Yusuf selalu berhasil dalam pekerjaannya. Yusuf diberi kuasa atas segala milik Potifar, sehingga ia tidak usah mengatur apa-apa selain makanannya.

Tetapi, keberhasilannya membawa bencana dan berlangsungnya dari yang wajar menjadi tidak wajar. Isteri Potifar merayu Yusuf untuk berzinah dengan dia. Tetapi Yusuf menolak, sehingga ia malah difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara. Kata Yusuf, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:7-10). Tuhan menyertai Yusuf dan membuat dia disayangi oleh kepala penjara. Yusuf menunjukkan kapasitas hatinya yang tegar dengan mengubah musibah menjadi berkat. Tuhan menyertai Yusuf, sehingga kepala penjara mempercayakan semua tahanan padanya (Kej. 39:22-23). Ternyata, segala sesuatu ada di dalam tangan Tuhan. Ia bertindak tepat waktu dan tidak tergesa-gesa. Dua kali Tuhan memberikan mimpi kepada Firaun tentang kelaparan yang akan datang. Namun, tak seorang pun yang sanggup menafsirkan mimpi Firaun tersebut. Yusuf pun dikeluarkan dari penjara untuk menafsirkan mimpi Firaun. Kata Yusuf, “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun,” (Kej. 41:14). Yusuf menjelaskan, “Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya,” (Kej. 41:25, 32). Karena terheran-heran, Firaun berkata, “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?’ (Kej. 41:38). Sunyi pun menguasai suasana dalam istana Firaun. Lalu, terdengar suara lantang, “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu, kata Firaun (Kej. 41:39-40). Semua membisu. Kata Firaun, “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir,” (Kej. 41:41). Mimpi menjadi kenyataan. Yusuf menjadi pemenang dan pembesar.

Mimpi-mimpi Yusuf tergenapi saat ia menjadi Perdana Menteri. Kelaparan sesuai ramalan Yusuf terjadi, namun ia telah siap sedia menghadapi bahaya kelaparan tersebut sehingga ia yang menjual gandum kepada seluruh rakyat. Jadi, ketika saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir, kepada Yusuflah mereka sujud dengan muka sampai ke tanah. Yusuf membentak, ‘Dari mana kamu?’ dan mereka menjawab, ‘Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.’ Lalu, teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Kata Yusuf, ‘Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.’ Jawab mereka, ‘Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan…. Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.’ (Kej. 42:11-12). Yusuf berkata, “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir….janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu…. Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong….Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir,” (Kej. 45:4-8). Air mata mereka pun mengalir deras penuh perasaan haru.

Kebesaran hati Yusuf tampak dari pernyataan bahwa ‘Allah yang mengutusnya’ ke Mesir dengan cara dijual. Di sinilah kita melihat kualitas daya tahan rohaninya. Kecenderungan manusia adalah menuntut balas, tetapi Yusuf justru mengampuni saudara-saudaranya. Ia mempertaruhkan hidupnya demi kelangsungan hidup keluarga Yakub. Setelah Yakub meninggal, Yusuf mematuhi permintaan ayahnya untuk menguburkan dia di tanah Kanaan, dalam gua di ladang Makhpela, sebelah timur Mamre. Lalu, mereka kembali ke Mesir. Apa yang terjadi setelah Yakub meninggal? Apakah Yusuf menyimpan dendam kepada saudara-saudaranya? Tidak, walaupun saudara-saudara Yusuf ketakutan dan bergosip, ‘Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.’ Mereka mengatur siasat dengan bersembunyi dibalik nama Yakub. Mereka mengatasnamakan Yakub, ‘Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu (Kej. 50:17a). Bahkan bukan hanya mengatasnamakan Yakub, mereka juga bersembunyi dibalik, ‘hamba-hamba Allah ayahmu.’
Lalu apa reaksi Yusuf? Dikatakan, “Lalu, menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya (Kej. 50:17b). Rasanya belum puas, mereka datang dan sujud serta berkata, ‘Kami datang untuk menjadi budakmu’ (Kej. 50:18). Yusuf memiliki hati yang bersih dan tidak menyimpan kepahitan. Ia berkata, ‘Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga’ (Kej. 50:19-21). Yusuf memandang segala sesuatu dari cara pandang Allah. Ia tahu bahwa Allah yang melakukan semua itu. Ia menghibur dan menenangkan hati mereka. Apa yang dilakukan Yusuf menentukan sejarah Israel, karena Yesus dari Nazareth lahir untuk menyelamatkan umat manusia. Allah melakukan jauh lebih besar dari yang dipikirkan oleh Yusuf.

Yusuf telah melakukan bagiannya dengan hidup sesuai dengan rencana Allah, walaupun prosesnya begitu berat harus ia lalui. Namun ketegaran iman dan daya tahan rohaninya membuat ia mampu bertahan melewati padang gurun hidupnya. Bagaimana dengan kita? Proses apa yang sedang Anda jalani hari-hari ini? Teladanilah Yusuf. Miliki daya tahan rohani yang tinggi. Teruslah bertahan dan bertumbuh dalam iman yang benar, percayalah bahwa segala sesuatu pasti menjadi indah pada waktunya.

2019-10-17T17:36:45+07:00