///Keterampilan Mengambil Keputusan

Keterampilan Mengambil Keputusan

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6)

 

Dunia kerja dan bisnis mengalami perubahan terus menerus dan banyak mengubah model bisnis. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima dan mencoba menyesuaikan diri atau beradaptasi. World Economic Forum (WEF) menerbitkan laporan hasil penelitian bahwa pada tahun 2025 kelak diperkirakan ada 85 juta pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh mesin, selain oleh manusia. Karenanya, penting untuk para pekerja agar terus meningkatkan kemampuan agar tidak kalah saing dengan teknologi, salah satunya dengan keterampilan complex problem solving and decision making (pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang kompleks). Ini adalah keterampilan paling penting yang harus dimiliki setiap pekerja professional yang ingin bertahan. Masih menurut laporan WEF, 36% dari semua pekerjaan di seluruh industri akan membutuhkan kemampuan ini sebagai keterampilan utamanya.

 

Orang yang memiliki keterampilan pengambilan keputusan yang baik mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang yang luas, menganalisis fakta, memahami realitas kondisi, menangkap target dan visi, mengembangkan solusi alternatif, dan memilih solusi terbaik. Sehari-harinya pun dia dapat menyelesaikan pekerjaan secara efisien dan efektif. Sayangnya, banyak pekerja tak menyadari pentingnya keterampilan ini, sehingga menganggapnya hanya merupakan tanggung jawab atau bagian para manajer atau atasan. Padahal, pada level dan bidang apa pun, setiap pekerja tentu sering dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya cepat memilih dan mengambil keputusan yang tepat di lingkungan kerja, terutama jika terkait dengan pekerja/tim/divisi lain.

 

Keterampilan mengambil keputusan menunjukkan kapasitas pekerja serta membangun ikatan kepercayaan yang kuat antara sesama pekerja maupun dengan pemimpin. Namun, masih banyak pekerja yang justru lemah dalam keterampilan ini. Apa saja faktor penyebabnya?

 

  1. Terbiasa dengan orang lain yang mengambil keputusan untuk dirinya

Terbiasa mengambil keputusan untuk anak sejak dia kecil ternyata bukanlah sebuah kebiasaan yang baik. Dampaknya cenderung negatif: si anak akan tumbuh menjadi seseorang yang sulit menentukan apa yang dia inginkan. Dia terbiasa dengan keputusan orangtuanya yang siap memilih segala hal untuknya.

 

  1. Takut dipersalahkan atas keputusan yang diambil

Jika seseorang selalu disalahkan ketika memutuskan sesuatu untuk hidupnya, sangat mungkin dia menjadi sosok yang di kemudian hari enggan mengambil keputusan apa pun. Biasanya ini terjadi sejak usia anak, dengan orang tua yang selalu memutuskan segala sesuatu untuk anak dengan alasan “orang tua lebih tahu yang terbaik”. Akibatnya, anak akan merasa lebih nyaman jika orang lainlah yang menentukan apa yang harus dia lakukan, karena merasa keputusannya sendiri akan salah.

  1. Tak mau bertanggung jawab menghadapi risiko dari keputusannya sendiri

Alasan seseorang masih bergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan juga bisa disebabkan oleh ketakutan akan risikonya. Pada dasarnya, setiap keputusan membawa risiko tertentu, tetapi ada sebagian orang yang tak mau bertanggung jawab menghadapi risiko itu. Padahal, asalkan keputusan itu sudah dipertimbangkan dengan matang dan ada persiapan untuk munculnya risiko, tugas kita adalah memutuskan saja, lalu menghadapi semua risikonya dengan ketegaran dan keyakinan bahwa keputusan itu merupakan pilihan terbaik.

 

  1. Mudah terpengaruh orang lain

Mudah terpengaruh orang lain juga bisa menjadi penyebab seseorang kesulitan dalam mengambil keputusan. Tidak heran, orang yang demikian lebih suka meminta pendapat orang lain dalam segala hal. Orang seperti ini sering bimbang dan tidak punya prinsip yang kuat.

 

5. Terlalu berserah pada takdir dan nasib

Sama halnya dengan bergantung kepada orang lain, orang yang sulit mengambil keputusan kadang memiliki kepercayaan kepada nasib atau ramalan (misalnya, kartu tarot, paranormal, astrologi, dan sebagainya). Dengan kata lain, orang demikian pasrah saja pada nasib.

 

  1. Plin-plan dan tidak konsisten
    Tidak konsisten dan mudah berubah pikiran juga merupakan penyebab seseorang bergantung pada pilihan orang lain ketimbang pilihannya sendiri. Orang yang demikian perasaan dan kepercayaannya terombang-ambing oleh pendapat orang lain. Akibatnya, dia tak kunjung berani mengambil keputusan.

 

  1. Tidak mampu hidup di “hari ini”
    Saat harus mengambil keputusan, sebagian orang tidak mampu hidup di “hari ini”. Pikirannya sibuk mereka-reka risiko masa depan sehingga dia khawatir, atau ingatannya terbelenggu oleh kegagalan masa lalu sehingga dia takut. Yang dipikirkannya bukan pertimbangan rasional sesuai situasi dan kebutuhan saat ini, sehingga dia tidak bergerak mengambil keputusan.

Beberapa kiat sebenarnya dapat dilakukan agar kita mulai berani mengambil keputusan. Jika dilatih terus-menerus, kiat-kiat ini akan menjadikan kita makin mahir mengambil keputusan.

  1. Perluas cakrawala dan keluarlah dari zona nyaman

Banyak-banyaklah berdiskusi dengan berbagai jenis orang untuk membuka cakrawala pikiran Anda. Di luar zona berpikir, zona kebiasaan, dan zona nyaman Anda ada lebih banyak lagi pilihan yang bisa dipertimbangkan demi menentukan pilihan yang tepat. Terbiasa dan terjebak di zona nyaman membuat kita rentan mengambil keputusan yang tidak tepat.

 

  1. Kerucutkan pilihan yang ada

Setelah mencari tahu berbagai pilihan di luar sana, persempitlah kembali pilihan-pilihan itu dengan memilah yang sesuai untuk konteks Anda. Penting bahwa Anda tetap berfokus pada tujuan pengambilan keputusan, agar pilihan yang ada sesuai dengan tujuan itu. Memilah segala macam pilihan dengan baik adalah proses pengembangan diri, dan dengan pengambilan keputusan yang tepat setelah pemilahan itu, kualitas hidup pun dapat menjadi lebih baik.

 

  1. Pertimbangkan pro dan kontra

Di antara semua pilihan, cobalah bandingkan keuntungan/pro dan kerugian/kontra yang ada. Berdasarkan analisis yang sehat terhadap situasi dan kondisi perbandingan itu, temukan mana pilihan yang terbaik. Ini berarti selalu ada ketelitian dalam mengambil keputusan berdasarkan segala kemungkinan yang akan terjadi, sekaligus kesiapan menanggung risiko yang mungkin timbul.

 

  1. Berfokuslah pada manfaat dan dampak baik dari hasil keputusan

     Fokus pada manfaat atau dampak baik dari keputusan adalah daya pendorong yang kuat untuk Anda belajar cepat mengambil keputusan. Latihlah diri untuk tidak berlama-lama dan berputar-putar pada hal-hal yang melambatkan diri Anda dengan fokus pada manfaat dan dampak baik.

  1. Ora et labora
    Setelah Anda memiliki beberapa pilihan keputusan, serahkan keputusan akhirnya kepada Tuhan. Putuskan sesuai dengan tuntunan yang Tuhan berikan. Lalu, apa pun hasilnya, tetaplah mengucap syukur. Percayalah, walaupun mungkin Anda bisa salah mengambil keputusan, Tuhan tetap bekerja mendatangkan kebaikan di dalamnya. Anda hanya perlu menerima dengan lapang dada dan berlatih lagi untuk mengambil keputusan dengan cara yang lebih baik.

 

Nah, apakah Anda saat ini sedang menghadapi situasi pengambilan keputusan yang penting? Carilah pengarahan di dalam Firman Allah selain melakukan kiat-kiat yang baru saja diuraikan. Mintalah hikmat Tuhan, percayalah pada janji-Nya, maka Dia akan membimbing Anda. Ingat, percayalah kepada Dia dengan segenap hati dan jangan mengandalkan pengertian Anda sendiri.

2023-01-27T10:18:56+07:00