//Ketika hati tak berdaya lagi, seberapa pun peduli

Ketika hati tak berdaya lagi, seberapa pun peduli

Sore itu, saya menerima sebuah pesan pendek di grup Whatsapp (WA) yang isinya cukup mengejutkan. Seseorang yang cukup saya kagumi dan hormati mendadak sakit keras. Mungkin tak hanya saya yang kaget membaca isi pesan tersebut, tetapi seluruh anggota di grup tersebut juga sontak terkejut.Si sakit ini adalah rekan satu pelayanan saya ketika di kampung halaman dulu. Tak pernah absen dia mengirimkan share Firman Tuhan setiap pagi di grup, dan tak jarang juga dia menanyakan kabar kami masing-masing. Saya pun tahu, di tengah-tengah kesibukannya yang cukup padat sebagai businessman yang sangat sukses, apalagi saat ini dia telah menikah dan memiliki anak, dia pun masih aktif melayani di gereja. Dari dia jugalah, saya mengalami dibimbing dan dimuridkan sehingga saya menganggap bahwa sialah kakak rohani saya.

“Malam guys, dukung doa, ya.. Tadi siang anak-anak saya kecelakaan pas balik dari sekolah. Sopir dan anak-anak saya kritis di rumah sakit. Mohon bantuan doanya, thanks.”
Pesan pendek berikutnya di grup WA saya terima beberapa hari setelah mendengar kabar bahwa kakak rohani saya sakit keras. Kali ini, anak-anak si kakak rohani itu terkena musibah. Tak berapa lama kemudian, saya dengar bahwa anak-anaknya pun meninggal.

Kehebohan pun terjadi pada kami sesama anggota grup WA, karena kakak rohani saya sudah tak lagi aktif di grup. Salah satu teman berkata bahwa bisnisnya pun runtuh karena dia sakit, ditambah ada info tak sedap bahwa rumah tangganya terancam akan berakhir. Istrinya stres dan mendadak menjadi seperti orang gila karena tak sanggup menghadapi kenyataan yang menyedihkan.

Saya tak habis pikir, dan rasanya saya pun ikut protes ke Tuhan. Segala bentuk pertanyaan timbul di benak, mengapa penderitaan bertubi-tubi ini bisa terjadi pada kakak rohani saya. Bukankah dia cinta Tuhan? Bukankah dia rajin melayani Tuhan?

Oke, saya bertekad akan menyempatkan diri ke kembali ke kampung halaman. Saya harus bertemu dengannya. Saya tahu, yang saya harus siapkan tak sekadar mengajukan cuti ke kantor dan biaya perjalanan, tetapi juga mental yang kuat bila bertemu dengan kakak rohani saya itu. Rasa iba di hati saja, seberapa pun melimpahnya, tak akan cukup. Berbagai pikiran mulai menghantui saya tentang apa yang harus saya katakan kepada kakak rohani itu. Apakah berkata-kata menguatkan dan mengajaknya berdoa cukup? Seperti apa sikap saya seharusnya kepada orang yang sedang menderita sampai seperti itu? Aahh… Betapa saya tak mau menyakitinya lebih dalam lagi bila ternyata kata-kata yang muncul dari mulut saya adalah penghakiman dan beban tambahan buat dia.

Saya dan tiga orang teman lainnya yang berhasil pulang kampung pun akhirnya bertemu dengan si kakak rohani, setelah persiapan semaksimal mungkin agar kami dapat setidaknya hadir untuk menghibur dia. Ternyata, kakak rohani kami kondisinya sangat menyedihkan, bahkan di luar pikiran saya sebelumnya. Badannya kurus kering, kulitnya penuh dengan luka-luka yang mengerikan, plastik dan botol obat-obatan berserakan… Rumahnya yang biasanya rapi tertata tetapi kini menjadi kotor dan berantakan bagai tak berpenghuni. Mood dia pun tak terkontrol, terkadang dia menangis tak kuasa menahan segala beban hidupnya, terkadang saat kami ajak mengobrol dia pun berikap kasar karena merasa tak terima dengan apa yang dia alami.

Kami berempat, yang sama-sama cinta Tuhan dan terbeban untuk menjadi sarana pemulihan bagi kakak rohani kami, semaksimal mungkin menghibur dan mencoba mendengarkan setiap keluh kesahnya. Tiga teman saya lainnya, yang lebih berumur daripada saya, mencoba menenangkan kakak rohani saya. Tak jarang pula saya mendengar beberapa ayat Firman Tuhan meluncur dari mulut mereka. Rasanya, ini memang seperti bukan kakak rohani yang saya kenal. Dia terlihat seperti orang yang murtad dengan keluh kesahnya kepada Tuhan. Adu argumen pun mulai terjadi, karena ketiga teman saya itu melihat bahwa kakak rohani saya menjadi pribadi yang berbeda.
Diam-diam di tengah keriuhan perdebatan yang memanas itu, saya berdoa dalam hati, “Ah Tuhan, apa yang harus saya katakan? Pimpin saya, Roh Kudus…” Saya pun tersadar, saya hanyalah perantara dan Tuhanlah yang sanggup mengubah keadaan. Saya perlu pikiran dan perasaan-Nya. Akhirnya, saya hanya mencoba mengerti. (Saya Elihu, dan kisah ini disadur dari kisah Ayub.)

Pernah saya mendengar dari kotbah seorang pendeta, bahwa Tuhan memroses hidup kita agar kita menjadi “iklan” Tuhan. Sama seperti David Beckham yang dikontrak dan dibayar dengan sangat mahal oleh Adidas untuk menjadi “alat” dalam mempromosikan Adidas, kita pun dipakai Tuhan menjadi alat-Nya, untuk memberitakan diri-Nya.
Mungkin saat ini Anda berada di posisi Elihu yang dilanda kesibukan tetapi “dipaksa” untuk melayani orang lain. Ini situasi yang tak mudah, dan rasanya segala pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan meskipun terlihat mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan. Hati tak lagi berdaya, seberapa pun pedulinya. Anda berkorban pikiran, tenaga, uang, waktu, atau “sisa cuti kantor” hanya untuk suatu hal yang berlabel “pelayanan”. Rasa ingin menikmati kebebasan atau “me time” diganggu dengan sibuknya pelayanan dan pertemuan ini-itu. Bahkan, mungkin saat teduh, jam doa, dan berpuasa secara pribadi telah menjadi kewajiban karena saya “anak Tuhan”, bukan lagi kesukaan.

Mungkin juga, Anda justru sedang berada di posisi Ayub. Ketika Anda seorang yang cinta Tuhan 100% diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Anda “kalah” dibandingkan dengan yang lain. Mungkin kondisi Anda tak sekompleks Ayub yang sakit keras, istri/pasangan nyaris meninggalkan, serta bisnis yang gagal. Namun, kondisi ini membuat Anda terkadang putus asa dengan kenyataan hidup, merasa kesepian, dan tak terima dengan semua yang terjadi.
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” (Ibr. 12:2)
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Dia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Dia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Kor. 10:13)

Apa pun proses yang kita sedang alami saat ini, ingatkan diri kita selalu bahwa ada Yesus. Mari selalu percaya, bila ada kesulitan yang dialami, kasih karunia-Nya menyertai kita dan itu adalah pencobaan biasa dan tidak melebihi kekuatan saya. Proses yang saya alami adalah karena saya menjadi brand ambassador bagi Dia dan surga. Seorang murid dapat dikatakan bahwa dia benar-benar murid jika dia setiap hari datang untuk belajar dan di waktu-waktu menjalani ujian. Ini sama halnya dengan kekristenan kita, jangan cukup puas bila kita telah menjadi murid, tetapi bertekunlah sampai kita menjadi murid yang benar, murid sejati. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Tetap setia, tetap berharap, tetap berdoa.

2019-10-17T11:31:05+00:00