///Khawatir karena terlalu takut mengambil risiko

Khawatir karena terlalu takut mengambil risiko

Para dokter bahkan telah mengakui bahwa orang-orang yang sering dikuasai kekhawatiran akan cenderung mengalami masalah pada organ-organ perut atau pencernaannya. Namun, apa sebenarnya kekhawatiran itu?

Kita akan kesulitan mendefinisikan kekhawatiran dengan jelas dan spesifik, tetapi kita dapat melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekhawatiran. Orang-orang yang dikuasai kekhawatiran cenderung:
1. Tidak dapat melangkah maju dan dikendalikan pengalaman masa lalu
2. Tidak yakin dengan bakat dan potensi dirinya
3. Sering merasa dikuasai kebimbangan
4. Sulit benar-benar memercayai janji Tuhan
5. Meski memiliki banyak bakat, tetap menjadi orang kebanyakan (average people)

Dalam seri artikel Menaklukkan Kekhawatiran ini, saya akan membongkar sumber kekuatan kekhawatiran sesuai dengan keunikan karakter setiap kelompok orang yang memengaruhi jenis/bentuk penyebab kekhawatirannya, serta menyajikan saran-saran praktis untuk menaklukkan kekhawatiran. Sama seperti sekelompok penjahat yang tinggal dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan, jika kita berhasil memutus aliran listrik dan air ke bangunan tersebut, para penjahat yang ada di dalam bangunan itu cepat atau lambat akan keluar dengan sendirinya. Demikian juga jika kita berhasil menguasai sumber kekuatan di dalam diri kita, kita akan lebih mudah menang atas kekhawatiran yang disusupkan iblis di dalam diri kita.

Kelompok 4: Terlalu gemar akan keteraturan dan keharmonisan
Berdasarkan temuan saya, setiap pola karakter cenderung memiliki sumber atau pemicu kekhawatiran alaminya masing-masing. Meski demikian, kita perlu tetap mewaspadai sumber-sumber kekhawatiran ini, lepas dari apa pun pola karakter kita.

Secara alami, ada kelompok orang yang cenderung memiliki pikiran yang tenang dan stabil. Orang-orang ini jauh lebih menyukai keteraturan dan keharmonisan daripada hal-hal yang bersifat dinamis, cepat berubah, dan tiba-tiba. Mereka biasanya lebih teliti dan hati-hati terhadap barang, situasi, maupun perasaan orang lain. Mereka gemar berpikir dengan sistematis dan terperinci (yang terkesan rumit dalam pendapat orang lain) di dalam diri mereka sendiri, dan mereka berusaha sedapat mungkin mengatur segala perilaku serta perkataan mereka agar tidak berisiko menyinggung perasaan orang lain, demi keteraturan dan keharmonisan itu tidak hilang.

Sumber kekhawatiran kelompok orang jenis ini adalah cara pandang yang salah terhadap risiko. Orang-orang yang memiliki pola karakter ini memandang risiko hanya sebagai hal buruk yang harus dihindari. Sebenarnya mereka tahu bahwa sering kali dan dalam berbagai konteks, ada hal-hal baik yang hanya dapat kita raih ketika kita berani mengambil risiko dan berusaha menaklukkan tantangan yang menjadi penghalang. Di dalam pemikiran mereka, mungkin sekian banyak rencana telah dipersiapkan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah, tetapi saat tiba saatnya untuk mengeksekusi rencana tersebut dan berhadapan langsung dengan risiko masalah atau tantangan itu, kekhawatiran biasanya mengambil alih kendali hidup mereka.

Orang-orang dengan pola karakter ini memiliki banyak rencana yang tampak sistematis untuk meraih sebuah peluang di masa depan. Bahkan sering kali, rencana ini jika dipaparkan kepada orang lain akan tampak rapi, jelas, dan hebat; sehingga potensi keberhasilannya tinggi. Sayangnya, sebagian besar dari rencana itu tidak tereksekusi dengan baik atau bahkan gagal di tengah jalan karena mereka hampir selalu membiarkan kekhawatiran mengambil alih kendali kehidupan mereka. Mereka mungkin sekali terbiasa berkali-kali mengambil komitmen untuk menjadi orang yang lebih berinisiatif dan berani mengembangkan hidup mereka, tetapi ketika berhadapan dengan risiko yang tampaknya sulit, kekhawatiran lagi-lagi mengambil alih kendali hidup mereka. Bagaimana cara menaklukkan kekhawatiran semacam ini?

Melihat risiko secara seimbang
Jika kita merasa memiliki pola karakter yang dibahas kali ini, sangat disarankan agar kita melatih diri menggunakan cara pandang yang lebih seimbang terhadap risiko. Risiko adalah seperti mobil mogok yang sedang berada di ujung atas sebuah jalan yang menurun. Untuk mencapai titik tujuan, kita harus melewati jalan yang menurun itu. Kita dapat menggunakan jalan menurun itu sebagai pendorong/penggerak yang memudahkan untuk menyalakan kembali mesin mobil itu, atau sebagai jalan liar yang membawa mobil kita pada kecepatan tanpa kendali hingga menabrak pohon besar atau terlempar ke jurang. Faktor yang membedakan hasil akhir ini adalah cara pandang kita sebagai pengemudi mobil. Pilihlah melihat kesempatan dan peluang yang baik, sambil memiliki kesiapan dan tekad yang matang, bukan diam saja karena khawatir terjadi kecelakaan akibat terlalu berfokus pada bahaya yang mengerikan.

Menjaga komitmen dengan disiplin diri
Dengan melakukan persiapan yang dilengkapi tekad yang matang untuk memanfaatkan jalan turun tadi sebagai penggerak yang positif, maka kita akan mengubah risiko menjadi sebuah kesempatan atau katalisator kemajuan. Lalu apa selanjutnya? Disiplin diri untuk tetap melakukan segala persiapan yang telah direncanakan dengan baik, diiringi dengan tekad kuat untuk menjaga komitmen, akan membawa kita menaklukkan risiko. Hadapi risiko sambil tetap menjaga komitmen dengan disiplin diri, jangan biarkan rencana kita yang hebat itu mogok karena rasa khawatir, maka kita akan menikmati peluang yang berhasil diraih sekaligus menemukan bahwa kita bertumbuh menjadi semakin mampu mengendalikan kekhawatiran.

2019-10-11T11:18:20+07:00