///Khawatir karena terlalu mengandalkan pemikiran diri sendiri

Khawatir karena terlalu mengandalkan pemikiran diri sendiri

Para dokter bahkan telah mengakui bahwa orang-orang yang sering dikuasai kekhawatiran akan cenderung mengalami masalah pada organ-organ perut atau pencernaannya. Namun, apa sebenarnya kekhawatiran itu?

Kita akan kesulitan mendefinisikan kekhawatiran dengan jelas dan spesifik, tetapi kita dapat melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekhawatiran. Orang-orang yang dikuasai kekhawatiran cenderung:
1. Tidak dapat melangkah maju dan dikendalikan pengalaman masa lalu
2. Tidak yakin dengan bakat dan potensi dirinya
3. Sering merasa dikuasai kebimbangan
4. Sulit benar-benar memercayai janji Tuhan
5. Meski memiliki banyak bakat, tetap menjadi orang kebanyakan (average people)

Dalam seri artikel Menaklukkan Kekhawatiran ini, saya akan membongkar sumber kekuatan kekhawatiran sesuai dengan keunikan karakter setiap kelompok orang yang memengaruhi jenis/bentuk penyebab kekhawatirannya, serta menyajikan saran-saran praktis untuk menaklukkan kekhawatiran. Sama seperti sekelompok penjahat yang tinggal dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan, jika kita berhasil memutus aliran listrik dan air ke bangunan tersebut, para penjahat yang ada di dalam bangunan itu cepat atau lambat akan keluar dengan sendirinya. Demikian juga jika kita berhasil menguasai sumber kekuatan di dalam diri kita, kita akan lebih mudah menang atas kekhawatiran yang disusupkan iblis di dalam diri kita.

Kelompok 2: Cerdas dan teliti dalam menganalisis
Kami mendapati bahwa kekhawatiran tampaknya memiliki hubungan yang erat dengan tingkat iman atau kepercayaan seseorang kepada Tuhan dan/atau orang lain. Shannon L. Alder, seorang business woman dan anak dari ahli bela diri Bruce Lee, pernah berkata, “Ketakutan atau kekhawatiran adalah lem yang membuatmu terus terhambat atau berhenti. Iman adalah cairan pelarut yang akan membebaskanmu (dari hambatan lem itu).” Menurut temuan kami, sebagian orang cenderung sulit beriman kepada Tuhan atau memercayai rencana Tuhan karena kadang mereka berpikir, “Sepertinya Tuhan bekerja terlalu lambat. Aku belum melihat bukti dari apa yang dijanjikan,”; “Tuhan tidak pernah hadir di sini. Akulah yang menghadapi secara nyata kesulitan ini. Menurutku Tuhan tidak benar-benar mengerti apa yang harus dilakukan,”; “Pengalamanku membuktikan bahwa jika hal ini terus-menerus terjadi pasti akan terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan atau membahayakan diriku. Aku tidak bisa mengabaikan begitu saja pelajaran dari pengalamanku. Aku rasa Tuhan pun tidak akan melakukan hal yang berlainan dari pengalamanku selama ini.”

Orang-orang dengan karakter seperti ini cenderung memiliki kecerdasan dan ketelitian yang di atas rata-rata dalam hal kemampuan analisis, berpikir konseptual, perhitungan ketika mengambil risiko, serta kecekatan dan ketajaman berpikir kritis. Kemampuan kognitif mereka yang tinggi ini kadang membuat mereka lebih memercayai daya analisis dan logika berpikir tentang pengalaman mereka sendiri daripada memercayai Tuhan.

Alkitab memberikan contoh yang sangat baik mengenai hal ini di dalam kisah Musa. Ketika Tuhan memanggil Musa di Midian untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa menolak panggilan itu. Jika disimpulkan, sebenarnya dasar dari argumentasi penolakan Musa kira-kira artinya, “Aku telah mencoba melakukannya, Tuhan; dan pengalamanku membuktikan bahwa hal itu mustahil dilakukan. Lagi pula aku telah menganalisis kesulitan yang ada di dalam proyek ini dan tingkat kemampuanku sendiri; dan aku katakan sekali lagi, bahwa hal ini mustahil dilakukan. Setidaknya olehku. Utuslah orang lain saja yang lebih mampu dariku!”

Sumber kekhawatiran kelompok orang yang seperti Musa ini tidak terletak pada besarnya masalah yang sedang mereka hadapi. Sumber kekhawatiran yang sebenarnya adalah ketika mereka mendapati bahwa kemampuan berpikir dan pengalaman mereka “memaksa” mereka menyimpulkan bahwa “tidak ada jalan keluar”. Kecenderungan orang-orang ini untuk berpikir bahwa mereka telah mengetahui atau memahami segala kemungkinan yang ada membuat mereka cenderung dikuasai kekhawatiran ketika pikiran dan pengalaman mereka itu mengatakan, “Tidak ada jalan keluar bagimu”.

Belajarlah untuk jangan pernah menutup jendela pembelajaran
Jika kita memperhatikan kisah Musa tadi dengan baik, sungguh menarik apa yang dilakukan Tuhan. Setelah berdebat dengan Musa (Kej. 3), Tuhan memutuskan untuk berhenti berdebat dan memberikan beberapa bukti yang dapat dilihat (Kej. 4:1-9). Mengapa Tuhan melakukan hal ini? Karena Tuhan ingin memasukkan informasi baru yang positif ke dalam diri (pikiran dan kepercayaan) Musa.
Salah satu hal yang dapat membuat Anda terperangkap dalam kekhawatiran adalah jika Anda terus-menerus memasukkan informasi negatif yang sama ke dalam diri Anda. Selama 40 tahun di Midian, Musa terus menerus belajar bahwa dirinya adalah seorang yang tidak berguna, penakut, tidak kompeten, dan sebagainya. Selama 40 tahun, Musa terus belajar bahwa tampaknya Tuhan pun tidak akan dapat mengubah keterbatasan atau kelemahannya. Ia akan selamanya menjadi seorang yang gagal. Itulah sebabnya Tuhan berhenti berdebat dan mulai menunjukkan bukti. Tuhan ingin menunjukkan bahwa Ia memiliki kuasa yang besar dan Ia dapat menggunakan Musa untuk melakukan hal-hal yang besar.
Ketika Anda merasa dihadang oleh kemustahilan yang mendatangkan kekhawatiran, jangan pernah menutup jendela pembelajaran. Jangan hanya memasukkan informasi atau berkutat dengan informasi yang hanya memusatkan perhatian Anda pada kemustahilan itu. Sebaliknya, lebih banyak masukkan informasi positif yang dapat membuat Anda menemukan solusi-solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Belajarlah memiliki team work yang sinergis
Langkah berikutnya yang Tuhan lakukan kepada Musa adalah memberikan tim kerja (Kej. 4:14-16) dan peralatan kerja (ay. 17). Hal ini menggaungkan kembali apa yang telah Tuhan katakan di kisah penciptaan bahwa tidak baik manusia hidup (termasuk bekerja) seorang diri saja. Tuhan mengetahui keterbatasan dan kekhawatiran setiap orang. Itulah sebabnya Ia menciptakan konsep kerja sama atau kesatuan tubuh yang bekerja bersama-sama untuk mencapai sebuah tujuan.
Orang-orang dengan kecenderungan karakter yang sangat cerdas dan teliti dalam menganalisis cenderung hanya mau berelasi dengan orang-orang yang memiliki tingkat kemampuan setara dengan mereka. Sering kali, mereka bahkan cenderung enggan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki cara kerja yang berbeda, karakter yang berbeda, dsb. Hal ini cenderung membuat mereka berpikir dengan cara yang sama pula. Karena itu, ketika salah seorang di antara mereka menemukan kemustahilan, tidak ada orang lain yang dapat melihat dengan sudut pandang yang lain.

Dengan menciptakan kerja sama sinergis dengan orang yang berbeda-beda, Anda akan mendapatkan lebih banyak informasi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dengan memiliki tim kerja yang sinergis, ketika yang seorang merasa lemah, Anda masih memiliki orang lain yang dapat menghibur dan menolong. Pada akhirnya, perbedaan-perbedaan yang ada di dalam tim kerja yang sinergis itulah yang akan membantu Anda menyadari bahwa kekhawatiran pribadi Anda akan dapat diatasi jika Anda mengandalkan Tuhan dan mencari solusinya, bukan mengandalkan kemampuan berpikir dan pengalaman pribadi Anda saja.

Peneguhan Tuhan
“Tidak baik manusia hidup seorang diri saja. Aku harus membuat rekan kerja yang cocok baginya.”
(Kej. 2:18, terjemahan bebas dari Alkitab versi Contemporary English Version)

2019-10-12T10:36:11+07:00