///Khawatir karena terlalu peduli pendapat orang lain

Khawatir karena terlalu peduli pendapat orang lain

Para dokter bahkan telah mengakui bahwa orang-orang yang sering dikuasai kekhawatiran akan cenderung mengalami masalah pada organ-organ perut atau pencernaannya. Namun, apa sebenarnya kekhawatiran itu?

Kita akan kesulitan mendefinisikan kekhawatiran dengan jelas dan spesifik, tetapi kita dapat melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekhawatiran. Orang-orang yang dikuasai kekhawatiran cenderung:
1. Tidak dapat melangkah maju dan dikendalikan pengalaman masa lalu
2. Tidak yakin dengan bakat dan potensi dirinya
3. Sering merasa dikuasai kebimbangan
4. Sulit benar-benar memercayai janji Tuhan
5. Meski memiliki banyak bakat, tetap menjadi orang kebanyakan (average people)

Dalam seri artikel Menaklukkan Kekhawatiran ini, saya akan membongkar sumber kekuatan kekhawatiran sesuai dengan keunikan karakter setiap kelompok orang yang memengaruhi jenis/bentuk penyebab kekhawatirannya, serta menyajikan saran-saran praktis untuk menaklukkan kekhawatiran. Sama seperti sekelompok penjahat yang tinggal dan bersembunyi di dalam sebuah bangunan, jika kita berhasil memutus aliran listrik dan air ke bangunan tersebut, para penjahat yang ada di dalam bangunan itu cepat atau lambat akan keluar dengan sendirinya. Demikian juga jika kita berhasil menguasai sumber kekuatan di dalam diri kita, kita akan lebih mudah menang atas kekhawatiran yang disusupkan iblis di dalam diri kita.

Kelompok 3: Bimbang dan ragu karena terlalu peduli dan takut menghadapi konflik relasi
Pernahkah kita merasa dikuasai kebimbangan? Bingung menentukan pilihan karena pasangan kita menganjurkan kita memilih pilihan yang satu, sedangkan orang tua atau saudara kandung yang dekat dengan kita menganjurkan kita memilih yang lain, padahal sahabat-sahabat terbaik kita menganjurkan kita memilih yang lain lagi? Ragu karena merasa orang-orang di sekitar kita seolah-olah menarik-narik diri kita ke arah yang berlainan melalui pendapat dan harapan mereka masing-masing yang diungkapkan atau ditujukan kepada kita?
Banyak perusahaan hingga pada skala nasional maupun internasional menunjukkan bahwa kebimbangan dapat terjadi kepada siapa pun, tanpa memandang status sosial maupun tingkat jabatan yang dimilikinya. Kami terus-menerus menemukan bahwa kelompok orang yang memiliki karakter dengan kecenderungan tertentu rawan mengalami kekhawatiran yang menurut mereka dipicu dan diakibatkan oleh derasnya arus pendapat dan arahan dari luar. Namun, apa benar demikian?

Sebenarnya, sumber kekhawatiran bagi orang-orang dengan kecenderungan karakter yang mudah bimbang dan ragu ini bukanlah seberapa banyak/deras dan kontradiktifnya pendapat-pendapat yang mereka terima. Coba pikirkan sejenak. Situasi dengan beberapa kelompok orang secara hampir bersamaan memberikan pendapat yang berbeda-beda mengenai satu topik yang sama dapat menimpa siapa saja, tetapi sebagian orang tetap dapat mengambil keputusan dengan tenang tanpa perasaan terhambat apa pun. Sebaliknya, sebagian orang merasa terhimpit hampir setiap kali hal itu terjadi, tertarik-tarik di tengah-tengah berbagai kepentingan dan pendapat sehingga mengalami konflik secara internal di dalam dirinya dalam proses mengambil keputusan.

Kami menemukan bahwa sumber kekhawatiran sebenarnya bagi orang-orang dengan kecenderungan karakter seperti ini adalah karena mereka memiliki rasa empati atau kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Rasa empati dan kepedulian sendiri sebenarnya bukanlah hal yang buruk. Namun, kepedulian menjadi masalah ketika kadarnya berlebihan sehingga berubah menjadi ketakutan akan konflik. Ketika menghadapi beberapa pendapat yang saling berkontradiksi, orang-orang dengan kecenderungan karakter seperti ini menganggap bahwa menolak atau tidak sepakat dengan pendapat orang lain akan rawan menimbulkan konflik atau ketegangan di dalam relasi mereka. Kekhawatiran akan timbulnya konflik relasi antara dirinya dengan orang yang berbeda pendapat dengannya inilah yang menjadi sumber kekhawatiran. Alhasil, orang-orang seperti ini selalu merasa bimbang dan ragu serta menunda-nunda mengambil keputusan, karena takut keputusannya menimbulkan konflik yang melukai perasaan orang lain. Lalu, bagaimana mengatasinya?

Perbedaan tidak harus menimbulkan konflik relasi
Alkitab mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan unik; dan itu berarti setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain (1 Kor. 12). Dalam pelayanan pelatihan karakter, keunikan manusia terbukti bukan hanya terjadi secara fisik, melainkan juga terjadi dalam hal pola pikir, pola rasa, pola perilaku, pola tindakan, serta bahkan pola pengambilan keputusan. Apakah perbedaan ini bisa menghasilkan konflik? Tentu saja. Namun, apakah perbedaan ini pasti akan selalu berdampak buruk? Tidak! Amsal 27:17 mengatakan bahwa manusia hanya dapat “ditajamkan” melalui sesamanya. Bagaimana manusia dapat “menajamkan” sesamanya? Melalui perbedaan yang dikelola dengan baik. Kelola perbedaan dengan baik dan saling perlengkapi dengan kekuatan masing-masing, agar kita justru saling menajamkan, bukan terjebak dalam kemandekan karena bimbang dalam mengambil keputusan akibat takut berkonflik.

Perlakukan pendapat lain hanya sebagai data pembanding
Pahami bahwa dalam hidup kita, kita sendirilah yang harus mengambil keputusan, bukan orang lain. Lagipula, Tuhan yang adalah sumber segala hikmat itu hidup dan tinggal di dalam diri kita. Gunakan hikmat Tuhan dan perlakukan pendapat orang lain hanya sebagai data tambahan/pertimbangan yang kita gunakan untuk mengambil keputusan yang terbaik. Karena kita menggunakan pendapat orang lain sebagai data pembanding saja, tentu sangat logis jika kita mengambil keputusan yang agak condong dengan salah satu pihak atau bahkan menciptakan pendapat atau jalan keluar baru. Tidak perlu membiarkan diri kita terhanyut sehingga mengikuti pendapat orang lain, siapa pun itu.

Hadapi konflik yang timbul dengan bijaksana
Pisahkan antara pendapat, perbuatan, dan pribadi seseorang. Orang yang kurang bijak cenderung menyamakan pendapat, perbuatan, dan pribadi seseorang. Dengan demikian, ketika tidak setuju dengan pendapat orang tersebut, ia akan cenderung melihat perbuatan-perbuatannya yang lain sebagai hal yang negatif dan berkata, “Aku tidak suka kepada orang itu.” Pola seperti ini akan membuat kita makin sulit melawan kekhawatiran yang timbul dari rasa takut akan konflik relasi, karena kita menjadi takut dinilai dengan cara demikian pula oleh orang lain.

Belajarlah untuk sekadar tidak menyetujui pendapat seseorang atau tidak menyetujui perbuatan seseorang, tanpa selalu atau serta-merta membenci pribadinya. Dengan demikian kita akan dapat lebih mudah mengambil keputusan kita sendiri; dengan menjadikan pendapat-pendapat orang lain sebagai data pembanding, dan tidak dikekang kekhawatiran atas konflik relasi yang mungkin terjadi di masa depan.

Peneguhan Tuhan
“(Orang benar) tidak takut menerima kabar buruk, hatinya teguh karena percaya kepada Tuhan. Ia tidak cemas atau takut, karena yakin musuhnya akan dikalahkan.”
(Mazmur 112: 6 – 8, versi BIS)

2019-10-12T10:34:41+07:00