/, Character/Khawatir : Terpicu oleh Trauma dan keterdesakan

Khawatir : Terpicu oleh Trauma dan keterdesakan

Mencermati fenomena ini, secara khusus saya menyajikan artikel-artikel dalam seri Menaklukkan Kekhawatiran. Di dalamnya, kita akan membongkar senjata-senjata paling mematikan yang telah lama membuat banyak orang dikuasai oleh kekhawatiran. Saya berdoa semoga kebenaran-kebenaran yang dibagikan ini akan dipakai Tuhan untuk menolong kita menjadi pemenang-pemenang di tahun 2018.

Kelompok 1: Terpicu oleh trauma dan keterdesakan
Jika kita mengenal seseorang (atau diri kita sendiri) yang memiliki pengalaman traumatis, kita dapat melihat bahwa selama luka traumatis tersebut belum dipulihkan, setiap kali pemicu trauma tersebut muncul, orang tersebut akan diserang kekhawatiran yang hebat. Kekhawatiran hebat semacam ini sebenarnya juga dapat dilihat ketika sebagian orang dipaksa untuk membuat keputusan yang sulit dalam waktu yang sangat mendesak. Menghadapi tekanan dalam keterdesakan yang tinggi atau perubahan besar yang sangat mendadak, biasanya kelompok orang dengan karakteristik ini akan cenderung dilanda kekhawatiran dan menjadi panik.

Khawatir: sehat atau tidak sehat?
Pengalaman kami di dalam dunia konseling dan bekerja sama dengan banyak psikolog dan psikiater menunjukkan bahwa pengalaman traumatis yang belum dipulihkan dan kepanikan yang melanda ketika berada dalam keterdesakan yang tinggi sebenarnya bersumber dari emosi seseorang. Secara medis, terbukti bahwa bagian otak yang bertugas mengatur emosi seperti amygdala dan beberapa hormon seperti dopamin dan serotonin pada orang-orang yang cenderung lebih rentan/mudah dikuasai kekhawatiran memiliki pola kinerja yang sama. Selain itu, secara karakter, keadaan ini juga dapat dipicu atau bahkan diperparah oleh ketidakmampuan orang tersebut dalam mengendalikan emosinya sendiri.

Berbicara mengenai pengendalian emosi, beberapa hal sederhana dapat membantu menilai kekuatan pengendalian emosi kita, misalnya: apakah kita masih ingat dan mampu untuk menarik napas dalam-dalam ketika berada di kondisi yang sangat mendesak; apakah kita masih dapat berdoa dalam situasi demikian; dan apakah kita merasa masih dapat mengendalikan diri (tidak seketika menjadi emosional) dan mengambil keputusan dengan tenang dalam situasi demikian.

Setiap orang pasti pernah menghadapi kesulitan di dalam hidupnya yang membuat rasa khawatir muncul. Namun, kekhawatiran yang tidak sehat menghasilkan dampak yang tidak sehat pula. Jika rasa khawatir tersebut memicu kewaspadaan, itu adalah kekhawatiran yang sehat. Sebaliknya, jika rasa khawatir tersebut disertai dengan ketidakmampuan mengendalikan emosi sehingga orang itu dikuasai kekhawatiran dan cenderung tidak dapat mengendalikan diri dan mengambil keputusan dengan baik, itu adalah kekhawatiran yang tidak sehat. Lalu, bagaimana mengantisipasi dan mengatasi kekhawatiran yang tidak sehat? Jawabannya terletak pada diri kita sendiri bersama dengan Tuhan.

Miliki harapan sejati di dalam rancangan Tuhan
Kekhawatiran timbul karena perasaan kita mengatakan bahwa kita tidak memiliki harapan dalam menghadapi kesulitan atau malapetaka yang (akan/mungkin) datang ke dalam hidup kita. Namun, perasaan saja tidak serta-merta membuat kita dikuasai kekhawatiran. Jika kemudian pikiran kita menyepakati hal ini dan mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang (akan/mungkin) terjadi, jadilah seluruh keberadaan diri kita memercayai bahwa memang tidak ada harapan.

Pikiran yang jernih akan membantu kita mengendalikan perasaan. Tanpa pikiran yang jernih, tidak akan ada seorang pun yang dapat mengendalikan emosinya dengan baik; dan pikiran yang terjernih adalah pikiran yang berfokus pada masa depan yang penuh harapan.

Seseorang yang tidak memiliki harapan akan masa depan yang lebih baik tidak akan mampu memiliki pikiran yang jernih. Inilah yang terjadi dengan orang-orang yang disebut delusional. Mereka mengalami kejadian yang sangat menyakitkan, tidak mampu menerima kenyataan itu, tidak mampu melihat harapan, dan akhirnya justru menciptakan “kenyataan” baru dalam imajinasi mereka. Hanya harapan sejati dari Tuhanlah yang dapat membuat seseorang berpikir dengan jernih dan mengendalikan emosi dengan baik. Miliki harapan yang sejati di dalam Tuhan melalui Firman-Nya, karena itulah kebenaran yang sesungguhnya tentang masa depan baik yang telah Dia rancangkan bagi kita.

Seimbangkan kemampuan otak kanan dan kiri demi pengembangan diri
Sebagian dari fungsi otak kiri adalah mengumpulkan dan memilah-milah data dengan tajam. Sebagian dari fungsi otak kanan adalah menghubungkan, menyimpulkan, dan mengambil keputusan berdasarkan olahan data-data tadi. Semakin banyak hal positif yang kita pelajari, semakin banyak pula otak kiri kita mempunyai data dan pengetahuan yang dapat diolah untuk menemukan harapan di tengah-tengah kekhawatiran. Semakin banyak pengetahuan dan semakin dalam keahlian yang dihasilkan otak kiri kita, semakin teguh dan mudah pula bagi otak kanan kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang benar di tengah-tengah kesulitan dan kekhawatiran.

Saya selalu mengajarkan kepada orang-orang yang saya konseling bahwa mereka harus mengembangkan pengetahuan dan kapasitas diri mereka. Kedisiplinan belajar adalah pintu pengetahuan, dan kehidupan yang taat kepada Tuhan adalah kunci yang akan membuka pintu pengetahuan itu. Orang yang berhenti belajar akan terlindas oleh perkembangan kesulitan yang dibawa oleh dunia. Pada akhirnya, orang yang terlindas oleh perkembangan kesulitan ini pun akan rentan diserang rasa khawatir yang berlebihan.

Memiliki harapan sejati dari Tuhan adalah permulaan kemenangan melawan rasa khawatir. Namun agar dapat terus-menerus menang dalam tiap pertarungan, kita harus terus mengembangkan pengetahuan, karakter, dan kemampuan. Inilah yang akan semakin memperkuat diri kita menghadapi kesulitan apa pun yang muncul tanpa harus tenggelam di dalam kekhawatiran lagi.

Peneguhan Tuhan
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
Yeremia 17:7-8

2019-10-12T10:38:40+07:00